Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Kisah Cinta Kupu Kupu

Di sebuah hutan Edelweisse, ada Kumbang, Larva dan Kupu-kupu, mereka adalah teman sejati. Kumbang adalah hewan yang sangat jahil, dia sering menjahili binatang-binatang lainnya, walau pun dia jahil tapi penyayang dan paling gagah, sedangkan Larva hewan yang setia kawan, tidak suka merusak kebahagian teman, sedangkan Kupu-kupu hewan yang paling indah.
Suatu hari saat Kumbang, Larva dan Kupu-kupu sedang bermain di pinggiran danau, ada segerombol semut yang menghampiri mereka bertiga.
“apa yang kalian perbuat di sini?” Tanya salah seorang prajurit semut.
“sedang bermain” jawab Kumbang dengan santai.
“hey siapakah dia?” Tanya sang prajurit semut itu sambil menunjuk salah satu dari mereka.
“dia adalah Larva, temanku” jawab Kumbang.
“hahahaha, dia sangat jelek!” ujar prajurit semut itu, Kumbang hampir marah mendengar ledekan semut, lalu Kumbang mengusir semut itu, grombolan semut itu pergi.
Karena mendengar ejekan semut, Larva merasa sedih, ia pergi ke pinggir danau, dia berkaca di air danau tersebut.
“aku adalah hewan yang sangat jelek” ujar hati Larva sambil menangis.
Melihat sahabatnya itu menangis di pinggir sungai, Kumbang dan Kupu-kupu menghampiri Larva.
“Larva? kenapa kau bersedih?” Tanya Kupu-kupu yang terbang di sekitar Larva dan Kumbang.
“aku merasa sedih pu, karena aku ini jelek!” seru Larva.
“jangan bersedihlah, semut itu hanya iri padamu, karena kau lebih cantik darinya, iya kan Kupu-kupu?” ujar Kumbang.
“iya itu benar sekali va” jawab Kupu-kupu.
“senyum va, kalau kau terus bersedih kau akan jelek” ujar Kumbang, Larva tersenyum.
“nah kau tampak indah sekali va” ujar Kumbang dan Kupu-kupu.
Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah, tak jarang kalau serangga-serangga lainnya banyak yang suka pada Kupu-kupu, terutama Kumbang, Kumbang sangat mencintai Kupu-kupu, tapi Kupu-kupu tidak mencintai Kumbang, dia hanya menganggap teman saja, tetapi Larvalah yang mencintai Kumbang sepenuh hati.
Suatu hari Kumbang dan Larva sedang berdua di bawah batang bunga mawar, hati Larva sangat senang bisa berduaan saja dengan Kumbang tapi. “va, aku mencintaimu” ujar Kumbang, Larva tersenyum lebar dan hatinya merasa senang. “aku mencintaimu” kata itu keluar lagi dari mulut Kumbang.
“kira-kira Kupu-kupu akan senang saat aku berbicara seperti itu?” ujar Kumbang dengan tersenyum melihat Larva, hati Larva hancur.
“andaikan aku cantik seperti Kupu-kupu pasti Kumbang akan mencintaiku” ujar hati Larva.
Larva menangis ia tak bisa menahan sakit hatinya.
“kau kenapa Larva?” Tanya Kumbang.
“tidak apa-apa, aku hanya bahagia melihatmu bahagia” jawab Larva menahan perihnya luka di hatinya.
“oh Larva, kau memang sahabatku yang paling baik.”
Suatu hari Kumbang, Larva, dan Kupu-kupu sedang berkumpul di bawah tanaman helianthus Kumbang menghampiri kupu-kupu yang hinggap di tanah.
“Kupu-kupu, kau itu sangat indah” ujar Kumbang.
“terima kasih Kumbang” jawab Kupu-kupu.
“Kupu-kupu, aku sangat mencintaimu” ujar Kumbang, hati Larva perih seperti ada puluhan jarum yang menusuk hatinya. Larva pergi meninggalkan mereka berdua. Di sepanjang jalan Larva terus bersedih.
“Kumbang.. maafkan aku, aku tidak mencintaimu Kumbang, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, dan aku juga tidak bisa mencintai orang lain, karena aku dua hari lagi akan meninggalkan kalian semua”
“kenapa kau.. kau akan pergi?”
“karena jenis Kupu-kupu sepertiku aku akan mati” ujar Kupu-kupu pergi meninggalkan Kumbang. Badan Kumbang kaku, lidah Kumbang terasa pahit, dan jelas Kumbang patah hati.
“kau harus tahu sebenarnya Larva itu mencintaimu Kumbang” ujar Kupu-kupu kepada Kumbang, Kumbang terdiam.
“oh Larva, maafkan aku aku telah menyakiti hatimu, aku tak tahu kalau kau suka padaku” ujar hati Kumbang.
Ternyata benar, Kupu-kupu itu mati, Kumbang merasa sedih. Larva menyangka Kupu-kupu dan Kumbang saling mencintai, Larva menjahui mereka hampir satu minggu lebih Larva tak muncul di daerah hutan Edelweisse, Kumbang merasa kesepian, Kumbang mencari-cari Larva untuk minta maaf, tapi Larva tak muncul-muncul. Sama seperti ulat lainnya, Larva bermetamorfosis menjadi kupu kupu, saat Larva yang telah menjadi Kupu-kupu ia berkeliling di hutan Edelweisse, semua serangga memuji Larva, mereka tak menyangka kalau Larva akan secantik ini, terutama semut yang dulu pernah mengejek Larva.
Larva pergi ke suatu tempat di mana waktu itu dia bersama Kumbang dan Kupu-kupu bermain, ia melihat seekor serangga yang sedang sendirian, Kupu-kupu mengampirinya.
“Kumbang..” ujar Larva yang menjadi Kupu-kupu itu.
“Kupu-kupu?” kata Kumbang.
“Kumbang aku Larva, sekarang aku sekarang sudah menjadi Kupu-kupu” ujar Kupu-kupu.
“kau Larva?”
“iya”
“oh Larva, kau tambah cantik va, kenapa aku baru menyadari sekarang kalau kau secantik ini?”
“hehe..”
“Kupu-kupu sekarang namamu” ujar Kumbang, Larva hanya tersenyum dan merasa bahagia karena Kumbang memujinya.
“oh Larva, kenapa kau tak pernah bilang dari dulu, kalau kau suka sama aku?” Tanya Kumbang.
“karena aku tak ingin merusak kebahagiaanmu, dan aku tak pantas untukmu, karena aku jelek” jawab Kupu-kupu.
“kau cantik, kau baik, kau pantas jadi milikku, apa kau masih mencintaiku?” tanya Kumbang.
“masih” ujar Kupu-kupu.
“kau telah menyempurnakan hati ini Pu” ujar Kumbang kepada Kupu-kupu, Larva hanya menjawab dengan senyum manisnya.
“Kupu-kupu, apakah kau akan mati seperti Kupu-kupu lainnya?” Tanya Kumbang dengan nada rendah.
“tentu saja, semua makhluk hidup akan mati!” seru Kupu-kupu, kini hati Kupu-kupu sangat senang karena ia bisa dicintai Kumbang serangga pujaan hatinya.
“ku harap kau tidak akan meninggalkan aku” ujar Kumbang kepada Kupu kupu, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Di sebuah hutan Edelweisse, ada Kumbang, Larva dan Kupu-kupu, mereka adalah teman sejati. Kumbang adalah hewan yang sangat jahil, dia sering menjahili binatang-binatang lainnya, walau pun dia jahil tapi penyayang dan paling gagah, sedangkan Larva hewan yang setia kawan, tidak suka merusak kebahagian teman, sedangkan Kupu-kupu hewan yang paling indah.
Suatu hari saat Kumbang, Larva dan Kupu-kupu sedang bermain di pinggiran danau, ada segerombol semut yang menghampiri mereka bertiga.
“apa yang kalian perbuat di sini?” Tanya salah seorang prajurit semut.
“sedang bermain” jawab Kumbang dengan santai.
“hey siapakah dia?” Tanya sang prajurit semut itu sambil menunjuk salah satu dari mereka.
“dia adalah Larva, temanku” jawab Kumbang.
“hahahaha, dia sangat jelek!” ujar prajurit semut itu, Kumbang hampir marah mendengar ledekan semut, lalu Kumbang mengusir semut itu, grombolan semut itu pergi.
Karena mendengar ejekan semut, Larva merasa sedih, ia pergi ke pinggir danau, dia berkaca di air danau tersebut.
“aku adalah hewan yang sangat jelek” ujar hati Larva sambil menangis.
Melihat sahabatnya itu menangis di pinggir sungai, Kumbang dan Kupu-kupu menghampiri Larva.
“Larva? kenapa kau bersedih?” Tanya Kupu-kupu yang terbang di sekitar Larva dan Kumbang.
“aku merasa sedih pu, karena aku ini jelek!” seru Larva.
“jangan bersedihlah, semut itu hanya iri padamu, karena kau lebih cantik darinya, iya kan Kupu-kupu?” ujar Kumbang.
“iya itu benar sekali va” jawab Kupu-kupu.
“senyum va, kalau kau terus bersedih kau akan jelek” ujar Kumbang, Larva tersenyum.
“nah kau tampak indah sekali va” ujar Kumbang dan Kupu-kupu.
Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah, tak jarang kalau serangga-serangga lainnya banyak yang suka pada Kupu-kupu, terutama Kumbang, Kumbang sangat mencintai Kupu-kupu, tapi Kupu-kupu tidak mencintai Kumbang, dia hanya menganggap teman saja, tetapi Larvalah yang mencintai Kumbang sepenuh hati.
Suatu hari Kumbang dan Larva sedang berdua di bawah batang bunga mawar, hati Larva sangat senang bisa berduaan saja dengan Kumbang tapi. “va, aku mencintaimu” ujar Kumbang, Larva tersenyum lebar dan hatinya merasa senang. “aku mencintaimu” kata itu keluar lagi dari mulut Kumbang.
“kira-kira Kupu-kupu akan senang saat aku berbicara seperti itu?” ujar Kumbang dengan tersenyum melihat Larva, hati Larva hancur.
“andaikan aku cantik seperti Kupu-kupu pasti Kumbang akan mencintaiku” ujar hati Larva.
Larva menangis ia tak bisa menahan sakit hatinya.
“kau kenapa Larva?” Tanya Kumbang.
“tidak apa-apa, aku hanya bahagia melihatmu bahagia” jawab Larva menahan perihnya luka di hatinya.
“oh Larva, kau memang sahabatku yang paling baik.”
Suatu hari Kumbang, Larva, dan Kupu-kupu sedang berkumpul di bawah tanaman helianthus Kumbang menghampiri kupu-kupu yang hinggap di tanah.
“Kupu-kupu, kau itu sangat indah” ujar Kumbang.
“terima kasih Kumbang” jawab Kupu-kupu.
“Kupu-kupu, aku sangat mencintaimu” ujar Kumbang, hati Larva perih seperti ada puluhan jarum yang menusuk hatinya. Larva pergi meninggalkan mereka berdua. Di sepanjang jalan Larva terus bersedih.
“Kumbang.. maafkan aku, aku tidak mencintaimu Kumbang, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, dan aku juga tidak bisa mencintai orang lain, karena aku dua hari lagi akan meninggalkan kalian semua”
“kenapa kau.. kau akan pergi?”
“karena jenis Kupu-kupu sepertiku aku akan mati” ujar Kupu-kupu pergi meninggalkan Kumbang. Badan Kumbang kaku, lidah Kumbang terasa pahit, dan jelas Kumbang patah hati.
“kau harus tahu sebenarnya Larva itu mencintaimu Kumbang” ujar Kupu-kupu kepada Kumbang, Kumbang terdiam.
“oh Larva, maafkan aku aku telah menyakiti hatimu, aku tak tahu kalau kau suka padaku” ujar hati Kumbang.
Ternyata benar, Kupu-kupu itu mati, Kumbang merasa sedih. Larva menyangka Kupu-kupu dan Kumbang saling mencintai, Larva menjahui mereka hampir satu minggu lebih Larva tak muncul di daerah hutan Edelweisse, Kumbang merasa kesepian, Kumbang mencari-cari Larva untuk minta maaf, tapi Larva tak muncul-muncul. Sama seperti ulat lainnya, Larva bermetamorfosis menjadi kupu kupu, saat Larva yang telah menjadi Kupu-kupu ia berkeliling di hutan Edelweisse, semua serangga memuji Larva, mereka tak menyangka kalau Larva akan secantik ini, terutama semut yang dulu pernah mengejek Larva.
Larva pergi ke suatu tempat di mana waktu itu dia bersama Kumbang dan Kupu-kupu bermain, ia melihat seekor serangga yang sedang sendirian, Kupu-kupu mengampirinya.
“Kumbang..” ujar Larva yang menjadi Kupu-kupu itu.
“Kupu-kupu?” kata Kumbang.
“Kumbang aku Larva, sekarang aku sekarang sudah menjadi Kupu-kupu” ujar Kupu-kupu.
“kau Larva?”
“iya”
“oh Larva, kau tambah cantik va, kenapa aku baru menyadari sekarang kalau kau secantik ini?”
“hehe..”
“Kupu-kupu sekarang namamu” ujar Kumbang, Larva hanya tersenyum dan merasa bahagia karena Kumbang memujinya.
“oh Larva, kenapa kau tak pernah bilang dari dulu, kalau kau suka sama aku?” Tanya Kumbang.
“karena aku tak ingin merusak kebahagiaanmu, dan aku tak pantas untukmu, karena aku jelek” jawab Kupu-kupu.
“kau cantik, kau baik, kau pantas jadi milikku, apa kau masih mencintaiku?” tanya Kumbang.
“masih” ujar Kupu-kupu.
“kau telah menyempurnakan hati ini Pu” ujar Kumbang kepada Kupu-kupu, Larva hanya menjawab dengan senyum manisnya.
“Kupu-kupu, apakah kau akan mati seperti Kupu-kupu lainnya?” Tanya Kumbang dengan nada rendah.
“tentu saja, semua makhluk hidup akan mati!” seru Kupu-kupu, kini hati Kupu-kupu sangat senang karena ia bisa dicintai Kumbang serangga pujaan hatinya.
“ku harap kau tidak akan meninggalkan aku” ujar Kumbang kepada Kupu kupu, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.

Cerpen Sang Satria Hati

Hembusan angin yang cukup kencang, terpaan ombak pantai Matras pulau Bangka, membawa cintaku kembali, yang dulu sempat pergi entah ke mana.
“hai?” sapa seorang remaja laki-aki. Aku hanya melihat arah sumber suara itu.
“kau masih ingat denganku?” Tanya remaja itu lagi.
“maaf tapi aku lupa” jawab aku.
“dulu kita pertama kali bertemu di pelabuhan muntok, kita menyembrang laut menaikki kapal yang sama, kau duduk di belakang aku, kita bercanda riang” ujar laki-aki itu.
“kau.. kau Satrio?” pekikku.
“iya Aci aku Satrio” jawab Satrio.
“Satrio, kau tahu, aku selama ini merindukanmu” kataku sambil memeluk Satrio, Satrio pun memelukku.
“aku telah mencarimu kemana-mana ci, tapi kau sukar dicari, sekarang, kita bertemu di sini” ujar Satrio yang hampir menangis.
Pertemuan yang mengejutkan itu membuat kami menangis karena terharu.
“aku tak pernah menyangka aku akan bertemu denganmu lagi ci” ujar satrio.
“kenapa?” Tanyaku.
“karena kau sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dari aku” jawab Satrio.
“aku tak memiliki kekasih, karena aku hanya mencintai seorang pangeran yang tampan” ujar aku sambil memegang tangan Satrio.
“siapakah dia?” Tanya Satrio.
“kau..” jawabku.
“sudah hapus air matamu ci, jika kau menangis, kecantikanmu akan hilang” ujar Satrio sambil mengusap air mataku, aku hanya tersenyum.
“kau sekarang tampak cantik ci” kata Satrio sambil memegang wajahku.
“masa sih?” Tanyaku dengan tersipu.
“jerawatmu sekarang sudah hilang” jawab Satrio.
Satrio menarik tanganku ke sebuah batu yang cukup besar, tapi tak terlalu tinggi hanya sebatas lutut, dan mengajak ku duduk di atasnya.
“ci kau masih ingat masa-masa kita dulu di kapal?” Tanya Satrio.
“ingat sekali Rio, kau dulu malu malu mengajakku bermain” ujarku sambil tertawa kecil.
“hehehe, karena aku nervous melihat gadis secantikmu” ujar Satrio tertawa kecil.
“kau hampir jatuh saat kau ingin ke luar sambil membawa pop mie” ujar Satrio melanjutkan.
“dan kau menyanyikan lagu ‘bidadari’ di atas luar kapal saat malam harinya, saat jam 11 malam kau dan Ayahmu meminta nomor hp-ku” kataku sambil tersenyum.
“hehehe, saat aku bilang ‘aku mencintaimu’ kau hanya berdiam diri” ujar Satrio dengan muka ditekuk.
“aku pikir kau becanda saja denganku, ternyata kau serius, aku menyesal telah menyia-nyiakan momen itu” kataku dengan nada merendah.
“aku ingin kau mengulanginya lagi, tapi aku sadar, bahwa di usiamu sekarang pasti kau sudah memiliki kekasih” ujarku dan berdiri di atas tepian air pantai yang disertai ombak-ombak yang berayun-ayun.
“kau benar, aku sekarang memiliki kekasih” jawab Satrio.
Tenggorokan terasa sakit saat menelan air ludah, lidah menjadi pahit, rasanya hati ini remuk, aku diam tak berkata satu kata pun.
“kekasihku Allah, Tuhan yang menciptakan semua ini” ujar Satrio dan menghampiriku, aku menoleh ke arah Satrio.
“dan hanya satu bidadari yang aku cintai” kata Satrio meneruskan perkataannya.
“siapa?” tanyaku.
“bidadari itu di depan mataku, ia berdiri di depanku” ujar Satrio, aku tersenyum senang.
Saat itu Satrio memegang tanganku, aku merasa kaku tak bisa berkutik, mataku terpanah ke arah mata Satrio yang hitam jernih.
“aku mencintaimu, sangat mencintaimu” ujar Satrio menatap mataku tajam, aku tambah kaku seperti patung.
“bisakah kau.. kau ulangi lagi?” Tanyaku gugup.
“aku sangat mencintaimu!” seru satrio dengan suara yang sedikit keras, aku memeluk Satrio, kita saling berpelukan, dan aku menangis.
“aku juga mencitaimu sat” ujarku.
Saat itu hatiku mersa senang seperti tak ada beban di pikiran ini, sekarang bumi merasa lebih bewarna, dan pantai itu membawaku ke dalam sebuah ciuman yang begitu berarti, Satrio orang yang selama ini satria yang selalu menjaga hatiku yang sempat hilang kini kembali pulang dalam kehidupanku.
Hembusan angin yang cukup kencang, terpaan ombak pantai Matras pulau Bangka, membawa cintaku kembali, yang dulu sempat pergi entah ke mana.
“hai?” sapa seorang remaja laki-aki. Aku hanya melihat arah sumber suara itu.
“kau masih ingat denganku?” Tanya remaja itu lagi.
“maaf tapi aku lupa” jawab aku.
“dulu kita pertama kali bertemu di pelabuhan muntok, kita menyembrang laut menaikki kapal yang sama, kau duduk di belakang aku, kita bercanda riang” ujar laki-aki itu.
“kau.. kau Satrio?” pekikku.
“iya Aci aku Satrio” jawab Satrio.
“Satrio, kau tahu, aku selama ini merindukanmu” kataku sambil memeluk Satrio, Satrio pun memelukku.
“aku telah mencarimu kemana-mana ci, tapi kau sukar dicari, sekarang, kita bertemu di sini” ujar Satrio yang hampir menangis.
Pertemuan yang mengejutkan itu membuat kami menangis karena terharu.
“aku tak pernah menyangka aku akan bertemu denganmu lagi ci” ujar satrio.
“kenapa?” Tanyaku.
“karena kau sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dari aku” jawab Satrio.
“aku tak memiliki kekasih, karena aku hanya mencintai seorang pangeran yang tampan” ujar aku sambil memegang tangan Satrio.
“siapakah dia?” Tanya Satrio.
“kau..” jawabku.
“sudah hapus air matamu ci, jika kau menangis, kecantikanmu akan hilang” ujar Satrio sambil mengusap air mataku, aku hanya tersenyum.
“kau sekarang tampak cantik ci” kata Satrio sambil memegang wajahku.
“masa sih?” Tanyaku dengan tersipu.
“jerawatmu sekarang sudah hilang” jawab Satrio.
Satrio menarik tanganku ke sebuah batu yang cukup besar, tapi tak terlalu tinggi hanya sebatas lutut, dan mengajak ku duduk di atasnya.
“ci kau masih ingat masa-masa kita dulu di kapal?” Tanya Satrio.
“ingat sekali Rio, kau dulu malu malu mengajakku bermain” ujarku sambil tertawa kecil.
“hehehe, karena aku nervous melihat gadis secantikmu” ujar Satrio tertawa kecil.
“kau hampir jatuh saat kau ingin ke luar sambil membawa pop mie” ujar Satrio melanjutkan.
“dan kau menyanyikan lagu ‘bidadari’ di atas luar kapal saat malam harinya, saat jam 11 malam kau dan Ayahmu meminta nomor hp-ku” kataku sambil tersenyum.
“hehehe, saat aku bilang ‘aku mencintaimu’ kau hanya berdiam diri” ujar Satrio dengan muka ditekuk.
“aku pikir kau becanda saja denganku, ternyata kau serius, aku menyesal telah menyia-nyiakan momen itu” kataku dengan nada merendah.
“aku ingin kau mengulanginya lagi, tapi aku sadar, bahwa di usiamu sekarang pasti kau sudah memiliki kekasih” ujarku dan berdiri di atas tepian air pantai yang disertai ombak-ombak yang berayun-ayun.
“kau benar, aku sekarang memiliki kekasih” jawab Satrio.
Tenggorokan terasa sakit saat menelan air ludah, lidah menjadi pahit, rasanya hati ini remuk, aku diam tak berkata satu kata pun.
“kekasihku Allah, Tuhan yang menciptakan semua ini” ujar Satrio dan menghampiriku, aku menoleh ke arah Satrio.
“dan hanya satu bidadari yang aku cintai” kata Satrio meneruskan perkataannya.
“siapa?” tanyaku.
“bidadari itu di depan mataku, ia berdiri di depanku” ujar Satrio, aku tersenyum senang.
Saat itu Satrio memegang tanganku, aku merasa kaku tak bisa berkutik, mataku terpanah ke arah mata Satrio yang hitam jernih.
“aku mencintaimu, sangat mencintaimu” ujar Satrio menatap mataku tajam, aku tambah kaku seperti patung.
“bisakah kau.. kau ulangi lagi?” Tanyaku gugup.
“aku sangat mencintaimu!” seru satrio dengan suara yang sedikit keras, aku memeluk Satrio, kita saling berpelukan, dan aku menangis.
“aku juga mencitaimu sat” ujarku.
Saat itu hatiku mersa senang seperti tak ada beban di pikiran ini, sekarang bumi merasa lebih bewarna, dan pantai itu membawaku ke dalam sebuah ciuman yang begitu berarti, Satrio orang yang selama ini satria yang selalu menjaga hatiku yang sempat hilang kini kembali pulang dalam kehidupanku.

Cerpen Mimpi

“ah, mimpi itu hanya bunganya tidur, dan gak ada di kenyataan hidup kita”
Begitulah komentar Anis setelah mendengarkan cerita mimpi yang aku alami semalam tadi. Entalah, aku merasakan ada sesuatu dalam mimpiku dan mimpi itu bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuat pikiranku sedikit risau, mimpi yang membuat hatiku seakan penuh sebak, bertanya-tanya. “ada apa dengan mimpi itu dan kenapa mimpiku itu datang dengan hal kisah yang sama?”
“hufthh…” aku menghela napas dalam-dalam, dadaku terasa sempit setiap kali memikirkan mimpi itu.
“Ren, Reni, kamu denger cerita aku gak sih?” tanya Anis mengoyak-ngoyak pundakku.
“oh maaf, aku gak denger”
“ih, aku udah cerita panjang lebar dari timur sampai barat tapi kamu gak dengerin, bikin cape aja” sewot Anis mengerutkan halisnya.
“iya maaf, emangnya kamu ngebahas soal apa sih?” tanyaku.
“gak ada siaran ulang, udah ah aku pulang duluan ya” katanya seraya menyangkil tasnya ke pundak lalu berselosor ke seberang jalan dan tubuh mungilnya hilang di balik pintu mobil taksi. Kini tinggallah aku sendiri selang beberapa menit aku pun pergi meninggalkan halte.
Malam semakin sunyi ku lirik jam dinding sudah mendekati angka sepuluh, kemudian ku rentangkan tubuhku ke kasur karena merasa lelah, mataku pun mulai sayup tanpa sadar aku pun sudah terlelap.
Aku berjalan di atas rumput yang basah terkena embun setapak demi setapak kaki telanjangku menelusuri pinggiran danau yang jernih airnya di sekelilingnya terdapat hamparan bunga-bunga yang beraneka ragam warnanya, kemudian telingaku mendengar suara anak kecil memanggil namaku dengan manja dan setelahnya aku mendengar seperti suara bayi yang sedang mengoceh, dengan penasaran aku ikuti suara itu dan berusaha mencarinya. Akan tetapi, yang ku temui bukanlah anak kecil dan seorang bayi melainkan seorang lelaki muda yang tersenyum manis memanggil namaku belum sempat ku bertanya siapa dia, sosok lelaki tampan itu sudah menghilang di balik kawah putih.
“mimpi itu datang lagi.” kataku dengan tatapan kosong ke arah taman di kampus.
“aduh Ren, udah lima kali kamu bilang seperti itu ke aku, selalu mimpi, mimpi dan mimpi terus yang kamu bilang, simak ya baik-baik Mimpi itu gak nyata, mimpi itu hanya bunganya tidur!! Jadi buat apa kamu harus buang-buang energi untuk mikirin sebuah mimpi”
“tapi nis, kenapa mimpi itu selalu datang berkali-kali dengan kisah yang sama? aku bingung dan aku gak tahu kenapa aku gelisah dengan mimpi itu” jelasku dengan bola mata yang berkaca-kaca, Anis memelukku mungkin dia merasa iba melihatku seperti ini.
“oh iya, aku lupa Pak Seno kan nyuruh aku buat panggil kamu” kata Anis pasang wajah pilon.
“kenapa?”
“gak tahu, coba aja kamu samperin ke kantornya!”
Dengan penasaran langkah kecilku menuju ruang Pak Seno.
“permisi pak, Bapak manggil saya?” tanyaku setelah sampai ke meja kerjanya.
“iya, ada yang mau ketemu sama kamu” katanya sambil menunjuk ke arah ruang tamu.
Di sana aku lihat seorang wanita dengan blus panjang di tubuhnya, aku sama sekali tidak mengenali wanita itu, meskipun begitu aku tetap menghampirinya.
“hai, kamu Reni ya?” tanya wanita itu.
Aku hanya menganggukkan kepala merasa bingung.
“perkenalkan, saya Tante Dewi” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“iya Tante, ini ada apa ya?” tanyaku sedikit bingung.
“nanti saja Tante ceritain di taksi”
“mungkin kamu udah gak inget sama Tante dan juga Reno anak Tante. Terakhir waktu Reno berusia tujuh tahun, Tante dan sekeluarga pindah rumah dari bogor ke Manado, dan sekarang Reno sedang opname di rumah sakit, sejak Ayahnya meninggal empat tahun yang lalu pola makan Reno berkurang dan sekarang…” Tante Dewi memutuskan ceritanya karena Tante Dewi menangis, tapi aku hanya diam merasa bingung dan heran tentang Tante Dewi dan anaknya.
Tante Dewi mengajakku masuk ke lorong-lorong rumah sakit setelah mendekati ruang opname itu, Tante Dewi menyuruhku untuk ikut masuk ke kamar di mana anaknya sedang terbaring tak berdaya, aku lihat dan aku dengar Tante Dewi berbisik ke telinga anaknya sambil berlinangan air mata.
“Reno, siapa yang Mama bawa untuk kamu, dia adalah Reni adik bayi yang lucu yang selama ini kamu sayangi”
Dengan langkah penasaran aku pun menghampiri tubuh lemah itu, betapa terkejutnya aku setelah jelas menatap wajahnya. Wajah itu sama persis seperti sosok lelaki muda yang ada di mimpiku.
“mustahil, ini pasti mimpi!” kataku mencubit pipiku sendiri. “aw, sakit!” rintihku, tanpa sengaja mataku melihat lembaran foto di meja ku biarkan tanganku meraihnya ku tatap foto itu dengan terkejut aku berkata, “ini aku waktu bayi, kok bisa ada di sini?”
Lalu aku putar kertas foto itu ke belakang, di sana ada sebuah tulisan yang isinya.
“adik bayi yang lucu Reno sayang dede Reni.”
Rupanya waktu itu keluarga Reno tinggal di sebelah rumahku, dan kemudian harus pindah saat Reno berusia tujuh tahun dan aku berusia enam bulan pantas kalau aku tidak ingat apa-apa.
Sekarang aku sering menjenguk Reno sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar putih karena ku yakin dengan aroma wangi bunga mawar putih bisa memulihkan suasana senyap di ruang kamar ini, saat merapikan dan menata bunga-bunga itu aku dengar Reno memanggil namaku, sontak aku pun menuju pembaringannya dan menggenggam tangannya.
“Reno, kamu udah sadar?” nihil, wajah pucat itu belum juga tersadar tak lama kemudian jari-jari itu bergerak aku lihat bola matanya terbuka dengan bibir yang masih kelu dia bertanya.
“kamu siapa?”
“aku Reni Adik bayi yang lucu dan menggemaskan..” jawabku tersenyum.
“Reni, kamu udah gak lucu tapi kamu cantik” katanya, tangannya berusaha menyentuh wajahku dan dia bilang.
“aku sayang kamu Reni, Adik bayi”
“aku bukan Adik bayi lagi, tapi aku udah menjadi wanita dewasa”
“biarlah, karena kamu tetap Adik bayi yang aku sayang”
“ah, mimpi itu hanya bunganya tidur, dan gak ada di kenyataan hidup kita”
Begitulah komentar Anis setelah mendengarkan cerita mimpi yang aku alami semalam tadi. Entalah, aku merasakan ada sesuatu dalam mimpiku dan mimpi itu bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuat pikiranku sedikit risau, mimpi yang membuat hatiku seakan penuh sebak, bertanya-tanya. “ada apa dengan mimpi itu dan kenapa mimpiku itu datang dengan hal kisah yang sama?”
“hufthh…” aku menghela napas dalam-dalam, dadaku terasa sempit setiap kali memikirkan mimpi itu.
“Ren, Reni, kamu denger cerita aku gak sih?” tanya Anis mengoyak-ngoyak pundakku.
“oh maaf, aku gak denger”
“ih, aku udah cerita panjang lebar dari timur sampai barat tapi kamu gak dengerin, bikin cape aja” sewot Anis mengerutkan halisnya.
“iya maaf, emangnya kamu ngebahas soal apa sih?” tanyaku.
“gak ada siaran ulang, udah ah aku pulang duluan ya” katanya seraya menyangkil tasnya ke pundak lalu berselosor ke seberang jalan dan tubuh mungilnya hilang di balik pintu mobil taksi. Kini tinggallah aku sendiri selang beberapa menit aku pun pergi meninggalkan halte.
Malam semakin sunyi ku lirik jam dinding sudah mendekati angka sepuluh, kemudian ku rentangkan tubuhku ke kasur karena merasa lelah, mataku pun mulai sayup tanpa sadar aku pun sudah terlelap.
Aku berjalan di atas rumput yang basah terkena embun setapak demi setapak kaki telanjangku menelusuri pinggiran danau yang jernih airnya di sekelilingnya terdapat hamparan bunga-bunga yang beraneka ragam warnanya, kemudian telingaku mendengar suara anak kecil memanggil namaku dengan manja dan setelahnya aku mendengar seperti suara bayi yang sedang mengoceh, dengan penasaran aku ikuti suara itu dan berusaha mencarinya. Akan tetapi, yang ku temui bukanlah anak kecil dan seorang bayi melainkan seorang lelaki muda yang tersenyum manis memanggil namaku belum sempat ku bertanya siapa dia, sosok lelaki tampan itu sudah menghilang di balik kawah putih.
“mimpi itu datang lagi.” kataku dengan tatapan kosong ke arah taman di kampus.
“aduh Ren, udah lima kali kamu bilang seperti itu ke aku, selalu mimpi, mimpi dan mimpi terus yang kamu bilang, simak ya baik-baik Mimpi itu gak nyata, mimpi itu hanya bunganya tidur!! Jadi buat apa kamu harus buang-buang energi untuk mikirin sebuah mimpi”
“tapi nis, kenapa mimpi itu selalu datang berkali-kali dengan kisah yang sama? aku bingung dan aku gak tahu kenapa aku gelisah dengan mimpi itu” jelasku dengan bola mata yang berkaca-kaca, Anis memelukku mungkin dia merasa iba melihatku seperti ini.
“oh iya, aku lupa Pak Seno kan nyuruh aku buat panggil kamu” kata Anis pasang wajah pilon.
“kenapa?”
“gak tahu, coba aja kamu samperin ke kantornya!”
Dengan penasaran langkah kecilku menuju ruang Pak Seno.
“permisi pak, Bapak manggil saya?” tanyaku setelah sampai ke meja kerjanya.
“iya, ada yang mau ketemu sama kamu” katanya sambil menunjuk ke arah ruang tamu.
Di sana aku lihat seorang wanita dengan blus panjang di tubuhnya, aku sama sekali tidak mengenali wanita itu, meskipun begitu aku tetap menghampirinya.
“hai, kamu Reni ya?” tanya wanita itu.
Aku hanya menganggukkan kepala merasa bingung.
“perkenalkan, saya Tante Dewi” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“iya Tante, ini ada apa ya?” tanyaku sedikit bingung.
“nanti saja Tante ceritain di taksi”
“mungkin kamu udah gak inget sama Tante dan juga Reno anak Tante. Terakhir waktu Reno berusia tujuh tahun, Tante dan sekeluarga pindah rumah dari bogor ke Manado, dan sekarang Reno sedang opname di rumah sakit, sejak Ayahnya meninggal empat tahun yang lalu pola makan Reno berkurang dan sekarang…” Tante Dewi memutuskan ceritanya karena Tante Dewi menangis, tapi aku hanya diam merasa bingung dan heran tentang Tante Dewi dan anaknya.
Tante Dewi mengajakku masuk ke lorong-lorong rumah sakit setelah mendekati ruang opname itu, Tante Dewi menyuruhku untuk ikut masuk ke kamar di mana anaknya sedang terbaring tak berdaya, aku lihat dan aku dengar Tante Dewi berbisik ke telinga anaknya sambil berlinangan air mata.
“Reno, siapa yang Mama bawa untuk kamu, dia adalah Reni adik bayi yang lucu yang selama ini kamu sayangi”
Dengan langkah penasaran aku pun menghampiri tubuh lemah itu, betapa terkejutnya aku setelah jelas menatap wajahnya. Wajah itu sama persis seperti sosok lelaki muda yang ada di mimpiku.
“mustahil, ini pasti mimpi!” kataku mencubit pipiku sendiri. “aw, sakit!” rintihku, tanpa sengaja mataku melihat lembaran foto di meja ku biarkan tanganku meraihnya ku tatap foto itu dengan terkejut aku berkata, “ini aku waktu bayi, kok bisa ada di sini?”
Lalu aku putar kertas foto itu ke belakang, di sana ada sebuah tulisan yang isinya.
“adik bayi yang lucu Reno sayang dede Reni.”
Rupanya waktu itu keluarga Reno tinggal di sebelah rumahku, dan kemudian harus pindah saat Reno berusia tujuh tahun dan aku berusia enam bulan pantas kalau aku tidak ingat apa-apa.
Sekarang aku sering menjenguk Reno sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar putih karena ku yakin dengan aroma wangi bunga mawar putih bisa memulihkan suasana senyap di ruang kamar ini, saat merapikan dan menata bunga-bunga itu aku dengar Reno memanggil namaku, sontak aku pun menuju pembaringannya dan menggenggam tangannya.
“Reno, kamu udah sadar?” nihil, wajah pucat itu belum juga tersadar tak lama kemudian jari-jari itu bergerak aku lihat bola matanya terbuka dengan bibir yang masih kelu dia bertanya.
“kamu siapa?”
“aku Reni Adik bayi yang lucu dan menggemaskan..” jawabku tersenyum.
“Reni, kamu udah gak lucu tapi kamu cantik” katanya, tangannya berusaha menyentuh wajahku dan dia bilang.
“aku sayang kamu Reni, Adik bayi”
“aku bukan Adik bayi lagi, tapi aku udah menjadi wanita dewasa”
“biarlah, karena kamu tetap Adik bayi yang aku sayang”

Cerpen Love In SMP (Part 1)

Namaku Velin Mutiaranty. Umurku baru 13 tahun, bisa dibilang ABG atau remaja. Saat itu aku sekolah di SMP terfavorit di daerah rumahku. Awalnya percaya gak percaya, kalau aku masuk ke SMP itu. Mama, papa aku sangat bangga, dan juga keluarga yang lainnya. Saat itu aku kebagian kelas terakhir, yaitu 7-H. Ya orangnya pada baik-baik sih, tapi ada juga yang super super sok di kelas. Mereka merasa kalau mereka itu terkeren di kelas, terpinter, tergaul dan tercantik. Mungkin, memang sih salah satu dari mereka ada yang cantik, pinter dan baik. Tapi yang aku gak suka dari mereka adalah mereka itu suka membeda-bedakan teman, mencaci-maki teman dan masih banyak lagi yang buat aku ilfil di kelas 7-H.
Tapi saat di kelas tersebut, aku kenalan sama anak cowok yang pintar, keren, ganteng sih lumayan. Nama dia adalah Randy, ya kadang ngeselin juga sih anaknya. Tapi saat itu aku merasa senang waktu kenalan dengan dia, tangan bergetar, mulut tak tahu mau bilang apa.
Kata sahabat aku yang namanya Sherin, “sepertinya, kamu merasakan yang beda saat ketemu si Randy yaa, Velin?”
aku menjawab, “yaa benar, aku merasa senang jika ketemu dia sekaligus malu. Mungkin aku suka sama dia yaa, Sher.”
Lalu Sherin menjawab pertanyaanku, “Sepertinya sih iya, ciee yang ketemu pangerannya saat di SMP” begitulah kata sahabat dekatku saat di SMP.
Bel pelajaran pun berbunyi terdengar oleh semua siswa, saatnya pulang ke rumah. Akhirnya aku pulang dijemput sama saudaraku. Saat di rumah, aku kepikiran terus tentang Randy. Aku langsung mengaktifkan laptop, dan membuka facebook untuk melihat lebih jelas lagi profil tentang dia. Randy termasuk anak yang gaul sama temannya, dan tidak terlalu banyak menyimpan foto di facebooknya, yaa mungkin dia adalah anak lelaki beda dengan anak perempuan. Saat itu aku tak begitu mengharapkan dia, karena aku tahu dia anaknya keren dan banyak disukai sama teman perempuan lainnya.
Dan saat itu, aku mengikuti Bimbel di dekat sekolah, dan ternyata Randy pun mengikutinya. Mulai dari situ aku dekat dengan Randy. Saling dekatnya, aku menganggap dia sebagai sahabat lelakiku dan tak lebih dari itu. Aku masih teringat waktu Randy curhat tentang anak perempuan yang disukai dia, nama anak itu adalah Syifa anak kelas 7-F di sekolah. Anak-anak di tempat les pada ngerespon. “ciee, tembak dong!!” sebenarnya hatiku terasa sakit saat itu. Tapi aku mikir, buat apa aku mencintai Randy sedangkan dia mencintai orang lain. Galau, saat itu aku merasakan galau tingkat Nasional. Belajar tak fokus, dan pula aku suka melamun.
Saat malam minggu, Sherin SMS aku. Dan pesan itu berisi:
“Velin, aku dengar Randy menyukai Syifa yah? Yang sabar ya, aku tahu kok perasaan kamu saat ini bagaimana. Pasti rasanya itu sakit, aku juga pernah kok ngerasain kayak kamu. Oh ya, menurut aku sih mending kamu lupain aja Randy dan anggap aja kalau dia cuma sahabat di hati kamu. Ingat! Cuma sahabat dan lupain kalau kamu pernah suka sama dia. Cobalah move on ya Velin sahabatku yang cantik, sabar dan baik hati.”
Ada benarnya juga sih kayak Sherin, aku itu harus lupain kalau aku pernah suka sama dia dan anggap dia sebagai sahabat.
Hari berikutnya, Randy mendatangiku ke meja saat jam istirahat. Aku tak tahu dia mau apa dariku. Empat mata aku bertatap dengan dia, hatiku terasa deg-degan. Dan ternyata, Randy memintaku untuk mendengarkan curhatannya. Hatiku bilang, pasti dia curhat tentang Syifa. Ternyata benar, dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa Randy akan menembak Syifa. Dia pun bilang seperti ini, “Bagaimana jika aku memberi dia boneka kesukaannya?” aku menjawab lama karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Sakit hatiku saat itu. Akhirnya, dengan suara pelan dan ragu-ragu aku menjawab. Aku bilang, “Yaa, boleh juga, jika kamu benar-benar mencintainya, cepat-cepatlah kamu tembak dia. Jangan sampai dia direbut oleh orang lain” jujur aku tak bisa membohongiku hatiku yang teramat sakit.
Randy memegang tanganku, dan berkata, “Terima kasih ya Velin, kamu memang teman aku yang paling baik.” Senang saat dia memegang tanganku dan sedih saat aku merelakan dia pilih cinta yang lain.
Galau, galau dan semakin galau aku merasakannya. Sahabatku yang lainnya mensupport aku untuk bisa melupakan Randy dan move on dari dia. Dan mulai saat itu, aku terpikir untuk tidak memikirkan lelaki terutama Randy yang telah sakiti aku dan fokus untuk belajar. Satu tahun telah berlalu, pembagian rapot akhirnya dilakukan pada saat itu. Hati mersa tak enak, takut jika aku tidak naik kelas. Ternyata aku mendapat peringkat 10 besar di kelas 7-H. Aku bersyukur dan memeluk orangtuaku.
Sherin datang menghampiriku, dan mengucapkan, “Selamat yaa Velin, sudah mendapatkan peringkat 10 besar. Oh yaa, tahu gak? Randy mendapatkan peringkat pertama di kelas,”
Aku menjawab, “Yaa, terima kasih, Sherin. Kamu memang sahabat aku yang paling baik meskipun sedikit cuek, hehe. Oh, bagus deh kalau dia semakin pinter. Biar Syifa semakin sayang padanya, dan semakin langgeng hubungan dia.”
Aku merasa senang sekali, karena 1 tahun sudah ku lewati saat di SMP. Ya meskipun ada yang bikin aku kesel sih. Harapan aku di kelas 8 SMP nanti, semoga aku lebih pinter, dapet banyak temen, dan gak ada temen yang bikin aku ilfil lagi. Dan satu lagi, semoga aku bisa move on dari Randy. Dapet cowok yang lebih baik dari dia, lebih pintar, dan pastinya gak beri harapan palsu ke aku. Amin Ya Allah.
Bersambung
Namaku Velin Mutiaranty. Umurku baru 13 tahun, bisa dibilang ABG atau remaja. Saat itu aku sekolah di SMP terfavorit di daerah rumahku. Awalnya percaya gak percaya, kalau aku masuk ke SMP itu. Mama, papa aku sangat bangga, dan juga keluarga yang lainnya. Saat itu aku kebagian kelas terakhir, yaitu 7-H. Ya orangnya pada baik-baik sih, tapi ada juga yang super super sok di kelas. Mereka merasa kalau mereka itu terkeren di kelas, terpinter, tergaul dan tercantik. Mungkin, memang sih salah satu dari mereka ada yang cantik, pinter dan baik. Tapi yang aku gak suka dari mereka adalah mereka itu suka membeda-bedakan teman, mencaci-maki teman dan masih banyak lagi yang buat aku ilfil di kelas 7-H.
Tapi saat di kelas tersebut, aku kenalan sama anak cowok yang pintar, keren, ganteng sih lumayan. Nama dia adalah Randy, ya kadang ngeselin juga sih anaknya. Tapi saat itu aku merasa senang waktu kenalan dengan dia, tangan bergetar, mulut tak tahu mau bilang apa.
Kata sahabat aku yang namanya Sherin, “sepertinya, kamu merasakan yang beda saat ketemu si Randy yaa, Velin?”
aku menjawab, “yaa benar, aku merasa senang jika ketemu dia sekaligus malu. Mungkin aku suka sama dia yaa, Sher.”
Lalu Sherin menjawab pertanyaanku, “Sepertinya sih iya, ciee yang ketemu pangerannya saat di SMP” begitulah kata sahabat dekatku saat di SMP.
Bel pelajaran pun berbunyi terdengar oleh semua siswa, saatnya pulang ke rumah. Akhirnya aku pulang dijemput sama saudaraku. Saat di rumah, aku kepikiran terus tentang Randy. Aku langsung mengaktifkan laptop, dan membuka facebook untuk melihat lebih jelas lagi profil tentang dia. Randy termasuk anak yang gaul sama temannya, dan tidak terlalu banyak menyimpan foto di facebooknya, yaa mungkin dia adalah anak lelaki beda dengan anak perempuan. Saat itu aku tak begitu mengharapkan dia, karena aku tahu dia anaknya keren dan banyak disukai sama teman perempuan lainnya.
Dan saat itu, aku mengikuti Bimbel di dekat sekolah, dan ternyata Randy pun mengikutinya. Mulai dari situ aku dekat dengan Randy. Saling dekatnya, aku menganggap dia sebagai sahabat lelakiku dan tak lebih dari itu. Aku masih teringat waktu Randy curhat tentang anak perempuan yang disukai dia, nama anak itu adalah Syifa anak kelas 7-F di sekolah. Anak-anak di tempat les pada ngerespon. “ciee, tembak dong!!” sebenarnya hatiku terasa sakit saat itu. Tapi aku mikir, buat apa aku mencintai Randy sedangkan dia mencintai orang lain. Galau, saat itu aku merasakan galau tingkat Nasional. Belajar tak fokus, dan pula aku suka melamun.
Saat malam minggu, Sherin SMS aku. Dan pesan itu berisi:
“Velin, aku dengar Randy menyukai Syifa yah? Yang sabar ya, aku tahu kok perasaan kamu saat ini bagaimana. Pasti rasanya itu sakit, aku juga pernah kok ngerasain kayak kamu. Oh ya, menurut aku sih mending kamu lupain aja Randy dan anggap aja kalau dia cuma sahabat di hati kamu. Ingat! Cuma sahabat dan lupain kalau kamu pernah suka sama dia. Cobalah move on ya Velin sahabatku yang cantik, sabar dan baik hati.”
Ada benarnya juga sih kayak Sherin, aku itu harus lupain kalau aku pernah suka sama dia dan anggap dia sebagai sahabat.
Hari berikutnya, Randy mendatangiku ke meja saat jam istirahat. Aku tak tahu dia mau apa dariku. Empat mata aku bertatap dengan dia, hatiku terasa deg-degan. Dan ternyata, Randy memintaku untuk mendengarkan curhatannya. Hatiku bilang, pasti dia curhat tentang Syifa. Ternyata benar, dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa Randy akan menembak Syifa. Dia pun bilang seperti ini, “Bagaimana jika aku memberi dia boneka kesukaannya?” aku menjawab lama karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Sakit hatiku saat itu. Akhirnya, dengan suara pelan dan ragu-ragu aku menjawab. Aku bilang, “Yaa, boleh juga, jika kamu benar-benar mencintainya, cepat-cepatlah kamu tembak dia. Jangan sampai dia direbut oleh orang lain” jujur aku tak bisa membohongiku hatiku yang teramat sakit.
Randy memegang tanganku, dan berkata, “Terima kasih ya Velin, kamu memang teman aku yang paling baik.” Senang saat dia memegang tanganku dan sedih saat aku merelakan dia pilih cinta yang lain.
Galau, galau dan semakin galau aku merasakannya. Sahabatku yang lainnya mensupport aku untuk bisa melupakan Randy dan move on dari dia. Dan mulai saat itu, aku terpikir untuk tidak memikirkan lelaki terutama Randy yang telah sakiti aku dan fokus untuk belajar. Satu tahun telah berlalu, pembagian rapot akhirnya dilakukan pada saat itu. Hati mersa tak enak, takut jika aku tidak naik kelas. Ternyata aku mendapat peringkat 10 besar di kelas 7-H. Aku bersyukur dan memeluk orangtuaku.
Sherin datang menghampiriku, dan mengucapkan, “Selamat yaa Velin, sudah mendapatkan peringkat 10 besar. Oh yaa, tahu gak? Randy mendapatkan peringkat pertama di kelas,”
Aku menjawab, “Yaa, terima kasih, Sherin. Kamu memang sahabat aku yang paling baik meskipun sedikit cuek, hehe. Oh, bagus deh kalau dia semakin pinter. Biar Syifa semakin sayang padanya, dan semakin langgeng hubungan dia.”
Aku merasa senang sekali, karena 1 tahun sudah ku lewati saat di SMP. Ya meskipun ada yang bikin aku kesel sih. Harapan aku di kelas 8 SMP nanti, semoga aku lebih pinter, dapet banyak temen, dan gak ada temen yang bikin aku ilfil lagi. Dan satu lagi, semoga aku bisa move on dari Randy. Dapet cowok yang lebih baik dari dia, lebih pintar, dan pastinya gak beri harapan palsu ke aku. Amin Ya Allah.
Bersambung

Cerpen Kupu Kupu Kertas

“Dek, lihat nih! Kupu-kupu kertas buatan Kakak bagus kan?”
Dengan bahagia Farel menunjukkan kupu-kupu kertas buatannya kepada Shafa, teman bermainnya.
“Tapi lebih bagus punyaku loh, Kak.. lihat nih. Indah sekali..” kata Shafa yang tak mau kalah. Karena Farel gemas dengan Shafa, mereka pun kejar-kejaran hingga Ibu Shafa melarang mereka untuk berlarian.
Farel dan Shafa adalah sehabat kecil yang senantiasa ceria. Meskipun begitu, Farel sudah tak punya keluarga. Bukan karena keluarganya yang sengaja menelantarkannya. Dan yang ia punya sekarang hanya Mama angkatnya.
“Farel, Shafa, jangan lari-larian. Nanti jatuh, nangis lagi..”
“Iya deh, Tante. Maafin Farel ya?” ucap lelaki kecil berumur 10 tahun itu dengan wajah melas.
“Nggak apa-apa kok Farel sayang. Nanti kalau Farel kecapean bagaimana?”
“Ya sudah, Kak Farel, main di dalam rumah aja yuk..” ajak Shafa.
“Aah, Kak Farel mau pulang aja deh…”
“Yaahh, Kakak ngambek ya? Ayo dong, Kak..” pinta gadis kecil itu.
“Farel, masuk aja yuk..” Ajak Mama Farel.
“Tapi jangan lari-larian lagi ya?”
“Iya, Shafa janji..” Tersenyum dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Farel. Farel pun merangkul kelingking Shafa dengan kelingkingnya tanda perjanjian.
“Bagaimana kalau kita buat origami, nanti kita gantung origami-origami itu di jendela kamar kita?” Farel usul.
“Wah, boleh itu, Kak Yuk…”
Di Kamar.
“Kalau udah gede, Shafa pengen jadi apa?” tanya Farel seraya memainkan jari-jarinya, menyulap kertas origami.
“Shafa kalau gede, ingin jadi arsitek, Kak.”
“Aah, beneran?”
“Iya, kalau Kak Farel pengen jadi apa?”
“Kak Farel pengen jadi Dokter, biar bisa mengobati Shafa kalau Shafa sakit. Hehe.”
“Kalau Shafa jadi arsitek, Shafa akan buat istana yang indah untuk Kak Farel.”
Beberapa bulan setelah kebahagiaan itu, Shafa sedih ketika menanti Farel yang tidak kunjung datang ke rumahnya. Ketika terdengar ketukan pintu, ia pun merasa sumringah.
“Ma, itu Kak Farel kan, Ma? Berarti Shafa bisa main lagi dong, Ma?”
“Sebentar, sayang. Ada yang ingin Mama bicarakan dengan Mamanya Kak Farel. Shafa tunggu di kamar dulu, ya?” kata Mama seraya mengelus-elus rambut lembut gadis itu. Shafa pun menuruti apa yang dikatakan Mamanya.
“Memangnya, ada hal penting apa, Bu?” tanya Mama Shafa memulai perbincangan.
“Anda tahu kan Bahwa Papa, Mama, serta Kakak-Kakaknya Farel itu meninggal karena positif terkena HIV?”
“Iya, apa jangan-jangan, Farel jugaa….”
“Iya, Bu. Farel positif HIV. Itu kami ketahui setelah melakukan tes selama 3 sampai 6 bulan ini. Itu pun diperkuat dengan demamnya yang tidak kunjung turun dan terjadi infeksi. Kata dokter yang dulu pernah merawat keluarga Farel. Aku kasihan karena Shafa tidak ada teman bermain sekarang..”
“Soal teman itu tidak penting, Bu. Yang penting itu sekarang bagaimana mendampingi Farel. Aku pernah mendengar, penderita HIV anak-anak, itu bisa bertahan hidup selama 8, 12, 15 bahkan 20 tahun. Jadi masa depan Farel masih bisa diraih.”
“Tapi, di usia remaja, ia harus…” Mama Farel tidak berani meneruskan perkataannya. Mama Shafa hanya mengangguk, dengan berat hati.
“Maa, Kak Farel kenapa? Kak Farel sakit, ya, Ma? Kok Mama nggak ngasih tahu Shafa sih. Tante juga. Kenapa Shafa nggak dikasih tahu?” Gadis kecil itu mulai nampak bersedih. Tapi, Mama juga tidak ingin putrinya bersedih.
“Nggak, sayang. Kak Farel cuma nggak enak badan. Lusa juga pasti baikan kok. Shafa jangan sedih ya?”
“Berarti, Shafa main sendirian dong, Ma? Shafa kangen sama Kak Farel.” Lagi-lagi Shafa ingin membuat gerimis di matanya.
“Doakan Kak Farel saja ya, sayang? Semoga cepat sembuh dan bisa main lagi sama Shafa.” Sambung Mama Farel.
“Shafa kan jadi sedih.”
“Shafa jangan nangis, kalau Shafa sedih, Kak Farel juga nanti ikut sedih loh. Jangan nangis ya, Shafa?” Mama Farel tersenyum di tengah kegundahan dan kesedihan hatinya.
Meskipun Mama Farel hanya Mama angkat, tetapi kasih sayangnya sangat besar dan tulus kepada Farel. Karena, Mama Farel tahu, pengidap HIV bukan untuk didiskriminasikan. Tetapi, untuk disayang dan terus memberi support kepada Farel.
“Ma, hari ini kita jadi jenguk Kak Farel di rumah sakit kan?” pinta gadis kecil itu seraya menarik-narik baju Mamanya.
“Shafa kangen sama Kak Farel? Hehe..”
“Kok Mama malah ketawa. Jadi kan, Ma. Ya, jadi ya, Ma…” senyum Shafa dengan penuh harap.
“Iya, deh, jadi. Shafa mandi dong, biar nanti ke rumahnya Kak Farel nggak kesiangan.”
“Siap, Ma!!”
Sesampainya di rumah Farel.
“Kak Farel!! Shafa datang, Kak!” teriak Shafa.
“Eh, Shafa. Kak Farel ada di kamar. Yuk, masuk..”
Shafa terkejut melihat sosok Farel.
“Kak Farel… Kok jadi kurus begini?” Wajah Shafa seketika berubah.
“Kakak kan lagi sakit, Shafa. Shafa nggak boleh sedih ya?” jelas Farel.
“Kakak pasti nggak mau makan kan? Tante, kalau Kak Farel nggak mau makan, dijewer aja ya, Tan?”
“Apa Shafa aja yang dijewer? Hhehe.” Goda Farel.
“Jangan, Kak. Oh, iya. Ini ada bingkisan dari Shafa dan Mama. Kakak cepat sembuh ya? Biar bisa main lagi sama Shafa… Oke.” Mengerlingkan mata dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Farel. Farel pun merangkul kelingking Shafa dengan kelingkingnya tanda perjanjian.
“Makasih banget ya, Fa. Oh, iya. Kemarin waktu Kakak masih di rumah sakit, Kakak punya puisi buat adek.” Menyerahkan sebuah kertas yang telah disulap dengan jari kecilnya menjadi sebuah kupu-kupu.
Di antara gedung putih
Terbesit sebuah suara kerinduanku
Adikku
Tetaplah berbakti pada Sang Kuasa
Dalam setiap napas dan doaku,
Aku yakin,
Sebuah pertemuan di antara kita itu pasti ada
Meski kita tak dipertemukan selamanya
Adikku,
Tetaplah menjadi adikku
Pertemuan itu pasti ada,
Meskipun terbentang samudra,
Suara rinduku
Semoga kan selalu terngiang
Ku persembahkan,
Hanya untuk adikku
“Wwh, adek suka puisinya, Kak.” Tersenyum penuh kegirangan.
“Adek suka? Berarti puisi Kakak bagus dong, Dek.?”
“Umm… Iya deh, biar Kakak senang. Kalau Kak Farel senang kan Shafa jadi ikut senang.”
“Shafa, ayo pulang..” suara Mama Shafa yang baru masuk kamar.
“Tapi, Ma…”
“Kapan-kapan ke sini lagi, Kak Farel kan butuh istirahat.” Bujuk Mama.
“Iya deh. Kak Farel baik-baik ya? Makannya dijaga. Hhehe.”
“Oke, Shafa…” tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Shafa.

Delapan tahun kemudian.
“Shafa…” terdengar suara dari depan pintu.
“Iya, sebentar…”
“Kak Farel datang, Dek..”
“Kak Fareel!! Shafa kangen banget sama Kakak tahu! Selama ini kemana aja sih!”
“Eeh, jangan ngambek dong, Dek. Kak Farel punya hadiah buat Dek Shafa yang sudah lama menanti. Ini…” kata Farel seraya menyerahkan sebuah kotak berwarna Ungu.
“Ini apa?” masih dengan nada bicara yang kesal, Shafa menerima kotak itu.
“Dibuka dong, Dek..”
“Wah, coklat Hello Kitty. Terima kasih, ya, Kak..” tersenyum kegirangan melihat isi kotak itu.
“Shafa suka kan? Berarti Shafa nggak marah sama Kak Farel. Hehe..”
“Shafa! Siapa?!” terdengar suara Mama dari dalam rumah.
“Kak Farel, Ma… Yuk, Kak, masuk..”
“Rumah Shafa nggak berubah ya? Masih seperti dulu.” Komentar Farel.
“Iyalah, Kak. Shafa kan ingin kenangan kita yang terlukis indah di sini nggak luntur. Hhehe…”
“Eh, bisa aja deh.”
“Oh, iya. Kakak sekarang kuliah di mana?”
“Nggak jauh-jauh banget dari kota ini.”
“Di mana, Kak?”
“Aah, si Shafa kepo banget deh. Hehe. Masih ingin jadi arsitek?”
“Masih dong, Kak. Sekarang aku juga lagi belajar bidang arsitektur. Kalau Kak Farel sendiri?”
“Kakak sih sekarang di bidang komunikasi.”
“Katanya dulu ingin jadi Dokter… Hayooo..” goda Shafa.
“Itu kan dulu, Dek. Hehe.”
Canda mereka pun sudah mulai menghangat. Seperti menuliskan kembali cerita yang telah habis dibaca.
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku
Ku merindukanmu
Saat aku mencoba merubah segalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang
Lagu dari D’Massiv itu seakan membawa Shafa kembali ke masa lalu. Kerinduan yang mendalam kepada Farel semakin membuat ia sedih. Hatinya semakin ingin bersua. Kerinduan pada seseorang yang pernah membuat ia meloncat-loncat di atas bumi ini.
“Kak Farel nggak akan pernah kembali!” Shafa marah dan menangis ketika mencurahkan isi hatinya di buku biru itu.
“Shafa, kamu kenapa?” tanya Mama yang tiba-tiba datang karena mendengar sesuatu dari kamar Shafa.
“Kak Farel nggak akan pernah kembali kan, Ma?!”
“Sayang, nggak boleh bicara seperti itu. Tenang saja. Kak Farel pasti kembali.” Ucap Mama menenangkan buah hatinya itu.
“Tapi, Ma. Sejak pertemuan itu, Kak Farel dan Mamanya nggak pernah menghubungi Shafa lagi.”
Mama kehabisan kata-kata. Tak mungkin dia harus memberitahukan penyakit Farel yang sebenarnya. Karena pasti Shafa akan sedih jika harus tahu sekarang.
Dan di rumah sakit, Farel sedang berjuang untuk sembuh karena kanker Sarcoma Kaposi yang semakin hari menggerogoti tubuhnya. Ya, semua karena virus AIDS yang telah menyebar di seluruh tubuhnya.
“Ma, Farel sedih.”
“Sedih kenapa, Farel?”
“Farel sedih karena harus meninggalkan Mama, Shafa dan semuanya.”
“Sayang, jangan bicara seperti itu. Mama sayang sama Farel.” Mama pun mulai meneteskan air mata karena tak dapat membendung kesedihannya.
“Tapi, Ma. Umur Farel juga nggak akan lama kan?”
Mama terdiam, bingung harus berkata apa untuk tetap men-support anaknya itu. Hening.
“Ma, Farel kangen sama Shafa…” suara lirih itu memecah keheningan.
“Farel ingin bertemu Shafa?” ucap Mama seraya mengusap air mata.
“Iya, sebelum Farel pergi…”
Di lorong rumah sakit
“Ma, sebenarnya kita mau jenguk siapa sih?”
“Nanti Shafa juga tahu kok.”
“Iih, Mama. Bikin Shafa penasaran aja deh.”
Mama hanya tersenyum.
“Kak Fareeel!!!” Tangis pun pecah saat Shafa bertemu dengan Farel.
“Kakak kenapa nggak pernah cerita sama Shafa, Kak!”
“Kak Farel hanya tidak ingin Shafa sedih.”
“Tapi, tidak bertemu Kak Farel itu membuat Shafa lebih sedih.”
“Sekarang Shafa nggak perlu sedih, kan ada Kak Farel di sini. Jangan nangis lagi ya, Dek?” mengusap air mata yang membasahi pipi Shafa.
“Kakak… Aku sayang sama Kakak, Shafa nggak ingin kehilangan Kakak. Kak Farel ingat kan? Waktu kecil dulu, aku ingin buatkan istana untuk Kakak. Jadi Kakak jangan pergi dulu.” Berusaha tersenyum, namun Shafa tak dapat membendung air mata, teringat flashback indah ketika kanak-kanak dulu.
“Kakak tunggu istananya di surga ya? Buatkan yang indah untuk Kakak. Sekarang, Shafa harus berjuang untuk menjadi arsitek yang handal. Biar Kak Farel berjuang melawan penyakit Kakak. Dek Shafa nggak boleh sedih kalau Kak Farel kalah. Tapi, Kak Farel akan tersenyum bahagia di surga, ketika melihat Shafa sukses. Jadi, saat kepergian Kak Farel, Shafa nggak boleh sedih. Oke…” tersenyum dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Shafa. Tapi Shafa menolak.
“Kak Farel nggak boleh pergi sekarang. Kak Farel nggak mau lihat istana buatan Shafa?” tangis Shafa semakin menjadi-jadi.
“Kak Farel tentu ingin melihat istana buatan Shafa, tapi Kakak hanya bisa melihat dari atas sana, Shafa. Shafa jangan sedih. Baik-baik di sini Shafa. Adikku tersayang, Adikku yang paling manja. Adikku yang selalu memberikan semangat Kakak untuk tetap bernafas. Adikku yang selalu memberikan keceriaan pada Kak Farel. Kakak sayang Sha..ffaaa….”
“Kak Fareellll!! Jangan pergi, Kak… Kakak harus banguuun… Kak Farel nggak boleh pergi. Shafa sayang Kak Farel!!” tubuh Shafa lemas tak berdaya, melihat Farel yang telah pergi untuk selamanya. Tapi, Shafa yakin. Kak Farel akan bahagia di surga ketika ia melihat adiknya sukses.
Kupu-kupu kertas ini… Akan selalu menjadi sejarah kita. Akan selalu menjadi kenangan, Yang terpatri dalam sanubariku. Pelangi cintamu. Warnai awan putih dalam hatiku. Kau ramaikan hariku dengan warna-warna tingkahmu. Dikala jauh, Kau berikan warna abu-abu. Dikala dekat, Kau berikan warna merah jambu dalam hatiku.
Keindahan cintamu memberikan keriduan tersendiri. Rindu. Rindu. Rindu. Yang menggebu.
Jadilah bintang hatiku,
Yang senantiasa menerangiku di surga.
“Dek, lihat nih! Kupu-kupu kertas buatan Kakak bagus kan?”
Dengan bahagia Farel menunjukkan kupu-kupu kertas buatannya kepada Shafa, teman bermainnya.
“Tapi lebih bagus punyaku loh, Kak.. lihat nih. Indah sekali..” kata Shafa yang tak mau kalah. Karena Farel gemas dengan Shafa, mereka pun kejar-kejaran hingga Ibu Shafa melarang mereka untuk berlarian.
Farel dan Shafa adalah sehabat kecil yang senantiasa ceria. Meskipun begitu, Farel sudah tak punya keluarga. Bukan karena keluarganya yang sengaja menelantarkannya. Dan yang ia punya sekarang hanya Mama angkatnya.
“Farel, Shafa, jangan lari-larian. Nanti jatuh, nangis lagi..”
“Iya deh, Tante. Maafin Farel ya?” ucap lelaki kecil berumur 10 tahun itu dengan wajah melas.
“Nggak apa-apa kok Farel sayang. Nanti kalau Farel kecapean bagaimana?”
“Ya sudah, Kak Farel, main di dalam rumah aja yuk..” ajak Shafa.
“Aah, Kak Farel mau pulang aja deh…”
“Yaahh, Kakak ngambek ya? Ayo dong, Kak..” pinta gadis kecil itu.
“Farel, masuk aja yuk..” Ajak Mama Farel.
“Tapi jangan lari-larian lagi ya?”
“Iya, Shafa janji..” Tersenyum dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Farel. Farel pun merangkul kelingking Shafa dengan kelingkingnya tanda perjanjian.
“Bagaimana kalau kita buat origami, nanti kita gantung origami-origami itu di jendela kamar kita?” Farel usul.
“Wah, boleh itu, Kak Yuk…”
Di Kamar.
“Kalau udah gede, Shafa pengen jadi apa?” tanya Farel seraya memainkan jari-jarinya, menyulap kertas origami.
“Shafa kalau gede, ingin jadi arsitek, Kak.”
“Aah, beneran?”
“Iya, kalau Kak Farel pengen jadi apa?”
“Kak Farel pengen jadi Dokter, biar bisa mengobati Shafa kalau Shafa sakit. Hehe.”
“Kalau Shafa jadi arsitek, Shafa akan buat istana yang indah untuk Kak Farel.”
Beberapa bulan setelah kebahagiaan itu, Shafa sedih ketika menanti Farel yang tidak kunjung datang ke rumahnya. Ketika terdengar ketukan pintu, ia pun merasa sumringah.
“Ma, itu Kak Farel kan, Ma? Berarti Shafa bisa main lagi dong, Ma?”
“Sebentar, sayang. Ada yang ingin Mama bicarakan dengan Mamanya Kak Farel. Shafa tunggu di kamar dulu, ya?” kata Mama seraya mengelus-elus rambut lembut gadis itu. Shafa pun menuruti apa yang dikatakan Mamanya.
“Memangnya, ada hal penting apa, Bu?” tanya Mama Shafa memulai perbincangan.
“Anda tahu kan Bahwa Papa, Mama, serta Kakak-Kakaknya Farel itu meninggal karena positif terkena HIV?”
“Iya, apa jangan-jangan, Farel jugaa….”
“Iya, Bu. Farel positif HIV. Itu kami ketahui setelah melakukan tes selama 3 sampai 6 bulan ini. Itu pun diperkuat dengan demamnya yang tidak kunjung turun dan terjadi infeksi. Kata dokter yang dulu pernah merawat keluarga Farel. Aku kasihan karena Shafa tidak ada teman bermain sekarang..”
“Soal teman itu tidak penting, Bu. Yang penting itu sekarang bagaimana mendampingi Farel. Aku pernah mendengar, penderita HIV anak-anak, itu bisa bertahan hidup selama 8, 12, 15 bahkan 20 tahun. Jadi masa depan Farel masih bisa diraih.”
“Tapi, di usia remaja, ia harus…” Mama Farel tidak berani meneruskan perkataannya. Mama Shafa hanya mengangguk, dengan berat hati.
“Maa, Kak Farel kenapa? Kak Farel sakit, ya, Ma? Kok Mama nggak ngasih tahu Shafa sih. Tante juga. Kenapa Shafa nggak dikasih tahu?” Gadis kecil itu mulai nampak bersedih. Tapi, Mama juga tidak ingin putrinya bersedih.
“Nggak, sayang. Kak Farel cuma nggak enak badan. Lusa juga pasti baikan kok. Shafa jangan sedih ya?”
“Berarti, Shafa main sendirian dong, Ma? Shafa kangen sama Kak Farel.” Lagi-lagi Shafa ingin membuat gerimis di matanya.
“Doakan Kak Farel saja ya, sayang? Semoga cepat sembuh dan bisa main lagi sama Shafa.” Sambung Mama Farel.
“Shafa kan jadi sedih.”
“Shafa jangan nangis, kalau Shafa sedih, Kak Farel juga nanti ikut sedih loh. Jangan nangis ya, Shafa?” Mama Farel tersenyum di tengah kegundahan dan kesedihan hatinya.
Meskipun Mama Farel hanya Mama angkat, tetapi kasih sayangnya sangat besar dan tulus kepada Farel. Karena, Mama Farel tahu, pengidap HIV bukan untuk didiskriminasikan. Tetapi, untuk disayang dan terus memberi support kepada Farel.
“Ma, hari ini kita jadi jenguk Kak Farel di rumah sakit kan?” pinta gadis kecil itu seraya menarik-narik baju Mamanya.
“Shafa kangen sama Kak Farel? Hehe..”
“Kok Mama malah ketawa. Jadi kan, Ma. Ya, jadi ya, Ma…” senyum Shafa dengan penuh harap.
“Iya, deh, jadi. Shafa mandi dong, biar nanti ke rumahnya Kak Farel nggak kesiangan.”
“Siap, Ma!!”
Sesampainya di rumah Farel.
“Kak Farel!! Shafa datang, Kak!” teriak Shafa.
“Eh, Shafa. Kak Farel ada di kamar. Yuk, masuk..”
Shafa terkejut melihat sosok Farel.
“Kak Farel… Kok jadi kurus begini?” Wajah Shafa seketika berubah.
“Kakak kan lagi sakit, Shafa. Shafa nggak boleh sedih ya?” jelas Farel.
“Kakak pasti nggak mau makan kan? Tante, kalau Kak Farel nggak mau makan, dijewer aja ya, Tan?”
“Apa Shafa aja yang dijewer? Hhehe.” Goda Farel.
“Jangan, Kak. Oh, iya. Ini ada bingkisan dari Shafa dan Mama. Kakak cepat sembuh ya? Biar bisa main lagi sama Shafa… Oke.” Mengerlingkan mata dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Farel. Farel pun merangkul kelingking Shafa dengan kelingkingnya tanda perjanjian.
“Makasih banget ya, Fa. Oh, iya. Kemarin waktu Kakak masih di rumah sakit, Kakak punya puisi buat adek.” Menyerahkan sebuah kertas yang telah disulap dengan jari kecilnya menjadi sebuah kupu-kupu.
Di antara gedung putih
Terbesit sebuah suara kerinduanku
Adikku
Tetaplah berbakti pada Sang Kuasa
Dalam setiap napas dan doaku,
Aku yakin,
Sebuah pertemuan di antara kita itu pasti ada
Meski kita tak dipertemukan selamanya
Adikku,
Tetaplah menjadi adikku
Pertemuan itu pasti ada,
Meskipun terbentang samudra,
Suara rinduku
Semoga kan selalu terngiang
Ku persembahkan,
Hanya untuk adikku
“Wwh, adek suka puisinya, Kak.” Tersenyum penuh kegirangan.
“Adek suka? Berarti puisi Kakak bagus dong, Dek.?”
“Umm… Iya deh, biar Kakak senang. Kalau Kak Farel senang kan Shafa jadi ikut senang.”
“Shafa, ayo pulang..” suara Mama Shafa yang baru masuk kamar.
“Tapi, Ma…”
“Kapan-kapan ke sini lagi, Kak Farel kan butuh istirahat.” Bujuk Mama.
“Iya deh. Kak Farel baik-baik ya? Makannya dijaga. Hhehe.”
“Oke, Shafa…” tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Shafa.

Delapan tahun kemudian.
“Shafa…” terdengar suara dari depan pintu.
“Iya, sebentar…”
“Kak Farel datang, Dek..”
“Kak Fareel!! Shafa kangen banget sama Kakak tahu! Selama ini kemana aja sih!”
“Eeh, jangan ngambek dong, Dek. Kak Farel punya hadiah buat Dek Shafa yang sudah lama menanti. Ini…” kata Farel seraya menyerahkan sebuah kotak berwarna Ungu.
“Ini apa?” masih dengan nada bicara yang kesal, Shafa menerima kotak itu.
“Dibuka dong, Dek..”
“Wah, coklat Hello Kitty. Terima kasih, ya, Kak..” tersenyum kegirangan melihat isi kotak itu.
“Shafa suka kan? Berarti Shafa nggak marah sama Kak Farel. Hehe..”
“Shafa! Siapa?!” terdengar suara Mama dari dalam rumah.
“Kak Farel, Ma… Yuk, Kak, masuk..”
“Rumah Shafa nggak berubah ya? Masih seperti dulu.” Komentar Farel.
“Iyalah, Kak. Shafa kan ingin kenangan kita yang terlukis indah di sini nggak luntur. Hhehe…”
“Eh, bisa aja deh.”
“Oh, iya. Kakak sekarang kuliah di mana?”
“Nggak jauh-jauh banget dari kota ini.”
“Di mana, Kak?”
“Aah, si Shafa kepo banget deh. Hehe. Masih ingin jadi arsitek?”
“Masih dong, Kak. Sekarang aku juga lagi belajar bidang arsitektur. Kalau Kak Farel sendiri?”
“Kakak sih sekarang di bidang komunikasi.”
“Katanya dulu ingin jadi Dokter… Hayooo..” goda Shafa.
“Itu kan dulu, Dek. Hehe.”
Canda mereka pun sudah mulai menghangat. Seperti menuliskan kembali cerita yang telah habis dibaca.
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku
Ku merindukanmu
Saat aku mencoba merubah segalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang
Lagu dari D’Massiv itu seakan membawa Shafa kembali ke masa lalu. Kerinduan yang mendalam kepada Farel semakin membuat ia sedih. Hatinya semakin ingin bersua. Kerinduan pada seseorang yang pernah membuat ia meloncat-loncat di atas bumi ini.
“Kak Farel nggak akan pernah kembali!” Shafa marah dan menangis ketika mencurahkan isi hatinya di buku biru itu.
“Shafa, kamu kenapa?” tanya Mama yang tiba-tiba datang karena mendengar sesuatu dari kamar Shafa.
“Kak Farel nggak akan pernah kembali kan, Ma?!”
“Sayang, nggak boleh bicara seperti itu. Tenang saja. Kak Farel pasti kembali.” Ucap Mama menenangkan buah hatinya itu.
“Tapi, Ma. Sejak pertemuan itu, Kak Farel dan Mamanya nggak pernah menghubungi Shafa lagi.”
Mama kehabisan kata-kata. Tak mungkin dia harus memberitahukan penyakit Farel yang sebenarnya. Karena pasti Shafa akan sedih jika harus tahu sekarang.
Dan di rumah sakit, Farel sedang berjuang untuk sembuh karena kanker Sarcoma Kaposi yang semakin hari menggerogoti tubuhnya. Ya, semua karena virus AIDS yang telah menyebar di seluruh tubuhnya.
“Ma, Farel sedih.”
“Sedih kenapa, Farel?”
“Farel sedih karena harus meninggalkan Mama, Shafa dan semuanya.”
“Sayang, jangan bicara seperti itu. Mama sayang sama Farel.” Mama pun mulai meneteskan air mata karena tak dapat membendung kesedihannya.
“Tapi, Ma. Umur Farel juga nggak akan lama kan?”
Mama terdiam, bingung harus berkata apa untuk tetap men-support anaknya itu. Hening.
“Ma, Farel kangen sama Shafa…” suara lirih itu memecah keheningan.
“Farel ingin bertemu Shafa?” ucap Mama seraya mengusap air mata.
“Iya, sebelum Farel pergi…”
Di lorong rumah sakit
“Ma, sebenarnya kita mau jenguk siapa sih?”
“Nanti Shafa juga tahu kok.”
“Iih, Mama. Bikin Shafa penasaran aja deh.”
Mama hanya tersenyum.
“Kak Fareeel!!!” Tangis pun pecah saat Shafa bertemu dengan Farel.
“Kakak kenapa nggak pernah cerita sama Shafa, Kak!”
“Kak Farel hanya tidak ingin Shafa sedih.”
“Tapi, tidak bertemu Kak Farel itu membuat Shafa lebih sedih.”
“Sekarang Shafa nggak perlu sedih, kan ada Kak Farel di sini. Jangan nangis lagi ya, Dek?” mengusap air mata yang membasahi pipi Shafa.
“Kakak… Aku sayang sama Kakak, Shafa nggak ingin kehilangan Kakak. Kak Farel ingat kan? Waktu kecil dulu, aku ingin buatkan istana untuk Kakak. Jadi Kakak jangan pergi dulu.” Berusaha tersenyum, namun Shafa tak dapat membendung air mata, teringat flashback indah ketika kanak-kanak dulu.
“Kakak tunggu istananya di surga ya? Buatkan yang indah untuk Kakak. Sekarang, Shafa harus berjuang untuk menjadi arsitek yang handal. Biar Kak Farel berjuang melawan penyakit Kakak. Dek Shafa nggak boleh sedih kalau Kak Farel kalah. Tapi, Kak Farel akan tersenyum bahagia di surga, ketika melihat Shafa sukses. Jadi, saat kepergian Kak Farel, Shafa nggak boleh sedih. Oke…” tersenyum dan menyodorkan kelingkingnya ke wajah Shafa. Tapi Shafa menolak.
“Kak Farel nggak boleh pergi sekarang. Kak Farel nggak mau lihat istana buatan Shafa?” tangis Shafa semakin menjadi-jadi.
“Kak Farel tentu ingin melihat istana buatan Shafa, tapi Kakak hanya bisa melihat dari atas sana, Shafa. Shafa jangan sedih. Baik-baik di sini Shafa. Adikku tersayang, Adikku yang paling manja. Adikku yang selalu memberikan semangat Kakak untuk tetap bernafas. Adikku yang selalu memberikan keceriaan pada Kak Farel. Kakak sayang Sha..ffaaa….”
“Kak Fareellll!! Jangan pergi, Kak… Kakak harus banguuun… Kak Farel nggak boleh pergi. Shafa sayang Kak Farel!!” tubuh Shafa lemas tak berdaya, melihat Farel yang telah pergi untuk selamanya. Tapi, Shafa yakin. Kak Farel akan bahagia di surga ketika ia melihat adiknya sukses.
Kupu-kupu kertas ini… Akan selalu menjadi sejarah kita. Akan selalu menjadi kenangan, Yang terpatri dalam sanubariku. Pelangi cintamu. Warnai awan putih dalam hatiku. Kau ramaikan hariku dengan warna-warna tingkahmu. Dikala jauh, Kau berikan warna abu-abu. Dikala dekat, Kau berikan warna merah jambu dalam hatiku.
Keindahan cintamu memberikan keriduan tersendiri. Rindu. Rindu. Rindu. Yang menggebu.
Jadilah bintang hatiku,
Yang senantiasa menerangiku di surga.

Cerpen

Namaku Silvi Rima Debriyanti biasa dipanggil Silvi. Saat itu aku masih kelas 6 SD, dan di belakang rumahku ada tetangga baru. Kelihatannya Mamaku sudah akrab sekali dengan tetangga baru itu, namun aku masih cuek. Di sore hari aku melihat seorang gadis yang sebaya denganku sedang duduk sendiri di rumah tetangga baruku itu. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah kapan dan di mana.
“Hayo lagi lihat siapa kamu?” tiba-tiba Mama mengagetkanku dari belakang. “Huft, Mama ngagetin aku saja”
“Kamu lagi lihatin gadis itu yah?”
“Hmm, iyah ma. Itu siapa sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana?”
“Oh itu Devi, teman kamu waktu TK. Masa kamu lupa sih?”
“Oh iyah ma aku baru ingat, hehe ”
Langsung saja aku samperin dia.
“Hey kamu Devi yah?”
“Iyah, kamu Silvi kan?”
“Ternyata kamu masih ingat yah sama aku”
Setelah itu kami saling bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Beberapa hari kita bersama aku mulai akrab sekali begitu pun dia. Padahal waktu TK kami biasa-biasa saja cuma sekedar “Say Hello.” Setelah lulus SD kami memutuskan untuk bersekolah di SMP yang sama. Berangkat sekolah bareng pulangnya pun bareng. Walaupun aku beda kelas dengannya tapi kalau istirahat kami selalu ke kantin bereng. Bahkan ekstrakulikuler kami pun sama yaitu Paskibra. Pokoknya kemana-mana kami selalu berdua nggak bisa terpisah. Dimana ada aku pasti ada Devi, dimana ada Devi pasti ada aku. Aku sudah menganggapnya sebagai Sahabat begitu pun dia. Kami saling curhat masalah masing-masing, nggak ada yang kami berdua tutup-tutupin dan harus saling terbuka.
Devi senang aku juga senang, Devi sedih aku juga sedih. Pokoknya kita susah senang harus bersama. Karena aku 1 sekolah jadi kita nggak hanya main bareng dan curhat-curhat aja, kita juga sering belajar bareng. Kami itu termasuk anak yang pintar di kelas, jadi kami selalu masuk peringkat 3 besar. Kita juga saling tukar pikiran masalah pelajaran. Teman kelas aku sempat bilang kenapa sih kalau istirahat aku nggak pernah bareng mereka selalu sama Devi. Bahkan aku sampai dibilang Adik-Kakak sama Devi. Mungkin Karena kita kemana-mana bareng makin lama banyak yang bilang muka kita mirip. Aneh sih padahal kita beda Bapak beda Ibu. Setelah kurang lebih 3 tahun kita bersama, kita lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMA.
Namun aku sangat sedih sekali Karena Devi harus pindah rumah. Karena Kakaknya seorang polisi, dia dan keluarganya tinggal di asrama polisi. Sebenarnya Devi nggak mau ikut, tapi harus gimana lagi karena semua keluarganya di sana. Berat rasanya kami harus berpisah karena jarak. Pasti kami akan kangen masa-masa kita bersama. Walaupun kita pisah kita nggak pernah hilang komunikasi dan tetap menjadi sahabat sejati. Karena suatu saat nanti kita akan bisa bertemu dan bersama lagi.
Namaku Silvi Rima Debriyanti biasa dipanggil Silvi. Saat itu aku masih kelas 6 SD, dan di belakang rumahku ada tetangga baru. Kelihatannya Mamaku sudah akrab sekali dengan tetangga baru itu, namun aku masih cuek. Di sore hari aku melihat seorang gadis yang sebaya denganku sedang duduk sendiri di rumah tetangga baruku itu. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah kapan dan di mana.
“Hayo lagi lihat siapa kamu?” tiba-tiba Mama mengagetkanku dari belakang. “Huft, Mama ngagetin aku saja”
“Kamu lagi lihatin gadis itu yah?”
“Hmm, iyah ma. Itu siapa sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana?”
“Oh itu Devi, teman kamu waktu TK. Masa kamu lupa sih?”
“Oh iyah ma aku baru ingat, hehe ”
Langsung saja aku samperin dia.
“Hey kamu Devi yah?”
“Iyah, kamu Silvi kan?”
“Ternyata kamu masih ingat yah sama aku”
Setelah itu kami saling bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Beberapa hari kita bersama aku mulai akrab sekali begitu pun dia. Padahal waktu TK kami biasa-biasa saja cuma sekedar “Say Hello.” Setelah lulus SD kami memutuskan untuk bersekolah di SMP yang sama. Berangkat sekolah bareng pulangnya pun bareng. Walaupun aku beda kelas dengannya tapi kalau istirahat kami selalu ke kantin bereng. Bahkan ekstrakulikuler kami pun sama yaitu Paskibra. Pokoknya kemana-mana kami selalu berdua nggak bisa terpisah. Dimana ada aku pasti ada Devi, dimana ada Devi pasti ada aku. Aku sudah menganggapnya sebagai Sahabat begitu pun dia. Kami saling curhat masalah masing-masing, nggak ada yang kami berdua tutup-tutupin dan harus saling terbuka.
Devi senang aku juga senang, Devi sedih aku juga sedih. Pokoknya kita susah senang harus bersama. Karena aku 1 sekolah jadi kita nggak hanya main bareng dan curhat-curhat aja, kita juga sering belajar bareng. Kami itu termasuk anak yang pintar di kelas, jadi kami selalu masuk peringkat 3 besar. Kita juga saling tukar pikiran masalah pelajaran. Teman kelas aku sempat bilang kenapa sih kalau istirahat aku nggak pernah bareng mereka selalu sama Devi. Bahkan aku sampai dibilang Adik-Kakak sama Devi. Mungkin Karena kita kemana-mana bareng makin lama banyak yang bilang muka kita mirip. Aneh sih padahal kita beda Bapak beda Ibu. Setelah kurang lebih 3 tahun kita bersama, kita lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMA.
Namun aku sangat sedih sekali Karena Devi harus pindah rumah. Karena Kakaknya seorang polisi, dia dan keluarganya tinggal di asrama polisi. Sebenarnya Devi nggak mau ikut, tapi harus gimana lagi karena semua keluarganya di sana. Berat rasanya kami harus berpisah karena jarak. Pasti kami akan kangen masa-masa kita bersama. Walaupun kita pisah kita nggak pernah hilang komunikasi dan tetap menjadi sahabat sejati. Karena suatu saat nanti kita akan bisa bertemu dan bersama lagi.

Cerpen Kepergian Mu

Sudah 2 tahun kamu pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Dua tahun sudah aku larut dalam kesedihan, dua tahun juga aku tidak bisa melupakanmu. Aku masih mengingat dengan jelas memori memori kita bersama, waktu kamu masih ada, masih bersamaku. Memori memori itu, tidak bisa kulupakan begitu saja. Memori-memori itu selalu ku kenang, selalu tersimpan rapat-rapat dalam hidupku.

Aku masih ingat waktu kamu datang ke rumahku pagi pagi, memberikan aku bunga mawar dan boneka Elmo. Dan Kamu selalu memberikan senyuman itu kepadaku, dan aku ingat juga kamu pernah bilang pada hari itu juga.
“Kalau suatu saat nanti aku tak ada di sampingmu, jangan pernah lupakan kenangan-kenangan kita yang telah kita lalui. Dan jangan pernah berhenti mencintaiku, walaupun aku tak ada lagi di sisimu.” ucapnya sambil menggenggam tanganku erat.
“Aku akan selalu mencintaimu, Mita.” ucapnya lagi.
Tiba tiba perasaanku tidak enak, aku takut sekali jika dia memang akan pergi meninggalkan aku. Ku beranikan untuk bertanya padanya.
“Kamu kenapa? kamu kenapa ngomong gitu? kamu kan udah janji sama aku, gak akan tinggalin aku.” Dan dia kembali tersenyum. Senyum yang hangat itu.
“Sayang, dengerin aku ya. Setiap manusia, pasti akan kembali pada Sang penciptanya. Walaupun, kita tidak pernah tahu kapan kita kembali padaNya..” Katanya. Aku menghela napas.
“Iya, aku tahu kok. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu? kamu gak akan tinggalin aku kan? aku gak mau kamu pergi.” Kataku lagi. Dia menatapku dan mengacak rambutku pelan.
“Iya sayang, aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”
Dan Setelah itu, dia pun pamit pulang dengan alasan urusan mendadak. Aku pun merelakannya, padahal aku masih merindukannya.
“Aku pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik ya.” ucapnya. Dia pun menjalankan motornya. Perasaan tidak enak pun kembali muncul. Hatiku tak karuan. Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Aku pun segera masuk ke rumah. Ingin beristirahat sejenak.
Sudah 2 hari Rio tidak memberiku kabar. Bahkan, smsku tidak juga dibalas. Di kampus pun aku tidak pernah melihatnya. Kemanakah Dia? Apakah Dia baik-baik saja? Dan anehnya, ada saja paket untukku darinya. Mulai dari Bunga mawar, boneka, foto-foto kita berdua, dan masih banyak lagi. Dan dia juga selalu menuliskan, “Maaf jika aku punya salah padamu. Aku akan selalu mencintaimu, Mita.”
Dan esoknya, aku melihat Dia di kampus. Dia sedang duduk di taman sambil menggambar. Ku datangi dia dengan penuh rasa kesal aku bertanya padanya.
“Aku gak tahu, aku salah apa sama kamu. Tapi kenpa belakangan ini kamu gak pernah memberiku kabar? kamu gak tahu aku merindukanmu..” kataku.
“Rio, kamu kemana saja? kenapa kamu baru kuliah? kamu baik baik saja kan?” tanyaku lagi. Dia masih saja tetap diam. Menyibukkan diri. Aku semakin kesal padanya.
“Rio!! jawab aku!! kenapa kamu diam aja sih? jawab Rio, aku mohon!!” Bentakku sambil menangis. Dan akhirnya Rio menatapku, memberikan aku sebuah gambar, yang ternyata itu aku kemudian dia tersenyum padaku.
“Maaf ya, aku sudah membuatmu khawatir. Tapi, aku baik baik saja sayang.” ucapnya.
“Aku ke perpustakaan dulu ya. Nanti kita pulang bareng ya.” ucapnya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan aku sendirian.
“Rio..” panggilku. Dia membalikkan badannya, kemudian tersenyum ke arahku. Hatiku semakin tak karuan. Semakin khawatir. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya.
Ketika pulang kuliah. Aku sedang menunggu taksi. Aku tidak mau pulang dengannya. Aku masih kesal padanya. Sebuah motor yang ku kenali berhenti di hadapanku. Aku membuang muka.
“Ayoo, kita pulang.” Ajaknya.
“Gak usah, aku bisa naik taksi kok. kamu pulang aja.” kataku dingin. Aku segera memanggil taksi, dan taksi itu kemudian berhenti. Aku segera masuk ke dalam. Dia menyusul dengan motornya, mengetuk kaca taksi itu.
“Cepat pak!” ucapku pada supir taksi itu. Akhirnya, aku terbebas darinya. Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras. Seperti suara motor yang ditabrak. Aku pun menyuruh taksi itu berhenti. Ku lihat ke belakang ternyata itu Rio. Dengan kepanikan yang melandaku, aku segera membayar taksi itu, kemudian segera turun.
Langsung aku berlari ke arah suara itu, dan yang ku lihat Rio dengan tubuh bersimbah darah terkapar di jalan, sontak aku menjerit, menangis, dan pingsan di tempat, ketika ku buka mataku, yang ku lihat hanya Ibuku di samping, dia mengatakan, “Rio sudah tenang di sana, sayang” langsung saja aku menangis histeris. Yang ku tahu aku dipeluk dengan erat oleh Kakakku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengumpat diriku. Aku menyesal. Apakah ini semua arti dari beberapa hari ini? Arti dari perkataan yang pernah diucapkan padanya kepadaku? Dan kado-kado yang diberikan oleh Rio kepadaku? Tuhan, mengapa secepat itu Kau mengambil Dia? Mana janjimu Rio? janjimu yang akan selalu ada di sampingku?
Hari ini hari pemakamanmu, aku pun membawa fotonya dan aku pegang erat-erat, di sampingku ada Kakakku yang setia memelukku. Aku tak dapat membendung tangisku ketika peti matimu telah dikubur di dalam tanah, aku pun menaburkan bunga ke atas tanah itu. Aku berlutut dan mencium nisan itu.
“Baik-baik di sana sayang, aku selalu sayang kamu.”
“Mita, ayo kita pulang.” ajak Kakakku. Aku pun kemudian berdiri. Dengan berat hati, aku tinggalkan dia sendiri di sana.
Hari ini tepat dua tahun kamu meninggalkanku, dan sampai saat ini aku belum bisa melupakanmu. Aku kembali datang ke kuburanmu dengan membawa bunga kesukaanmu yang ku ikat pada pita hitam warna favoritmu, aku masih saja berduka, dan aku masih belum bisa membuka hatiku pada pria lain. Dan memori-memori itu masih ku simpan dalam-dalam. Biarkan itu menjadi kenangan antara aku dan kamu. Kalau saja aku pulang denganmu, aku hanya dapat menyesalinya. Namamu selalu dalam doaku. Dan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Inilah kata terakhir dariku untukmu.
“Aku akan selalu mencintaimu, menyayangimu. Tunggu aku di sana sayang.”
Sudah 2 tahun kamu pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Dua tahun sudah aku larut dalam kesedihan, dua tahun juga aku tidak bisa melupakanmu. Aku masih mengingat dengan jelas memori memori kita bersama, waktu kamu masih ada, masih bersamaku. Memori memori itu, tidak bisa kulupakan begitu saja. Memori-memori itu selalu ku kenang, selalu tersimpan rapat-rapat dalam hidupku.

Aku masih ingat waktu kamu datang ke rumahku pagi pagi, memberikan aku bunga mawar dan boneka Elmo. Dan Kamu selalu memberikan senyuman itu kepadaku, dan aku ingat juga kamu pernah bilang pada hari itu juga.
“Kalau suatu saat nanti aku tak ada di sampingmu, jangan pernah lupakan kenangan-kenangan kita yang telah kita lalui. Dan jangan pernah berhenti mencintaiku, walaupun aku tak ada lagi di sisimu.” ucapnya sambil menggenggam tanganku erat.
“Aku akan selalu mencintaimu, Mita.” ucapnya lagi.
Tiba tiba perasaanku tidak enak, aku takut sekali jika dia memang akan pergi meninggalkan aku. Ku beranikan untuk bertanya padanya.
“Kamu kenapa? kamu kenapa ngomong gitu? kamu kan udah janji sama aku, gak akan tinggalin aku.” Dan dia kembali tersenyum. Senyum yang hangat itu.
“Sayang, dengerin aku ya. Setiap manusia, pasti akan kembali pada Sang penciptanya. Walaupun, kita tidak pernah tahu kapan kita kembali padaNya..” Katanya. Aku menghela napas.
“Iya, aku tahu kok. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu? kamu gak akan tinggalin aku kan? aku gak mau kamu pergi.” Kataku lagi. Dia menatapku dan mengacak rambutku pelan.
“Iya sayang, aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”
Dan Setelah itu, dia pun pamit pulang dengan alasan urusan mendadak. Aku pun merelakannya, padahal aku masih merindukannya.
“Aku pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik ya.” ucapnya. Dia pun menjalankan motornya. Perasaan tidak enak pun kembali muncul. Hatiku tak karuan. Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Aku pun segera masuk ke rumah. Ingin beristirahat sejenak.
Sudah 2 hari Rio tidak memberiku kabar. Bahkan, smsku tidak juga dibalas. Di kampus pun aku tidak pernah melihatnya. Kemanakah Dia? Apakah Dia baik-baik saja? Dan anehnya, ada saja paket untukku darinya. Mulai dari Bunga mawar, boneka, foto-foto kita berdua, dan masih banyak lagi. Dan dia juga selalu menuliskan, “Maaf jika aku punya salah padamu. Aku akan selalu mencintaimu, Mita.”
Dan esoknya, aku melihat Dia di kampus. Dia sedang duduk di taman sambil menggambar. Ku datangi dia dengan penuh rasa kesal aku bertanya padanya.
“Aku gak tahu, aku salah apa sama kamu. Tapi kenpa belakangan ini kamu gak pernah memberiku kabar? kamu gak tahu aku merindukanmu..” kataku.
“Rio, kamu kemana saja? kenapa kamu baru kuliah? kamu baik baik saja kan?” tanyaku lagi. Dia masih saja tetap diam. Menyibukkan diri. Aku semakin kesal padanya.
“Rio!! jawab aku!! kenapa kamu diam aja sih? jawab Rio, aku mohon!!” Bentakku sambil menangis. Dan akhirnya Rio menatapku, memberikan aku sebuah gambar, yang ternyata itu aku kemudian dia tersenyum padaku.
“Maaf ya, aku sudah membuatmu khawatir. Tapi, aku baik baik saja sayang.” ucapnya.
“Aku ke perpustakaan dulu ya. Nanti kita pulang bareng ya.” ucapnya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan aku sendirian.
“Rio..” panggilku. Dia membalikkan badannya, kemudian tersenyum ke arahku. Hatiku semakin tak karuan. Semakin khawatir. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya.
Ketika pulang kuliah. Aku sedang menunggu taksi. Aku tidak mau pulang dengannya. Aku masih kesal padanya. Sebuah motor yang ku kenali berhenti di hadapanku. Aku membuang muka.
“Ayoo, kita pulang.” Ajaknya.
“Gak usah, aku bisa naik taksi kok. kamu pulang aja.” kataku dingin. Aku segera memanggil taksi, dan taksi itu kemudian berhenti. Aku segera masuk ke dalam. Dia menyusul dengan motornya, mengetuk kaca taksi itu.
“Cepat pak!” ucapku pada supir taksi itu. Akhirnya, aku terbebas darinya. Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras. Seperti suara motor yang ditabrak. Aku pun menyuruh taksi itu berhenti. Ku lihat ke belakang ternyata itu Rio. Dengan kepanikan yang melandaku, aku segera membayar taksi itu, kemudian segera turun.
Langsung aku berlari ke arah suara itu, dan yang ku lihat Rio dengan tubuh bersimbah darah terkapar di jalan, sontak aku menjerit, menangis, dan pingsan di tempat, ketika ku buka mataku, yang ku lihat hanya Ibuku di samping, dia mengatakan, “Rio sudah tenang di sana, sayang” langsung saja aku menangis histeris. Yang ku tahu aku dipeluk dengan erat oleh Kakakku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengumpat diriku. Aku menyesal. Apakah ini semua arti dari beberapa hari ini? Arti dari perkataan yang pernah diucapkan padanya kepadaku? Dan kado-kado yang diberikan oleh Rio kepadaku? Tuhan, mengapa secepat itu Kau mengambil Dia? Mana janjimu Rio? janjimu yang akan selalu ada di sampingku?
Hari ini hari pemakamanmu, aku pun membawa fotonya dan aku pegang erat-erat, di sampingku ada Kakakku yang setia memelukku. Aku tak dapat membendung tangisku ketika peti matimu telah dikubur di dalam tanah, aku pun menaburkan bunga ke atas tanah itu. Aku berlutut dan mencium nisan itu.
“Baik-baik di sana sayang, aku selalu sayang kamu.”
“Mita, ayo kita pulang.” ajak Kakakku. Aku pun kemudian berdiri. Dengan berat hati, aku tinggalkan dia sendiri di sana.
Hari ini tepat dua tahun kamu meninggalkanku, dan sampai saat ini aku belum bisa melupakanmu. Aku kembali datang ke kuburanmu dengan membawa bunga kesukaanmu yang ku ikat pada pita hitam warna favoritmu, aku masih saja berduka, dan aku masih belum bisa membuka hatiku pada pria lain. Dan memori-memori itu masih ku simpan dalam-dalam. Biarkan itu menjadi kenangan antara aku dan kamu. Kalau saja aku pulang denganmu, aku hanya dapat menyesalinya. Namamu selalu dalam doaku. Dan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Inilah kata terakhir dariku untukmu.
“Aku akan selalu mencintaimu, menyayangimu. Tunggu aku di sana sayang.”

Cerpen Kebahagiaan Yang Gagal

Pagi ini seperti biasa, aku menjalankan aktivitas pagiku: menuntut ilmu. Setiap pagi benakku bagai pasar, ramai dikelilingi bayanganmu. Meski sebenarnya, kau bukan siapa-siapa dalam hidupku. Tuhan hanya menakdirkan kau sebagai seorang teman untukku. Setiap pagi senyummu ku nanti, meski kadang kau terus saja bersikap angkuh padaku. Tapi tiba-tiba saja hari ini kau sunggingkan senyummu untukku. Entahlah apa yang membuatmu memberi keindahan itu untukku. Yang jelas, pagi ini begitu menyenangkan untukku.
Di dalam kelas, pertama kalinya kau menatapku. Setelah beberapa kau tak pernah memandangku. Kini ku lihat dalam dan ku terawang jauh dalam matamu. Namun tak ku temukan apapun. Aku hanya merasa ketulusan di balik pandangan dan senyum yang kau berikan pagi ini. Mungkinkah ini pertanda kau akan segera menjadi milikku dan membahagiakan hari-hariku? Aku hanya bisa berharap dan terus berharap, tanpa bisa melakukan lebih.
Istirahat tiba, kau berjalan menghampiriku. Membuka harapan dan jalur bahagiaku. Ku rasakan hatimu telah melambai-lambai pada sepinya hatiku saat ini. Lalu kau berikan aku sebuah cokelat. Tahukah kau seberapa bahagianya hatiku saat ini? Jantungku berdebar, tanganku gemetar, dan bibirku terus menyunggingkan senyum yang tiada henti-hentinya. Ia kemudian pergi, berjalan perlahan. Sambil sesekali menengok ke arahku, kemudian tersenyum. Pertanda apa ini Tuhan? Akankah ia benar-benar jadi milikku?
Keesokan harinya, ku lihat bangkunya kosong. Ia tak masuk hari ini? Ah, aku akan rindu padanya. Lalu seorang guru memasuki kelasku dengan tergesa-gesa. Ia menyuruh aku beserta seluruh anak yang ada di dalam kelas untuk segera memasuki mobil yang telah disewa pagi ini oleh guruku. Kami memasukinya dengan heran dan penasaran. Mobil ini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sudah tak asing lagi untukku. Aku turun dari mobil dengan wajah yang begitu heran sekaligus penasaran.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah ini rumah seseorang yang akan membahagiakanku? Ada apa sebenarnya? Aku memasuki rumahnya, dan ku lihat ia berbaring, terbujur kaku ditutupi dengan selimut yang transparan. Aku tertawa. Benarkah yang ku lihat sekarang? Apakah aku masih bermimpi pagi ini? Bangunkan aku Tuhan!!! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini Tuhan!!!
Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai, tanpa peduli bagaimana orang melihatnya. Seorang wanita menghampiriku, ku rasa ia Ibunya. Ia memberiku surat. Begini isinya, “Hei, kau tahu? Aku mengagumi sejak awal aku melihatmu. Hanya saja, aku tak punya keberanian untuk menyatakannya. Saat aku merasa hariku tinggal sejengkal, keberanian itu datang. Memaksaku untuk memberikan bahagia padamu. Maaf jika aku terlambat. Satu kenyataan yang harus kau ketahui: kau ada dalam relung dan rongga hatiku.”
Air mataku tak terbendung, hatiku remuk bagai kaca yang pecah berhamburan. Jika saja aku tahu kau juga memiliki rasa yang sama, aku tak pernah takut menyatakan rasa ini sedari dulu. Kau tak pernah terlambat sayang. Tenanglah, aku menyayangimu bahkan tak akan pernah bisa melupakanmu.
Pagi ini seperti biasa, aku menjalankan aktivitas pagiku: menuntut ilmu. Setiap pagi benakku bagai pasar, ramai dikelilingi bayanganmu. Meski sebenarnya, kau bukan siapa-siapa dalam hidupku. Tuhan hanya menakdirkan kau sebagai seorang teman untukku. Setiap pagi senyummu ku nanti, meski kadang kau terus saja bersikap angkuh padaku. Tapi tiba-tiba saja hari ini kau sunggingkan senyummu untukku. Entahlah apa yang membuatmu memberi keindahan itu untukku. Yang jelas, pagi ini begitu menyenangkan untukku.
Di dalam kelas, pertama kalinya kau menatapku. Setelah beberapa kau tak pernah memandangku. Kini ku lihat dalam dan ku terawang jauh dalam matamu. Namun tak ku temukan apapun. Aku hanya merasa ketulusan di balik pandangan dan senyum yang kau berikan pagi ini. Mungkinkah ini pertanda kau akan segera menjadi milikku dan membahagiakan hari-hariku? Aku hanya bisa berharap dan terus berharap, tanpa bisa melakukan lebih.
Istirahat tiba, kau berjalan menghampiriku. Membuka harapan dan jalur bahagiaku. Ku rasakan hatimu telah melambai-lambai pada sepinya hatiku saat ini. Lalu kau berikan aku sebuah cokelat. Tahukah kau seberapa bahagianya hatiku saat ini? Jantungku berdebar, tanganku gemetar, dan bibirku terus menyunggingkan senyum yang tiada henti-hentinya. Ia kemudian pergi, berjalan perlahan. Sambil sesekali menengok ke arahku, kemudian tersenyum. Pertanda apa ini Tuhan? Akankah ia benar-benar jadi milikku?
Keesokan harinya, ku lihat bangkunya kosong. Ia tak masuk hari ini? Ah, aku akan rindu padanya. Lalu seorang guru memasuki kelasku dengan tergesa-gesa. Ia menyuruh aku beserta seluruh anak yang ada di dalam kelas untuk segera memasuki mobil yang telah disewa pagi ini oleh guruku. Kami memasukinya dengan heran dan penasaran. Mobil ini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sudah tak asing lagi untukku. Aku turun dari mobil dengan wajah yang begitu heran sekaligus penasaran.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah ini rumah seseorang yang akan membahagiakanku? Ada apa sebenarnya? Aku memasuki rumahnya, dan ku lihat ia berbaring, terbujur kaku ditutupi dengan selimut yang transparan. Aku tertawa. Benarkah yang ku lihat sekarang? Apakah aku masih bermimpi pagi ini? Bangunkan aku Tuhan!!! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini Tuhan!!!
Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai, tanpa peduli bagaimana orang melihatnya. Seorang wanita menghampiriku, ku rasa ia Ibunya. Ia memberiku surat. Begini isinya, “Hei, kau tahu? Aku mengagumi sejak awal aku melihatmu. Hanya saja, aku tak punya keberanian untuk menyatakannya. Saat aku merasa hariku tinggal sejengkal, keberanian itu datang. Memaksaku untuk memberikan bahagia padamu. Maaf jika aku terlambat. Satu kenyataan yang harus kau ketahui: kau ada dalam relung dan rongga hatiku.”
Air mataku tak terbendung, hatiku remuk bagai kaca yang pecah berhamburan. Jika saja aku tahu kau juga memiliki rasa yang sama, aku tak pernah takut menyatakan rasa ini sedari dulu. Kau tak pernah terlambat sayang. Tenanglah, aku menyayangimu bahkan tak akan pernah bisa melupakanmu.

Cerpen Cinta Sesaat

Namaku Silvi Sebastian, atau biasa teman-temanku memanggilku dengan sapaan Silvi. Aku sekolah di SMA Tunas Bangsa kelas 11 jurusan IPA, di sekolah ini aku mempunyai dua orang yang sudah aku anggap sebagai sahabatku yang sayang denganku dan yang selalu ada buatku di saat suka maupun duka, yaitu Kevin dan Naila. Aku juga mempunyai orangtua yang masih utuh, tetapi mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Aku adalah anak tunggal dari orangtuaku. Orangtuaku tidak pernah ada di rumah, karena dia harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri karena harus meeting dengan teman bisnisnya, sekalinya pulang mungkin juga mereka tidak akan mencariku dan tidak lama mereka berangkat untuk berkerja lagi. Di rumah aku hanya tinggal dengan dua orang pembantuku atau biasa aku memanggilnya bibi dan paman. Bibi bekerja di dapur sedangkan paman menjadi supir kalau aku ingin berangkat sekolah.
Aku sangat kecewa karena setiap harinya aku hanya diantar oleh paman, padahal aku ingin sekali diantar oleh orangtuaku ke sekolah. Merasa iri hati melihat teman-teman yang diantar oleh orangtuanya ke sekolah. Tetapi lagi-lagi rasa sedihku seketika hilang karena ada sahabatku yang tersayang. Mereka yang selalu membuatku tidak merasa sedih lagi, mereka yang selalu membuatku senang. Mereka sangat tidak suka kalau melihatku sedih maka dari itu mereka selalu melakukan cara apapun untuk membuatku tersenyum.
Jam 05.00 pagi aku sudah harus bangun, karena aku harus bersiap-siap sekolah. Bibi sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan, dan paman juga sudah memanaskan mobil di depan rumah. Selesai aku bersiap-siap di kamar aku turun ke bawah untuk menyantap sarapan pagiku yang hanya ditemani oleh bibi dan paman.
“Pagi semua..” aku menyapa bibi dan paman yang sedang berada di lantai bawah.
“Pagi juga non, ayo silakan sarapan dulu. Bibi juga sudah menyiapkan bekal untuk non bawa ke sekolah dan paman juga sudah memanaskan mobil..” kata bibi memberitahuku.
Selesei sarapan aku langsung menuju ke mobil karena sudah jam enam, takut terlambat. Sesampainya di sekolah ternyata Kevin dan Naila sudah menungguku di gerbang sekolah. Aku pun menuju ke arah mereka dan langsung ke kelas karena bel sudah berbunyi tanda jam pelajaran dimulai. Di kelas aku duduk sebangku dengan Naila, sedangkan Kevin duduk bersama Boby di depan bangkuku. Tetapi hari ini Boby sedang tidak masuk sekolah karena sakit.
Jam pelajaran pertama adalah pelajaran matematika, pelajaran yang sangat membosankan bagiku. Dua jam pelajaran sudah lewat dan bel pun berbunyi tanda sudah jamnya istirahat, aku mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan bibi tadi pagi. Kevin dan Naila juuga ikut mengeluarkan bekal yang mereka bawa dari rumah.
“Sil, tahu nggak sih? Katanya kelas kita bakal ada murid baru loh. Pindahan dari SMA Pangudi Luhur. Katanya sih ganteng Sil, tapi kita lihat saja nanti” seperti biasa, kalau jamnya istirahat pasti Naila yang paling berisik, dia selalu mengajakku berbicara.
Kali ini Naila membicarakan anak baru yang akan masuk di kelasku. tetapi aku dan Kevin tidak terlalu mempedulikan pembicaraan Naila, karena Naila kalau sudah membicarakan cowok pasti tidak bisa berhenti.
“ah kamu Nai kalau ada murid baru apalagi cowok pasti semangat banget buat membicarakannya hehe” kataku mengejeknya, dan Kevin mengiyakan pendapatku.
“Tapi kali ini gue serius Sil, katanya anak baru itu ganteng dan namanya kalau gak salah Vino. Dari namanya aja udah keren apalagi orangnya” katanya.
“tapi tetap…” Belum selesai aku menjawab pembicaraan Naila, bel sudah berbunyi tanda istirahat sudah selesai. Aku, Kevin dan Naila pun membereskan bekal yang habis kita makan.
Sekarang adalah jam pelajaran fisika, gurunya sangat galak dan tidak enak untuk dilihat. Tetapi kali ini pak guru mukanya tidak seperti biasa, dia tersenyum ke anak-anak di kelas.
“anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Ayo Vino silakan masuk dan perkenalkan dirimu” selesai pak guru berbicara, murid itu masuk ke dalam kelas. Belum sempat memperkenalkan diri ke teman-teman, anak perempuan termasuk Naila berserentak.
“duh ganteng banget sih”
“Duhh please deh apa gantengnya sih orang kayak dia? menurutku tuh dia biasa aja tapi yang lainnya saja pada berlebihan” kataku dalam hati.
Dia pun memperkenalkan diri di depan kelas. “hai semuanya, nama gue Vino Bastian gue dari SMA Pangudi Luhur. Salam kenal.” katanya.
Serentak anak perempuan dan lagi-lagi termasuk Naila menjawab, “salam kenal juga Vino.” Aku dan Kevin sangat tidak mempedulikan perkenalan itu, selesai Vino memperkenalkan diri pak guru mempersilakan Vino duduk di sebelah Kevin, karena hari ini Boby tidak masuk sekolah.
Karena Vino duduk di depanku dan juga Naila, akhirnya Naila sangat agresif buat berkenalan dengan Vino. Semuanya akhirnya kembali belajar seperti biasa. Di tengah jam pelajaran Naila sangat berisik, dia membicarakan Vino terus.
“Sil kamu nyadar nggak sih kalau nama kamu sama Vino sama-sama ada sebastiannya” katanya.
“aduh nai kamu tuh berisik banget sih dari tadi ngomongin Vino melulu, lagian nama dia itu bastian bukan Sebastian. Sudah belajar dulu saja” kataku dengan kesal, akhirnya Naila tidak berkutik lagi.
Jam pelajaran selesai, bel pulang pun sudah berbunyi. Aku juga sudah dijemput paman di gerbang sekolah, Naila dan Kevin juga berada di sampingku. Aku meminta izin untuk pulang duluan, dan mereka juga suda dijemput. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku karena hari ini cuaca sangat panas. Aku butuh istirahat, aku tertidur di tempat tidur tanpa mandi dan ganti baju. Tak terasa aku tertidur sangat pulas sehingga aku baru bangun keesokan harinya. Keesokan harinya ku jalani seperti hari-hari biasa, yang hanya ditemani oleh bibi dan paman. Di sekolah juga ku jalani seperti biasa, dan kali ini aku, Kevin dan Naila menjadi dekat dengan Vino mungkin karena duduk kita tidak berjauhan.
Minggu demi minggu aku terbiasa dengan keberadaan Vino, hubungan kita pun menjadi sangat dekat. Kami sering satu kelompok dalam pelajaran apapun, meski awalnya aku merasa tidak peduli dengan Vino tetapi kali ini aku merasa kasihan dengan Vino. Mendengar semua cerita Vino mengenai keluarganya yang sudah tidak ada karena kecelakaan pesawat saat ingin kembali ke jakarta tak lama setelah Vino pindah sekolah di sekolahku, dan Vino sama seperti aku yang hanya tinggal bersama pembantunya.
Suatu ketika di saat kita sedang kerja kelompok di rumahnya Kevin aku melihat tetesan darah menuju kamar mandi. Aku menanyakan hal itu ke Kevin.
“vin maaf sebelumnya ini tetesan darah apa yah? Sepertinya darah ini masih baru karena belum kering,” tak sengaja aku melihat muka Vino yang tiba-tiba memucat dan seperti orang kebingungan.
“hah darah apaan? Tadi kan yang ke kamar mandi Vino sil” Belum selesai menjawab, Naila sudah menyambar.
“apaan sih lo semua bikin suasana jadi tegang aja deh. Paling juga itu darah binatang. Yakan vin?” Aku merasa bingung.
“hah iya kali ya darah binatang, aku tidak tahu hehe” aku jelas sekali melihat muka paniknya Vino, tetapi aku hanya mengiyakannya saja. Kerja kelompok akhirnya selesai, aku meminta izin untuk pulang karena paman sudah menjemputku.
Setelah kami kerja kelompok, kami sering main bersama terkadang kami bermain ke rumah Kevin atau juga ke rumah Naila untuk mengerjakan tugas-tugas atau hanya sekedar main saja, tetapi aku belum pernah datang ke rumah Vino. Hubungan kami sekarang menjadi sangat dekat. Suatu hari aku tidak bisa mempercayai sama apa yang aku lihat, aku melihat Vino sudah berada di gerbang sekolah dan ternyata dia menungguku.
“Sil bisa nggak hari ini kita ketemuan jam 7 di taman dekat rumahmu?” Katanya sambil mengajakku berjalan ke arah kelas.
“Hmm kayaknya bisa deh, tapi nanti aku kabarin lagi deh. Emang kamu mau ngomong apa?” Tanyaku karena bingung kenapa tiba-tiba dia mengajakku ketemuan.
“ah tidak aku hanya ingin ketemu kamu saja” katanya meledekiku, aku hanya tertawa.
Sehari ku jalani dengan semua pelajaran yang sangat tidak menyenangkan, bel sudah berbunyi tanda waktu sekolah sudah pulang.
Sampai di rumah sudah sangat sore, karena hari ini jalanan macet. Sesaat aku teringat dengan janjiku untuk bertemu Vino di taman, aku mandi dan bersiap-siap. Selesai itu, aku langsung menuju taman dekat rumah. Ternyata Vino sudah berada di sana duluan, tetapi aku kaget ketika melihat muka dia yang sangat pucat. Aku langsung menghampiri dia dan meminta maaf karena sudah datang terlambat. Tidak biasanya dia berbicara serius seperti ini, dan dia juga memegang tanganku. Tidak bisa dipercayai ternyata dia memintaku untuk menjadi pacarnya, sejenak aku terdiam karena tidak percaya dengan ucapannya itu.
“Gimana sil kamu mau nggak jadi pacar aku?” Dengan muka serius, aku bingung harus jawab apa. Tapi kalau boleh jujur sebenarnya aku juga menyayanginya.
“Iya aku mau kok jadi pacarmu.” Dengan muka pucatnya itu Vino memelukku dan berkata.
“terima kasih, aku sayang sama kamu banget sil. Kamu beda dari cewek-cewek yang ada di kelas” mendengar ucapannya itu mukaku menjadi merah.
“Iya sama-sama vin. Oh iya kok muka kamu kelihatan pucat sekali, kamu kenapa?” Tanyaku serius.
“oh ini gak apa-apa kok, tadi sedikit pusing saja” aku hanya tersenyum.
Tak lama bibi meneleponku, aku meminta izin untuk mengangkat telepon dari bibi. Setelah aku kembali, betapa kagetnya aku melihat Vino sudah terkapar di tanah dengan darah yang ke luar dari hidungnya. Aku tercengang, tidak tahu harus melakukan apa. Aku menelpon Kevin dan Naila untuk segera datang ke taman, tetapi aku tahu mereka pasti akan datang lama. Akhirnya aku memanggil paman untuk membawa Vino ke rumah sakit, dan menyuruh Kevin dan Naila untuk langsung datang ke rumah sakit. Vino sedang ditangani oleh dokter, saat ini Vino sedang ada di ruang UGD.
Sebenarnya aku sudah merasa ada yang aneh dari Vino, semenjak kejadian aku melihat tetesan darah di rumahnya Kevin, Vino juga sering pingsan di sekolah, dan sering ke luar masuk kamar mandi sambil menutupi hidungnya. Dokter dari ruangan Vino ke luar, aku menghampirinya dan bertanya mengenai Vino.
“dok sebenarnya apa yang terjadi dengan Vino? Belakangan ini Vino sering pingsan di sekolah dan ke luar masuk kamar mandi menutupi hidungnya.” aku sangat khawatir dengan keadaan Vino.
“saya minta maaf sebelumnya, saya tidak bisa memberitahu penyakit apa yang sedang diderita Vino, ini semua sudah permintaan Vino sebelumnya” katanya.
“Vino sudah sering datang ke sini dok? Kenapa dia tidak pernah bilang ke saya kalau dia punya penyakit? Kita temenan sudah lama dok”
“iya, tapi saya minta maaf karena tidak bisa memberitahu. Kalau kamu ingin melihat Vino, sekarang juga sudah bisa. Dia juga sudah dipindahkan ke ruang ICU”
Aku masuk ke ICU ketika sudah boleh dipersilakan masuk. Vino berbaring di ranjang, masih dengan selang infus di tangannya. Dia tersenyum melihatku. Dia kelihatan sangat pucat.
“hai sil” sapa Vino.
“hai” aku tersenyum.
“apa kabar sil?” Tanya Vino setelah Kevin dan Naila datang.
Bodoh! seharunya aku yang bertanya duluan, bagaimana keadaanmu? Better?
“yah, baik-baik saja. Sedikit mengkhawatirkanmu. Kamu gimana?” ujarku.
“aku udah mendingan kok, maaf ya sudah merepotkanmu”
“iya nggak apa-apa kok, yang penting kamu cepat sembuh. Memangnya kamu sakit apa sih? Tadi aku tanya ke dokter tapi dia tidak mau memberitahuku” ujarku sedih.
“bukan penyakit apa-apa kok, sebentar lagi juga sembuh”
“awas aja kalau kamu bohong” kataku kesal.
Malam sudah sangat larut. Aku meminta izin untuk pulang ke rumah karena sudah terlalu malam, takutnya bibi sudah menungguku di rumah. Kevin yang akan menjaga Vino di rumah sakit, aku dan Naila berpamitan untuk pulang.
Besoknya Vino sudah dapat izin dari dokter untuk bisa pulang, tetapi di saat aku ingin mengantarkannya pulang Vino menolaknya. Dia hanya ingin pulang sendiri naik taksi tanpa diantar oleh siapapun, awalnya aku sangat kesal karena dalam keadaan sakit dia harus pulang sendiri. Tetapi dia tetap melawan akhirnya aku mengiyakannya. Vino tidak pernah mau ada temannya yang datang ke rumahnya sekalipun itu aku, Naila, dan Kevin.
Sudah tiga hari Vino tidak ada kabarnya, aku tahu pasti dia masih sakit. Tetapi aku telepon dan sms tidak ada yang dijawab sama dia. Akhirnya aku memaklumi mungkin dia memang masih sakit. Seminggu berlalu Vino juga tidak berangkat ke sekolah, aku sangat khawatir semuat sms dan teleponku tidak ada yang dijawab. Aku ingin sekali datang ke rumahnya tetapi aku tidak tahu dimana, karena Vino tidak pernah mengajakku untuk bermain ke rumahnya. Dua minggu kemudian Vino tetap tidak hadir di sekolah tanpa keterangan. Saat aku sedang duduk di kelas Naila dan Kevin menghampiriku dengan membawa sebuah surat dan ternyata surat itu dari Vino yang berisikan,
“Sil mungkin di saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku minta maaf karena aku tidak pernah bilang ke kamu kalau aku mempunyai penyakit, sebenarnya aku mempunyai penyakit kanker yang kata dokter umurku sudah tidak lama lagi. Maafkan aku karena aku tidak pernah mau mengajak kamu, Naila, dan Kevin ke rumah. Aku hanya tidak mau ada orang yang tahu tentang keberadaanku.”
“Aku sayang banget sama kamu sil, maafin aku kalau aku baru jujur sama kamu belakangan ini karena aku tidak berani untuk mengatakannya. Aku sangat sayaaang padamu Silvi Sebastian sejak awal ketemu kamu beda dari yang lainnya. Sungguh aku minta maaf sama kamu karena tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kamu. I will always love you sil and everyting will be okay. Tetap tersenyum untukku, karena senyumanmu yang membuatku menjadi semangat. Sekian surat dariku.
V.I.N.O”
Air mataku menetes begitu selesai membaca suratnya. Aku juga sayang banget vin sama kamu, tetapi kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya penyakit? Dan kenapa kamu ninggalin aku sangat cepat? Kevin dan Naila menghampiriku dan memelukku. Mereka menceritakan kejadiannya.
“sil tadi pembantunya Vino datang ke sekolah, dia mencarimu tapi karena kamu belum datang dia menitipkan surat itu ke aku dan nai. Vino meninggal tiga hari yang lalu di rumahnya, pada jam 10. Kanker yang ada di tubuhnya sudah tidak bisa diobati lagi, Vino sudah tidak kuat lagi untuk menahan sakitnya itu. Akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya jumat kemarin.” aku meneteskan air mata di pelukan Naila, aku sangat sedih kenapa Vino harus secepat itu pergi meninggalkanku.
“kita mencintai orang yang sama Sil,” Kevin buka suara.
“Tuhan hanya meminjamkan malaikat itu sejenak kepada kita, terlalu sejenak untuk dicintai”
“dia sekarang sedang bernyanyi bersama bidadari di surga, dia pasti tidak ingin melihat kita bersedih”
“kita harus melanjutkan hidup dan berusaha bahagia walau sebenernya kita merasa sedih karena ditinggal orang yang sangat kita cintai”
“kamu benar sil, kamu harus bangkit. Walau tidak ada Vino, tapi di sini masih ada aku dan nai yang selalu sayang sama kamu”
Dalam pelukan Kevin dan Naila air mataku jatuh tetes demi tetes.
Namaku Silvi Sebastian, atau biasa teman-temanku memanggilku dengan sapaan Silvi. Aku sekolah di SMA Tunas Bangsa kelas 11 jurusan IPA, di sekolah ini aku mempunyai dua orang yang sudah aku anggap sebagai sahabatku yang sayang denganku dan yang selalu ada buatku di saat suka maupun duka, yaitu Kevin dan Naila. Aku juga mempunyai orangtua yang masih utuh, tetapi mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Aku adalah anak tunggal dari orangtuaku. Orangtuaku tidak pernah ada di rumah, karena dia harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri karena harus meeting dengan teman bisnisnya, sekalinya pulang mungkin juga mereka tidak akan mencariku dan tidak lama mereka berangkat untuk berkerja lagi. Di rumah aku hanya tinggal dengan dua orang pembantuku atau biasa aku memanggilnya bibi dan paman. Bibi bekerja di dapur sedangkan paman menjadi supir kalau aku ingin berangkat sekolah.
Aku sangat kecewa karena setiap harinya aku hanya diantar oleh paman, padahal aku ingin sekali diantar oleh orangtuaku ke sekolah. Merasa iri hati melihat teman-teman yang diantar oleh orangtuanya ke sekolah. Tetapi lagi-lagi rasa sedihku seketika hilang karena ada sahabatku yang tersayang. Mereka yang selalu membuatku tidak merasa sedih lagi, mereka yang selalu membuatku senang. Mereka sangat tidak suka kalau melihatku sedih maka dari itu mereka selalu melakukan cara apapun untuk membuatku tersenyum.
Jam 05.00 pagi aku sudah harus bangun, karena aku harus bersiap-siap sekolah. Bibi sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan, dan paman juga sudah memanaskan mobil di depan rumah. Selesai aku bersiap-siap di kamar aku turun ke bawah untuk menyantap sarapan pagiku yang hanya ditemani oleh bibi dan paman.
“Pagi semua..” aku menyapa bibi dan paman yang sedang berada di lantai bawah.
“Pagi juga non, ayo silakan sarapan dulu. Bibi juga sudah menyiapkan bekal untuk non bawa ke sekolah dan paman juga sudah memanaskan mobil..” kata bibi memberitahuku.
Selesei sarapan aku langsung menuju ke mobil karena sudah jam enam, takut terlambat. Sesampainya di sekolah ternyata Kevin dan Naila sudah menungguku di gerbang sekolah. Aku pun menuju ke arah mereka dan langsung ke kelas karena bel sudah berbunyi tanda jam pelajaran dimulai. Di kelas aku duduk sebangku dengan Naila, sedangkan Kevin duduk bersama Boby di depan bangkuku. Tetapi hari ini Boby sedang tidak masuk sekolah karena sakit.
Jam pelajaran pertama adalah pelajaran matematika, pelajaran yang sangat membosankan bagiku. Dua jam pelajaran sudah lewat dan bel pun berbunyi tanda sudah jamnya istirahat, aku mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan bibi tadi pagi. Kevin dan Naila juuga ikut mengeluarkan bekal yang mereka bawa dari rumah.
“Sil, tahu nggak sih? Katanya kelas kita bakal ada murid baru loh. Pindahan dari SMA Pangudi Luhur. Katanya sih ganteng Sil, tapi kita lihat saja nanti” seperti biasa, kalau jamnya istirahat pasti Naila yang paling berisik, dia selalu mengajakku berbicara.
Kali ini Naila membicarakan anak baru yang akan masuk di kelasku. tetapi aku dan Kevin tidak terlalu mempedulikan pembicaraan Naila, karena Naila kalau sudah membicarakan cowok pasti tidak bisa berhenti.
“ah kamu Nai kalau ada murid baru apalagi cowok pasti semangat banget buat membicarakannya hehe” kataku mengejeknya, dan Kevin mengiyakan pendapatku.
“Tapi kali ini gue serius Sil, katanya anak baru itu ganteng dan namanya kalau gak salah Vino. Dari namanya aja udah keren apalagi orangnya” katanya.
“tapi tetap…” Belum selesai aku menjawab pembicaraan Naila, bel sudah berbunyi tanda istirahat sudah selesai. Aku, Kevin dan Naila pun membereskan bekal yang habis kita makan.
Sekarang adalah jam pelajaran fisika, gurunya sangat galak dan tidak enak untuk dilihat. Tetapi kali ini pak guru mukanya tidak seperti biasa, dia tersenyum ke anak-anak di kelas.
“anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Ayo Vino silakan masuk dan perkenalkan dirimu” selesai pak guru berbicara, murid itu masuk ke dalam kelas. Belum sempat memperkenalkan diri ke teman-teman, anak perempuan termasuk Naila berserentak.
“duh ganteng banget sih”
“Duhh please deh apa gantengnya sih orang kayak dia? menurutku tuh dia biasa aja tapi yang lainnya saja pada berlebihan” kataku dalam hati.
Dia pun memperkenalkan diri di depan kelas. “hai semuanya, nama gue Vino Bastian gue dari SMA Pangudi Luhur. Salam kenal.” katanya.
Serentak anak perempuan dan lagi-lagi termasuk Naila menjawab, “salam kenal juga Vino.” Aku dan Kevin sangat tidak mempedulikan perkenalan itu, selesai Vino memperkenalkan diri pak guru mempersilakan Vino duduk di sebelah Kevin, karena hari ini Boby tidak masuk sekolah.
Karena Vino duduk di depanku dan juga Naila, akhirnya Naila sangat agresif buat berkenalan dengan Vino. Semuanya akhirnya kembali belajar seperti biasa. Di tengah jam pelajaran Naila sangat berisik, dia membicarakan Vino terus.
“Sil kamu nyadar nggak sih kalau nama kamu sama Vino sama-sama ada sebastiannya” katanya.
“aduh nai kamu tuh berisik banget sih dari tadi ngomongin Vino melulu, lagian nama dia itu bastian bukan Sebastian. Sudah belajar dulu saja” kataku dengan kesal, akhirnya Naila tidak berkutik lagi.
Jam pelajaran selesai, bel pulang pun sudah berbunyi. Aku juga sudah dijemput paman di gerbang sekolah, Naila dan Kevin juga berada di sampingku. Aku meminta izin untuk pulang duluan, dan mereka juga suda dijemput. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku karena hari ini cuaca sangat panas. Aku butuh istirahat, aku tertidur di tempat tidur tanpa mandi dan ganti baju. Tak terasa aku tertidur sangat pulas sehingga aku baru bangun keesokan harinya. Keesokan harinya ku jalani seperti hari-hari biasa, yang hanya ditemani oleh bibi dan paman. Di sekolah juga ku jalani seperti biasa, dan kali ini aku, Kevin dan Naila menjadi dekat dengan Vino mungkin karena duduk kita tidak berjauhan.
Minggu demi minggu aku terbiasa dengan keberadaan Vino, hubungan kita pun menjadi sangat dekat. Kami sering satu kelompok dalam pelajaran apapun, meski awalnya aku merasa tidak peduli dengan Vino tetapi kali ini aku merasa kasihan dengan Vino. Mendengar semua cerita Vino mengenai keluarganya yang sudah tidak ada karena kecelakaan pesawat saat ingin kembali ke jakarta tak lama setelah Vino pindah sekolah di sekolahku, dan Vino sama seperti aku yang hanya tinggal bersama pembantunya.
Suatu ketika di saat kita sedang kerja kelompok di rumahnya Kevin aku melihat tetesan darah menuju kamar mandi. Aku menanyakan hal itu ke Kevin.
“vin maaf sebelumnya ini tetesan darah apa yah? Sepertinya darah ini masih baru karena belum kering,” tak sengaja aku melihat muka Vino yang tiba-tiba memucat dan seperti orang kebingungan.
“hah darah apaan? Tadi kan yang ke kamar mandi Vino sil” Belum selesai menjawab, Naila sudah menyambar.
“apaan sih lo semua bikin suasana jadi tegang aja deh. Paling juga itu darah binatang. Yakan vin?” Aku merasa bingung.
“hah iya kali ya darah binatang, aku tidak tahu hehe” aku jelas sekali melihat muka paniknya Vino, tetapi aku hanya mengiyakannya saja. Kerja kelompok akhirnya selesai, aku meminta izin untuk pulang karena paman sudah menjemputku.
Setelah kami kerja kelompok, kami sering main bersama terkadang kami bermain ke rumah Kevin atau juga ke rumah Naila untuk mengerjakan tugas-tugas atau hanya sekedar main saja, tetapi aku belum pernah datang ke rumah Vino. Hubungan kami sekarang menjadi sangat dekat. Suatu hari aku tidak bisa mempercayai sama apa yang aku lihat, aku melihat Vino sudah berada di gerbang sekolah dan ternyata dia menungguku.
“Sil bisa nggak hari ini kita ketemuan jam 7 di taman dekat rumahmu?” Katanya sambil mengajakku berjalan ke arah kelas.
“Hmm kayaknya bisa deh, tapi nanti aku kabarin lagi deh. Emang kamu mau ngomong apa?” Tanyaku karena bingung kenapa tiba-tiba dia mengajakku ketemuan.
“ah tidak aku hanya ingin ketemu kamu saja” katanya meledekiku, aku hanya tertawa.
Sehari ku jalani dengan semua pelajaran yang sangat tidak menyenangkan, bel sudah berbunyi tanda waktu sekolah sudah pulang.
Sampai di rumah sudah sangat sore, karena hari ini jalanan macet. Sesaat aku teringat dengan janjiku untuk bertemu Vino di taman, aku mandi dan bersiap-siap. Selesai itu, aku langsung menuju taman dekat rumah. Ternyata Vino sudah berada di sana duluan, tetapi aku kaget ketika melihat muka dia yang sangat pucat. Aku langsung menghampiri dia dan meminta maaf karena sudah datang terlambat. Tidak biasanya dia berbicara serius seperti ini, dan dia juga memegang tanganku. Tidak bisa dipercayai ternyata dia memintaku untuk menjadi pacarnya, sejenak aku terdiam karena tidak percaya dengan ucapannya itu.
“Gimana sil kamu mau nggak jadi pacar aku?” Dengan muka serius, aku bingung harus jawab apa. Tapi kalau boleh jujur sebenarnya aku juga menyayanginya.
“Iya aku mau kok jadi pacarmu.” Dengan muka pucatnya itu Vino memelukku dan berkata.
“terima kasih, aku sayang sama kamu banget sil. Kamu beda dari cewek-cewek yang ada di kelas” mendengar ucapannya itu mukaku menjadi merah.
“Iya sama-sama vin. Oh iya kok muka kamu kelihatan pucat sekali, kamu kenapa?” Tanyaku serius.
“oh ini gak apa-apa kok, tadi sedikit pusing saja” aku hanya tersenyum.
Tak lama bibi meneleponku, aku meminta izin untuk mengangkat telepon dari bibi. Setelah aku kembali, betapa kagetnya aku melihat Vino sudah terkapar di tanah dengan darah yang ke luar dari hidungnya. Aku tercengang, tidak tahu harus melakukan apa. Aku menelpon Kevin dan Naila untuk segera datang ke taman, tetapi aku tahu mereka pasti akan datang lama. Akhirnya aku memanggil paman untuk membawa Vino ke rumah sakit, dan menyuruh Kevin dan Naila untuk langsung datang ke rumah sakit. Vino sedang ditangani oleh dokter, saat ini Vino sedang ada di ruang UGD.
Sebenarnya aku sudah merasa ada yang aneh dari Vino, semenjak kejadian aku melihat tetesan darah di rumahnya Kevin, Vino juga sering pingsan di sekolah, dan sering ke luar masuk kamar mandi sambil menutupi hidungnya. Dokter dari ruangan Vino ke luar, aku menghampirinya dan bertanya mengenai Vino.
“dok sebenarnya apa yang terjadi dengan Vino? Belakangan ini Vino sering pingsan di sekolah dan ke luar masuk kamar mandi menutupi hidungnya.” aku sangat khawatir dengan keadaan Vino.
“saya minta maaf sebelumnya, saya tidak bisa memberitahu penyakit apa yang sedang diderita Vino, ini semua sudah permintaan Vino sebelumnya” katanya.
“Vino sudah sering datang ke sini dok? Kenapa dia tidak pernah bilang ke saya kalau dia punya penyakit? Kita temenan sudah lama dok”
“iya, tapi saya minta maaf karena tidak bisa memberitahu. Kalau kamu ingin melihat Vino, sekarang juga sudah bisa. Dia juga sudah dipindahkan ke ruang ICU”
Aku masuk ke ICU ketika sudah boleh dipersilakan masuk. Vino berbaring di ranjang, masih dengan selang infus di tangannya. Dia tersenyum melihatku. Dia kelihatan sangat pucat.
“hai sil” sapa Vino.
“hai” aku tersenyum.
“apa kabar sil?” Tanya Vino setelah Kevin dan Naila datang.
Bodoh! seharunya aku yang bertanya duluan, bagaimana keadaanmu? Better?
“yah, baik-baik saja. Sedikit mengkhawatirkanmu. Kamu gimana?” ujarku.
“aku udah mendingan kok, maaf ya sudah merepotkanmu”
“iya nggak apa-apa kok, yang penting kamu cepat sembuh. Memangnya kamu sakit apa sih? Tadi aku tanya ke dokter tapi dia tidak mau memberitahuku” ujarku sedih.
“bukan penyakit apa-apa kok, sebentar lagi juga sembuh”
“awas aja kalau kamu bohong” kataku kesal.
Malam sudah sangat larut. Aku meminta izin untuk pulang ke rumah karena sudah terlalu malam, takutnya bibi sudah menungguku di rumah. Kevin yang akan menjaga Vino di rumah sakit, aku dan Naila berpamitan untuk pulang.
Besoknya Vino sudah dapat izin dari dokter untuk bisa pulang, tetapi di saat aku ingin mengantarkannya pulang Vino menolaknya. Dia hanya ingin pulang sendiri naik taksi tanpa diantar oleh siapapun, awalnya aku sangat kesal karena dalam keadaan sakit dia harus pulang sendiri. Tetapi dia tetap melawan akhirnya aku mengiyakannya. Vino tidak pernah mau ada temannya yang datang ke rumahnya sekalipun itu aku, Naila, dan Kevin.
Sudah tiga hari Vino tidak ada kabarnya, aku tahu pasti dia masih sakit. Tetapi aku telepon dan sms tidak ada yang dijawab sama dia. Akhirnya aku memaklumi mungkin dia memang masih sakit. Seminggu berlalu Vino juga tidak berangkat ke sekolah, aku sangat khawatir semuat sms dan teleponku tidak ada yang dijawab. Aku ingin sekali datang ke rumahnya tetapi aku tidak tahu dimana, karena Vino tidak pernah mengajakku untuk bermain ke rumahnya. Dua minggu kemudian Vino tetap tidak hadir di sekolah tanpa keterangan. Saat aku sedang duduk di kelas Naila dan Kevin menghampiriku dengan membawa sebuah surat dan ternyata surat itu dari Vino yang berisikan,
“Sil mungkin di saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku minta maaf karena aku tidak pernah bilang ke kamu kalau aku mempunyai penyakit, sebenarnya aku mempunyai penyakit kanker yang kata dokter umurku sudah tidak lama lagi. Maafkan aku karena aku tidak pernah mau mengajak kamu, Naila, dan Kevin ke rumah. Aku hanya tidak mau ada orang yang tahu tentang keberadaanku.”
“Aku sayang banget sama kamu sil, maafin aku kalau aku baru jujur sama kamu belakangan ini karena aku tidak berani untuk mengatakannya. Aku sangat sayaaang padamu Silvi Sebastian sejak awal ketemu kamu beda dari yang lainnya. Sungguh aku minta maaf sama kamu karena tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kamu. I will always love you sil and everyting will be okay. Tetap tersenyum untukku, karena senyumanmu yang membuatku menjadi semangat. Sekian surat dariku.
V.I.N.O”
Air mataku menetes begitu selesai membaca suratnya. Aku juga sayang banget vin sama kamu, tetapi kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya penyakit? Dan kenapa kamu ninggalin aku sangat cepat? Kevin dan Naila menghampiriku dan memelukku. Mereka menceritakan kejadiannya.
“sil tadi pembantunya Vino datang ke sekolah, dia mencarimu tapi karena kamu belum datang dia menitipkan surat itu ke aku dan nai. Vino meninggal tiga hari yang lalu di rumahnya, pada jam 10. Kanker yang ada di tubuhnya sudah tidak bisa diobati lagi, Vino sudah tidak kuat lagi untuk menahan sakitnya itu. Akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya jumat kemarin.” aku meneteskan air mata di pelukan Naila, aku sangat sedih kenapa Vino harus secepat itu pergi meninggalkanku.
“kita mencintai orang yang sama Sil,” Kevin buka suara.
“Tuhan hanya meminjamkan malaikat itu sejenak kepada kita, terlalu sejenak untuk dicintai”
“dia sekarang sedang bernyanyi bersama bidadari di surga, dia pasti tidak ingin melihat kita bersedih”
“kita harus melanjutkan hidup dan berusaha bahagia walau sebenernya kita merasa sedih karena ditinggal orang yang sangat kita cintai”
“kamu benar sil, kamu harus bangkit. Walau tidak ada Vino, tapi di sini masih ada aku dan nai yang selalu sayang sama kamu”
Dalam pelukan Kevin dan Naila air mataku jatuh tetes demi tetes.

Cerpen Dunia Tak Lagi Sama

Perkenalkan namaku Icha, Hari itu seperti biasa aku menunggu bus di halte, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dari belakangku.
“Hey cha?” Jawabnya.
“Iya, kok tahu namaku?” jawabku.
“Masih muda cepet banget lupanya? coba inget-inget!” Jawabnya santai.
Dalam hatiku berpikir, “siapa yah cowok ni?”
“Cha jangan melamun!” Jawabnya.
Kata-kata itu mengingatkanku dengan sahabat lamaku.
“Hehehe.. Riko yah, apa kabar ko?” Jawabku.
“Akhirnya inget juga, lagi baik-baiknya cha, kalau kamu gimana kabarnya?” Jawab Riko.
“Sama dong” jawabku.
“Bagus deh, oh iya mau pulang bareng nggak?” Kata Riko.
“Nggak usah ko ntar ngerepotin kamu aja” jawabku.
“Nggak apa-apa lagian kita kan searah” jawabnya.
“Hmm, gimana yah ko?” Pikirku bingung.
“Udah nggak usah kelamaan mikir deh cha” jawabnya sambil menarikku ke arah motornya.
Sepanjang perjalanan ke rumahku, aku hanya bisa tersenyum sendiri.
Hari demi hari berlalu semakin sering Riko mengantarku pulang dan kami mulai teleponan atau smsan mulai tumbuh rasa di hatiku. Hidupku yang terasa sepertinya Hitam-Putih kini telah berwarna-warni. Hingga tiba-tiba teleponku berdering, ternyata itu telepon dari Riko.
“Halo cha…” Riko.
“Iya Halo” Jawabku.
“Ada yang mau aku omongin sama kamu, Kita bisa ketemuan nggak cha?” Tanyanya.
“Emang nggak bisa lewat telepon yah ko?” Jawabku.
“Bisa sih, tapi enakkan bilang langsung ke kamu” jawabnya.
“Huhuhu, dasar kamu” jawabku kesal.
“Cha aku tunggu di taman jam 7, jangan nggak dateng yah” jawabnya.
Tut… tut… tut… telepon pun terputus, karena penasaran akan apa yang ingin dikatakan Riko, aku pun bergegas ke taman.
Hari itu hujan deras, aku datang setengah jam lebih awal. Aku terus menunggu di taman hingga tengah malam tapi Riko tak kunjung datang. Aku telepon dan sms tapi tidak ada balasan darinya. Terlintas di benakku sepertinya Riko bukan jodohku. Sesampainya di rumah handphone-ku berdering ternyata itu telepon dari Riko. Karena aku begitu marah karena dia tidak datang ke taman, lalu ku matikan hp dan pergi tidur.
Keesokan pagi ketika aku menyalakan hp terdapat satu pesan.
“Maaf sebelumnya, apa anda pacarnya? Tolong beritahu keluarganya kalau mas ini mengalami kecelakaan dan sekarang lagi berada di UGD RS”
Betapa terkejutnya aku, mendengar kabar itu. Secepatnya aku dan keluarga Riko pergi ke rumah sakit. Keluarlah dokter dan perawat.
“Maaf siapa yang namanya Icha?” Tanya dokter.
“Saya dok, ada apa yah?” Jawabku khawatir.
“Semalam ketika Riko dibawa ke sini, dia mengenggam cokelat dan sebuah surat, sepertinya ini untuk anda” jawab suster.
Ku baca surat tersebut, perasaan senang sekaligus sedih ku rasakan, ternyata Riko mengajak bertemu agar bisa bilang kalau dari dulu dia suka sama aku.
“Dok apa Riko nggak apa-apa?” Tanyaku.
“Maaf kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa Riko tidak bisa lagi diselamatkan” jawab dokter.
Mendengar kata-kata itu seluruh tubuhku lemas seketika tanpa sadar air mata ini tak berhenti menangis.
Kepergian Riko membuatku depresi. Membuatku ingin bunuh diri, siapa sangka Riko akan pergi secepat ini. Aku belajar tegar menghadapi semua namun ternyata aku masih belum bisa melupakannya. Hingga sekarang setiap tanggal tersebut aku selalu pergi ke kuburan membacakan doa untuknya.
Perkenalkan namaku Icha, Hari itu seperti biasa aku menunggu bus di halte, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dari belakangku.
“Hey cha?” Jawabnya.
“Iya, kok tahu namaku?” jawabku.
“Masih muda cepet banget lupanya? coba inget-inget!” Jawabnya santai.
Dalam hatiku berpikir, “siapa yah cowok ni?”
“Cha jangan melamun!” Jawabnya.
Kata-kata itu mengingatkanku dengan sahabat lamaku.
“Hehehe.. Riko yah, apa kabar ko?” Jawabku.
“Akhirnya inget juga, lagi baik-baiknya cha, kalau kamu gimana kabarnya?” Jawab Riko.
“Sama dong” jawabku.
“Bagus deh, oh iya mau pulang bareng nggak?” Kata Riko.
“Nggak usah ko ntar ngerepotin kamu aja” jawabku.
“Nggak apa-apa lagian kita kan searah” jawabnya.
“Hmm, gimana yah ko?” Pikirku bingung.
“Udah nggak usah kelamaan mikir deh cha” jawabnya sambil menarikku ke arah motornya.
Sepanjang perjalanan ke rumahku, aku hanya bisa tersenyum sendiri.
Hari demi hari berlalu semakin sering Riko mengantarku pulang dan kami mulai teleponan atau smsan mulai tumbuh rasa di hatiku. Hidupku yang terasa sepertinya Hitam-Putih kini telah berwarna-warni. Hingga tiba-tiba teleponku berdering, ternyata itu telepon dari Riko.
“Halo cha…” Riko.
“Iya Halo” Jawabku.
“Ada yang mau aku omongin sama kamu, Kita bisa ketemuan nggak cha?” Tanyanya.
“Emang nggak bisa lewat telepon yah ko?” Jawabku.
“Bisa sih, tapi enakkan bilang langsung ke kamu” jawabnya.
“Huhuhu, dasar kamu” jawabku kesal.
“Cha aku tunggu di taman jam 7, jangan nggak dateng yah” jawabnya.
Tut… tut… tut… telepon pun terputus, karena penasaran akan apa yang ingin dikatakan Riko, aku pun bergegas ke taman.
Hari itu hujan deras, aku datang setengah jam lebih awal. Aku terus menunggu di taman hingga tengah malam tapi Riko tak kunjung datang. Aku telepon dan sms tapi tidak ada balasan darinya. Terlintas di benakku sepertinya Riko bukan jodohku. Sesampainya di rumah handphone-ku berdering ternyata itu telepon dari Riko. Karena aku begitu marah karena dia tidak datang ke taman, lalu ku matikan hp dan pergi tidur.
Keesokan pagi ketika aku menyalakan hp terdapat satu pesan.
“Maaf sebelumnya, apa anda pacarnya? Tolong beritahu keluarganya kalau mas ini mengalami kecelakaan dan sekarang lagi berada di UGD RS”
Betapa terkejutnya aku, mendengar kabar itu. Secepatnya aku dan keluarga Riko pergi ke rumah sakit. Keluarlah dokter dan perawat.
“Maaf siapa yang namanya Icha?” Tanya dokter.
“Saya dok, ada apa yah?” Jawabku khawatir.
“Semalam ketika Riko dibawa ke sini, dia mengenggam cokelat dan sebuah surat, sepertinya ini untuk anda” jawab suster.
Ku baca surat tersebut, perasaan senang sekaligus sedih ku rasakan, ternyata Riko mengajak bertemu agar bisa bilang kalau dari dulu dia suka sama aku.
“Dok apa Riko nggak apa-apa?” Tanyaku.
“Maaf kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa Riko tidak bisa lagi diselamatkan” jawab dokter.
Mendengar kata-kata itu seluruh tubuhku lemas seketika tanpa sadar air mata ini tak berhenti menangis.
Kepergian Riko membuatku depresi. Membuatku ingin bunuh diri, siapa sangka Riko akan pergi secepat ini. Aku belajar tegar menghadapi semua namun ternyata aku masih belum bisa melupakannya. Hingga sekarang setiap tanggal tersebut aku selalu pergi ke kuburan membacakan doa untuknya.

Cerpen Impian

“Riski bangun salat subuh!” perintah Nenek Riski.
“iya nek” jawab Riski.
Riski adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama Neneknya, Riski menjadi yatim piatu sejak dia berumur 3 tahun karena kedua orangtuanya meninggal dikarenakan kecelakaan. Sejak kejadian itu Riski tinggal bersama Neneknya.
Pagi itu seperti biasa Riski setelah salat subuh Riski membatu Neneknya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah siap semua tugasnya Riski pun berangkat ke sekolah. Di jalan dia bertemu dengan sahabat-sahabat karibnya yang bernama Amel, Rudi dan Rina. Mereka bersahabat sejak sebelum sekolah dan mereka selalu bersama di saat suka dan duka.
Pada suatu sore Riski duduk sendiri di teras rumah sambil melamun. Dia memikirkan salah satu impiannya yaitu memberangkatkan Neneknya ke tanah suci.
“der kok kamu melamun ris.” kata Rudi mengejutkan Riski.
“kamu ni rud buat kaget aku aja” kata Riski.
“habis kamu melamun sih. Emang apa sih yang kamu pikirkan sampai kamu sering melamun?” Tanya Rudi.
“gini rud aku punya keinginan memberangkatkan Nenekku naik haji, tapi kayaknya mustahil deh rud. Untuk makan aja susah” jelas Riski.
“oh kalau cuma itu sih mungkin ajar ris asalkan kita berusaha dan berdoa” jelas Rudi.
“ya udah yok kita ke lapangan bertemu dengan yang lain.” Ajak Rudi.
“ya udah yuk” jawab Rudi.
Riski dan Rudi pun pergi bermain dengan kawan yang lainnya. Sesampai di lapangan mereka pun bermain dengan suka cita. Tak terasa hari pun mulai senja.
“ayo kita pulang bentar lagi adzan” kata Rina kepada teman temannya. Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Di perjalanan saat mereka mau pulang, tiba-tiba mereka menemukan tas yang berisi uang, beberapa kartu atm dan surat surat penting yang mereka tidak ketahui.
“wah rezeki kamu ni ris. Lihat tuh uangnya banyak” kata Rudi.
“jangan ris ini bukan hak kita, kita harus cari permilik” kata Rina.
“bener tuh, kita harus cari permiliknya, apalagi di dalamnya banyak surat penting” sambung Amel.
“benar juga kata kalian berdua, ya udah yuk kita pulang sambil cari permiliknya” kata Riski.
Tiba tiba mereka melihat seorang Bapak-bapak yang sedang mencari sesuatu.
“coba deh kalian perhatikan, muka Bapak itu mirip dengan gambar yang ada di surat surat di dalam tas ini” kata Amel.
“benar juga mel yuk kita samperin” kata Riski. Mereka pun berjalan menuju Bapak Bapak tersebut.
“Assalamualaikum, pak” sapa Riski.
“walaikumsalam,” jawab Bapak tersebut.
“maaf pak menggagu, kelihatannya Bapak sedang mencari sesuatu” kata Riski.
“betul dek. Bapak sedang mencari tas Bapak yang hilang yang jatuh di sekitar sini.” kata Bapak tersebut.
“apa ini tas yang Bapak cari?” kata Riski sambil memperlihatkan tas yang ditemukan tadi.
Bapak itu pun melihat tas itu dengan teliti.
“betul dek. Dimana adek dapat?” Tanya Bapak itu.
“di situ pak” jawab Riski sambil menunjuk tempat yang tadi.
“Bapak berterima kasih pada adik-adik semua yang udah menemukan tas ini dan mengembalikannya pada Bapak. Kalau tidak ada adik-adik semua mungkin Bapak tidak tahu harus bagaimana” kata Bapak itu.
“sama-sama pak. Udah kewajiban kita untuk membantu dan mengembalikkan apa yang bukan hak kita.” Kata Riski.
“karena hati kalian bergitu mulia, tolong terima ini sebagai hadiah. Anggap aja ini rezeki dari Allah yang dititipkan oleh Bapak” kata Bapak itu sambil memberi berapa kertas.
“apa ini pak?” Tanya Riski.
“ini adalah tiket haji untuk delapan orang. Ini tidak seberapa dengan isi tas ini dan kebetulan perushaan Bapak sedang mengadakan haji gratis untuk seratus orang” jelas Bapak tesebut.
Riski dan teman-teman pun senang sekali dan tidak percaya. Seakan akan mereka berada dalam dunia mimpi. Terutama Riski yang akhirnya bisa mendapatkan apa yang menjadi impiannya. Bapak itu pun pamit setelah memberi tiket haji kepada Riski. Setelah mobil-mobil Bapak itu menjauh, mereka pun pun pulang dengan wajah dan suasana hati yang gembira. Sekaligus tidak sabar memberitahu berita bahagia ini pada keluarga mereka.
TAMAT
“Riski bangun salat subuh!” perintah Nenek Riski.
“iya nek” jawab Riski.
Riski adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama Neneknya, Riski menjadi yatim piatu sejak dia berumur 3 tahun karena kedua orangtuanya meninggal dikarenakan kecelakaan. Sejak kejadian itu Riski tinggal bersama Neneknya.
Pagi itu seperti biasa Riski setelah salat subuh Riski membatu Neneknya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah siap semua tugasnya Riski pun berangkat ke sekolah. Di jalan dia bertemu dengan sahabat-sahabat karibnya yang bernama Amel, Rudi dan Rina. Mereka bersahabat sejak sebelum sekolah dan mereka selalu bersama di saat suka dan duka.
Pada suatu sore Riski duduk sendiri di teras rumah sambil melamun. Dia memikirkan salah satu impiannya yaitu memberangkatkan Neneknya ke tanah suci.
“der kok kamu melamun ris.” kata Rudi mengejutkan Riski.
“kamu ni rud buat kaget aku aja” kata Riski.
“habis kamu melamun sih. Emang apa sih yang kamu pikirkan sampai kamu sering melamun?” Tanya Rudi.
“gini rud aku punya keinginan memberangkatkan Nenekku naik haji, tapi kayaknya mustahil deh rud. Untuk makan aja susah” jelas Riski.
“oh kalau cuma itu sih mungkin ajar ris asalkan kita berusaha dan berdoa” jelas Rudi.
“ya udah yok kita ke lapangan bertemu dengan yang lain.” Ajak Rudi.
“ya udah yuk” jawab Rudi.
Riski dan Rudi pun pergi bermain dengan kawan yang lainnya. Sesampai di lapangan mereka pun bermain dengan suka cita. Tak terasa hari pun mulai senja.
“ayo kita pulang bentar lagi adzan” kata Rina kepada teman temannya. Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Di perjalanan saat mereka mau pulang, tiba-tiba mereka menemukan tas yang berisi uang, beberapa kartu atm dan surat surat penting yang mereka tidak ketahui.
“wah rezeki kamu ni ris. Lihat tuh uangnya banyak” kata Rudi.
“jangan ris ini bukan hak kita, kita harus cari permilik” kata Rina.
“bener tuh, kita harus cari permiliknya, apalagi di dalamnya banyak surat penting” sambung Amel.
“benar juga kata kalian berdua, ya udah yuk kita pulang sambil cari permiliknya” kata Riski.
Tiba tiba mereka melihat seorang Bapak-bapak yang sedang mencari sesuatu.
“coba deh kalian perhatikan, muka Bapak itu mirip dengan gambar yang ada di surat surat di dalam tas ini” kata Amel.
“benar juga mel yuk kita samperin” kata Riski. Mereka pun berjalan menuju Bapak Bapak tersebut.
“Assalamualaikum, pak” sapa Riski.
“walaikumsalam,” jawab Bapak tersebut.
“maaf pak menggagu, kelihatannya Bapak sedang mencari sesuatu” kata Riski.
“betul dek. Bapak sedang mencari tas Bapak yang hilang yang jatuh di sekitar sini.” kata Bapak tersebut.
“apa ini tas yang Bapak cari?” kata Riski sambil memperlihatkan tas yang ditemukan tadi.
Bapak itu pun melihat tas itu dengan teliti.
“betul dek. Dimana adek dapat?” Tanya Bapak itu.
“di situ pak” jawab Riski sambil menunjuk tempat yang tadi.
“Bapak berterima kasih pada adik-adik semua yang udah menemukan tas ini dan mengembalikannya pada Bapak. Kalau tidak ada adik-adik semua mungkin Bapak tidak tahu harus bagaimana” kata Bapak itu.
“sama-sama pak. Udah kewajiban kita untuk membantu dan mengembalikkan apa yang bukan hak kita.” Kata Riski.
“karena hati kalian bergitu mulia, tolong terima ini sebagai hadiah. Anggap aja ini rezeki dari Allah yang dititipkan oleh Bapak” kata Bapak itu sambil memberi berapa kertas.
“apa ini pak?” Tanya Riski.
“ini adalah tiket haji untuk delapan orang. Ini tidak seberapa dengan isi tas ini dan kebetulan perushaan Bapak sedang mengadakan haji gratis untuk seratus orang” jelas Bapak tesebut.
Riski dan teman-teman pun senang sekali dan tidak percaya. Seakan akan mereka berada dalam dunia mimpi. Terutama Riski yang akhirnya bisa mendapatkan apa yang menjadi impiannya. Bapak itu pun pamit setelah memberi tiket haji kepada Riski. Setelah mobil-mobil Bapak itu menjauh, mereka pun pun pulang dengan wajah dan suasana hati yang gembira. Sekaligus tidak sabar memberitahu berita bahagia ini pada keluarga mereka.
TAMAT

Cerpen Rahman

Rahman, namanya singkat dan tak ada kepanjangannya. Setiap kali dia disuruh untuk menulis nama panjangnya, dia diam saja untuk beberapa saat, lalu kemudian berkata, “Aku tak tahu nama panjangku.” Oleh karena itu, dia pun tak pernah menulis nama lengkapnya. Entah kenapa Rahman selalu mencoba untuk mengingat kembali ke masa lalunya untuk mengingat namanya.
Dia merasa namanya bukan hanya Rahman, tapi ada lagi yang lain, yang terlupa. Dia tak bisa bertanya pada keluarganya yang sudah lama tak ia temui, kalau tak bisa dibilang ia tak punya keluarga. Ada yang bilang dia adalah anak yang dibuang karena dia lahir sebelum Bapak dan Ibunya resmi menikah. Gosip beterbangan ke sana-sini tentang dirinya. ‘Anak buangan’, ‘anak kasihan’, ‘anak yang menderita’, ‘anak yang terlupakan’, itu semua nama-nama yang dulu akrab ia dengar dari orang-orang untuk menyebut dirinya. Tapi dia tak peduli, karena dia punya nama yang lebih menarik dari sekedar sebutan yang mengisyaratkan kepedihan itu. Namanya Rahman, tapi dia tak tahu nama lengkapnya.
“Mungkin namamu ya cuma Rahman saja kali Man, tak ada embel-embel lain di belakangnya.” Joko, teman baiknya selalu berkata seperti itu untuk membuat dirinya berhenti mencari-cari nama lengkapnya. “Lagian ngapain juga kamu memikirkan hal yang sepele seperti itu, nggak perlu lah Man kamu repot-repot memikirkannya. Yang harus kita pikirkan itu gimana caranya biar bisa hidup enak kayak anggota DPR dan bupati-bupati itu. Pasti enak sekali kalau hidup kita penuh dengan uang ya! Ahahaha!”
Dia hanya tersenyum menanggapi apa yang Joko ucapkan. Sudah kenal betul dia dengan wataknya yang mata duitan dan selalu bermimpi ingin jadi kaya. Nasib yang mempertemukan mereka di atap yang sama. Ya, mereka berdua tinggal di panti asuhan. Sama-sama tak punya keluarga dan tempat untuk tinggal di luar sana. Oleh karena itu Rahman benar-benar merasa bersyukur, Pak Andi mau menampungnya.
“Justru saya yang bersyukur, karena ada kamu saya bisa dekat dengan Rasulullah nanti di surga, hahaha!” Begitu kata Pak Andi ketika Rahman mengucapkan terima kasihnya. Lelaki yang sudah mulai menua itu tampak seperti seorang Ayah bagi Rahman, dan mungkin bagi teman-temannya yang lain pula, seperti Joko. Wataknya yang ramah dan sering kali bercerita tentang kekonyolan membuat Rahman dan teman-teman yang lain menyenanginya. Dia tahu, dengan adanya anak-anak di panti asuhan ini, membuat Pak Andi memiliki beban dan tanggung jawab untuk menghidupi mereka. Mungkin karena hal itulah, ketika bersama dengan anak-anak asuhnya, dia selalu bercanda, mencari kesenangan di tengah kesibukannya mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan hidup mereka.
Di sekolah, Rahman dikenal sebagai anak yang pintar. Maklum, kemampuan otaknya memang melebihi teman-temannya yang lain. Para guru menyukai kecerdasan dan sikapnya yang penuh penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Teman-temannya pun banyak yang menyukainya walaupun ada pula yang iri dengannya. Entah kenapa, Rahman merasa tak nyaman dengan sikap guru-guru yang selalu memujinya di depan teman-temannya. Kalau ada anak yang tak bisa mengerjakan soal, pasti guru yang mengajar berkata, “Kamu ini seharusnya mencontoh Rahman tuh! Dia pintar dan bisa menyelesaikan soal seperti ini!” Dia tak enak hati mendengar apa yang diucapkan oleh para guru.
Oleh karena itu, diam-diam Rahman selalu berbicara dengan teman-temannya. Dia selalu memberikan semangat kepada mereka agar tak patah semangat dan agar teman-temannya tidak menjadikan dirinya sebagai sosok yang harus ditiru oleh mereka.
“Kita semua memiliki potensi yang berbeda teman-teman. Mungkin aku pandai dalam mata pelajaran matematika, tapi aku tak begitu bisa memasak dan menggambar. Tapi lihatlah Anita, dia begitu pandai ketika disuruh menggambar dan masakannya pun sangat enak! Percayalah padaku, aku sudah pernah mencicipnya dulu ketika kita berkemah! Siapa tahu nanti dia bisa menjadi koki yang handal bukan?” Setelah selesai memberikan semangat seperti itu, pasti teman-temannya akan berteriak.
“Setuju!” sementara Rahman akan tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Walaupun dia adalah anak dari panti asuhan, teman-temannya tak memandangnya demikian. Rahman ya Rahman, mungkin begitu yang mereka pikirkan.
Hanya saja, masalah nama ini begitu mengganggu Rahman. Setiap malam hari, sebelum tidur dia pasti selalu memikirkan namanya. Apakah nama ini pemberian Pak Andi? Kalau begitu kenapa aku tak mengingat kapan pertama kali dia berbicara tentang namaku ini? Atau jangan-jangan sebelum ke panti asuhan ini aku sudah pernah diasuh oleh orang lain lalu orang tersebut memberikanku nama ini? Apakah aku berasal dari daerah di sekitar sini ataukah aku lahir di tempat lain yang jauh dari sini? Apakah aku lahir dari pasangan yang bersuku Jawa ataukah Betawi ataukah yang lain? Dari mana sebenarnya aku ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu menghantuinya. Malam ini pun, juga demikian.
“Joko, menurutmu Ibuku seperti apa?” tanyanya pada Joko, yang tidur satu kamar dengannya.
“Heem? Entah Man, mungkin Ibumu itu orangnya jenius. Lha anaknya saja jadi idola guru-guru di sekolahan, hahaha.” Joko, walaupun sudah agak mengantuk, dia masih memiliki kesadaran untuk menjawab pertanyaan dari temannya itu.
“Haha, begitukah? Kalau begitu Ayahku bagaimana?”
“Heem, menurutku dia lelaki yang tak bisa diandalkan. Buktinya dia sampai nggak mau bertanggung jawab atas kelahiranmu kan? Yah, Ayahku pun sama juga sih, hehehe.”
“Apa menurutmu kita ini melakukan kesalahan sampai orangtua kita tega membuang kita Jok?”
“Aduh, pertanyaanmu berat-berat Man. Aku mana mau berpikir sedalam itu. Bagiku aku tidak dIbuang di bantaran kali sudah untung Man. Kasihan aku sama anak-anak yang baru lahir itu sudah dibuang di kali, bahkan ada pula yang dibunuh. Bagiku sudah hidup sampai sekarang saja sudah alhamdulillah Man.”
“Iya Jok, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, apa kamu tak ingin tahu dari mana asalmu? Siapa dirimu?”
“Loh? Asalku ya dari Indonesia toh. Siapa aku? Aduh Man, aku ya aku kan Man, Joko? Memangnya aku siapa lagi?”
“Haha, ya sudah Jok. Besok saja ku jawab, tampaknya kau sudah ngantuk dan sudah nggak bisa mikir lagi, hahaha.”
“Wah wah, enak saja kau ngomong begitu, hahaha. Eh, apa karena kau ingin tahu siapa dirimu itu kau ingin mencari tahu nama lengkapmu? Memangnya kenapa sih Man kau ini begitu ingin tahu nama lengkapmu?”
“Hmm, kurang lebih begitulah Jok. Haha, kalau ku jelaskan memangnya kau bisa paham apa? Semua ini tentang identitas Jok, tentang jati diriku. Gimana, mau diteruskan nggak ini? Hahaha.”
“Wah wah, sepertinya pembicaraan ini sudah bukan levelku lagi Man. Ya sudah, aku tidur saja Man, ngantuk berat nih aku.”
“Oke Jok, tidur sana.”
Selang beberapa saat, suara dengkuran dari Joko yang sudah tidur mulai terdengar oleh Rahman. Sebenarnya suara dengkuran Joko itu tak begitu keras, namun di tengah malam yang sunyi ini suara selirih apapun bisa didengar oleh Rahman. Suara jarum jam yang bergerak. “tik, tik, tik,” menemaninya di malam ini, seperti malam-malam yang lainnya. Dia masih terjaga, memikirkan tentang namanya.
Tapi sesaat kemudian, dia mulai merasakan kantuk. Lalu tak berapa lama kemudian, dia memutuskan untuk tidur. Dia memejamkan matanya, lalu berdoa. Sekalipun dia mungkin tak akan tahu nama lengkapnya, bahkan ada atau tidaknya pun juga belum pasti, tapi Rahman yakin, dirinya adalah dirinya sendiri. Dia bisa menjadi orang yang dia inginkan dan ketika dia sudah dewasa nanti dia berharap tidak hanya namanya yang ia ketahui, tapi juga tentang dirinya. Tentang siapa dirinya, dan kehidupannya.
Rahman, namanya singkat dan tak ada kepanjangannya. Setiap kali dia disuruh untuk menulis nama panjangnya, dia diam saja untuk beberapa saat, lalu kemudian berkata, “Aku tak tahu nama panjangku.” Oleh karena itu, dia pun tak pernah menulis nama lengkapnya. Entah kenapa Rahman selalu mencoba untuk mengingat kembali ke masa lalunya untuk mengingat namanya.
Dia merasa namanya bukan hanya Rahman, tapi ada lagi yang lain, yang terlupa. Dia tak bisa bertanya pada keluarganya yang sudah lama tak ia temui, kalau tak bisa dibilang ia tak punya keluarga. Ada yang bilang dia adalah anak yang dibuang karena dia lahir sebelum Bapak dan Ibunya resmi menikah. Gosip beterbangan ke sana-sini tentang dirinya. ‘Anak buangan’, ‘anak kasihan’, ‘anak yang menderita’, ‘anak yang terlupakan’, itu semua nama-nama yang dulu akrab ia dengar dari orang-orang untuk menyebut dirinya. Tapi dia tak peduli, karena dia punya nama yang lebih menarik dari sekedar sebutan yang mengisyaratkan kepedihan itu. Namanya Rahman, tapi dia tak tahu nama lengkapnya.
“Mungkin namamu ya cuma Rahman saja kali Man, tak ada embel-embel lain di belakangnya.” Joko, teman baiknya selalu berkata seperti itu untuk membuat dirinya berhenti mencari-cari nama lengkapnya. “Lagian ngapain juga kamu memikirkan hal yang sepele seperti itu, nggak perlu lah Man kamu repot-repot memikirkannya. Yang harus kita pikirkan itu gimana caranya biar bisa hidup enak kayak anggota DPR dan bupati-bupati itu. Pasti enak sekali kalau hidup kita penuh dengan uang ya! Ahahaha!”
Dia hanya tersenyum menanggapi apa yang Joko ucapkan. Sudah kenal betul dia dengan wataknya yang mata duitan dan selalu bermimpi ingin jadi kaya. Nasib yang mempertemukan mereka di atap yang sama. Ya, mereka berdua tinggal di panti asuhan. Sama-sama tak punya keluarga dan tempat untuk tinggal di luar sana. Oleh karena itu Rahman benar-benar merasa bersyukur, Pak Andi mau menampungnya.
“Justru saya yang bersyukur, karena ada kamu saya bisa dekat dengan Rasulullah nanti di surga, hahaha!” Begitu kata Pak Andi ketika Rahman mengucapkan terima kasihnya. Lelaki yang sudah mulai menua itu tampak seperti seorang Ayah bagi Rahman, dan mungkin bagi teman-temannya yang lain pula, seperti Joko. Wataknya yang ramah dan sering kali bercerita tentang kekonyolan membuat Rahman dan teman-teman yang lain menyenanginya. Dia tahu, dengan adanya anak-anak di panti asuhan ini, membuat Pak Andi memiliki beban dan tanggung jawab untuk menghidupi mereka. Mungkin karena hal itulah, ketika bersama dengan anak-anak asuhnya, dia selalu bercanda, mencari kesenangan di tengah kesibukannya mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan hidup mereka.
Di sekolah, Rahman dikenal sebagai anak yang pintar. Maklum, kemampuan otaknya memang melebihi teman-temannya yang lain. Para guru menyukai kecerdasan dan sikapnya yang penuh penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Teman-temannya pun banyak yang menyukainya walaupun ada pula yang iri dengannya. Entah kenapa, Rahman merasa tak nyaman dengan sikap guru-guru yang selalu memujinya di depan teman-temannya. Kalau ada anak yang tak bisa mengerjakan soal, pasti guru yang mengajar berkata, “Kamu ini seharusnya mencontoh Rahman tuh! Dia pintar dan bisa menyelesaikan soal seperti ini!” Dia tak enak hati mendengar apa yang diucapkan oleh para guru.
Oleh karena itu, diam-diam Rahman selalu berbicara dengan teman-temannya. Dia selalu memberikan semangat kepada mereka agar tak patah semangat dan agar teman-temannya tidak menjadikan dirinya sebagai sosok yang harus ditiru oleh mereka.
“Kita semua memiliki potensi yang berbeda teman-teman. Mungkin aku pandai dalam mata pelajaran matematika, tapi aku tak begitu bisa memasak dan menggambar. Tapi lihatlah Anita, dia begitu pandai ketika disuruh menggambar dan masakannya pun sangat enak! Percayalah padaku, aku sudah pernah mencicipnya dulu ketika kita berkemah! Siapa tahu nanti dia bisa menjadi koki yang handal bukan?” Setelah selesai memberikan semangat seperti itu, pasti teman-temannya akan berteriak.
“Setuju!” sementara Rahman akan tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Walaupun dia adalah anak dari panti asuhan, teman-temannya tak memandangnya demikian. Rahman ya Rahman, mungkin begitu yang mereka pikirkan.
Hanya saja, masalah nama ini begitu mengganggu Rahman. Setiap malam hari, sebelum tidur dia pasti selalu memikirkan namanya. Apakah nama ini pemberian Pak Andi? Kalau begitu kenapa aku tak mengingat kapan pertama kali dia berbicara tentang namaku ini? Atau jangan-jangan sebelum ke panti asuhan ini aku sudah pernah diasuh oleh orang lain lalu orang tersebut memberikanku nama ini? Apakah aku berasal dari daerah di sekitar sini ataukah aku lahir di tempat lain yang jauh dari sini? Apakah aku lahir dari pasangan yang bersuku Jawa ataukah Betawi ataukah yang lain? Dari mana sebenarnya aku ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu menghantuinya. Malam ini pun, juga demikian.
“Joko, menurutmu Ibuku seperti apa?” tanyanya pada Joko, yang tidur satu kamar dengannya.
“Heem? Entah Man, mungkin Ibumu itu orangnya jenius. Lha anaknya saja jadi idola guru-guru di sekolahan, hahaha.” Joko, walaupun sudah agak mengantuk, dia masih memiliki kesadaran untuk menjawab pertanyaan dari temannya itu.
“Haha, begitukah? Kalau begitu Ayahku bagaimana?”
“Heem, menurutku dia lelaki yang tak bisa diandalkan. Buktinya dia sampai nggak mau bertanggung jawab atas kelahiranmu kan? Yah, Ayahku pun sama juga sih, hehehe.”
“Apa menurutmu kita ini melakukan kesalahan sampai orangtua kita tega membuang kita Jok?”
“Aduh, pertanyaanmu berat-berat Man. Aku mana mau berpikir sedalam itu. Bagiku aku tidak dIbuang di bantaran kali sudah untung Man. Kasihan aku sama anak-anak yang baru lahir itu sudah dibuang di kali, bahkan ada pula yang dibunuh. Bagiku sudah hidup sampai sekarang saja sudah alhamdulillah Man.”
“Iya Jok, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, apa kamu tak ingin tahu dari mana asalmu? Siapa dirimu?”
“Loh? Asalku ya dari Indonesia toh. Siapa aku? Aduh Man, aku ya aku kan Man, Joko? Memangnya aku siapa lagi?”
“Haha, ya sudah Jok. Besok saja ku jawab, tampaknya kau sudah ngantuk dan sudah nggak bisa mikir lagi, hahaha.”
“Wah wah, enak saja kau ngomong begitu, hahaha. Eh, apa karena kau ingin tahu siapa dirimu itu kau ingin mencari tahu nama lengkapmu? Memangnya kenapa sih Man kau ini begitu ingin tahu nama lengkapmu?”
“Hmm, kurang lebih begitulah Jok. Haha, kalau ku jelaskan memangnya kau bisa paham apa? Semua ini tentang identitas Jok, tentang jati diriku. Gimana, mau diteruskan nggak ini? Hahaha.”
“Wah wah, sepertinya pembicaraan ini sudah bukan levelku lagi Man. Ya sudah, aku tidur saja Man, ngantuk berat nih aku.”
“Oke Jok, tidur sana.”
Selang beberapa saat, suara dengkuran dari Joko yang sudah tidur mulai terdengar oleh Rahman. Sebenarnya suara dengkuran Joko itu tak begitu keras, namun di tengah malam yang sunyi ini suara selirih apapun bisa didengar oleh Rahman. Suara jarum jam yang bergerak. “tik, tik, tik,” menemaninya di malam ini, seperti malam-malam yang lainnya. Dia masih terjaga, memikirkan tentang namanya.
Tapi sesaat kemudian, dia mulai merasakan kantuk. Lalu tak berapa lama kemudian, dia memutuskan untuk tidur. Dia memejamkan matanya, lalu berdoa. Sekalipun dia mungkin tak akan tahu nama lengkapnya, bahkan ada atau tidaknya pun juga belum pasti, tapi Rahman yakin, dirinya adalah dirinya sendiri. Dia bisa menjadi orang yang dia inginkan dan ketika dia sudah dewasa nanti dia berharap tidak hanya namanya yang ia ketahui, tapi juga tentang dirinya. Tentang siapa dirinya, dan kehidupannya.

Cerpen Duda Dua Versi

Seperti biasa kami berkumpul di kos-kosan putri sepulang dari mengajar. Membicarakan segala hal yang menarik sambil menunggu jam makan siang.
“Mu.. ada yang mau aku sampaikan.” Anwar memulai pembicaraan.
“Apa tuh?” Ummu menjawab sambil membuka kaos kakinya.
Aku, Juli, Kamaruz, Egi dan Ridwan mulai menyimak.
“Tadi bu kepala sekolah memanggilku, katanya di antara kalian yang perempuan ini, ada gak yang mau jadi Adik iparnya? Kau bilang kau mau menikah kalau ada yang cocok calonnya.”
“Hmm.. aku harus jawab apa?”
“Jangan tanya dulu harus jawab apa Mu, tanya dulu dia seperti apa orangnya.” Juli mulai ikut dalam pembicaraan.
“Iya Mu.. menikah itu bukan satu hubungan yang bisa dijalani sesuka kita.” Aku mulai ikut-ikutan.
“Kalau aku gampang-gampang aja, yang penting dia baik.” Ummu seolah pasrah dengan nasib.
“Kau yakin? Kalau dia duda gimana?” Juli mulai membahas ke arah yang lebih spesifik.
Sambil menepuk pundak Anwar, Kamaruz meminta agar menceritakan apa yang diperbincangkan dengan Ibu kepala sekolah tadi. Anwar menuruti.
“Begini.. tadi aku masih ngisi materi di kelasku, Ibu kepala lewat dan memanggilku supaya jam istirahat menemuiku di ruangannya. Jam istirahat aku pun langsung menemuinya, Ibu kepala pun cerita. Dia punya Adik kandung laki-laki sedang mencari jodoh, statusnya duda punya anak satu, perempuan. Istrinya meninggal. Riwayat pernikahannya, anak pertama mereka meninggal setelah dilahirkan. Lalu, pada kelahiran anak kedua mereka ini terulang lagi masalah ketika kelahiran pertama. Akhirnya, yang terselamatkan adalah anak, istrinya yang meninggal. Mertuanya meminta kalau anaknya mereka yang urus sebagai ganti anaknya yang telah wafat. Sekarang Adik Ibu kepala telah menyerahkan masalah jodohnya dengan ibu, dia tidak mau kecewa lagi atas pilihannya. Begitu..”
Pembicaraan mulai memanas. Semua berkomentar dan saling adu argumen dengan teman yang saling berdekatan.
“Kalau urusan wafat ya gak kuasa kita dong,” aku mulai memberi pendapat.
“Kalau bisa juga, ya cari yang single ajalah Mu,” Kamaruz memberi saran.
“Eeehh.. jangan salah ya, Bapakku juga duda kok, tapi sayang sama emakku. Gak mau marah, lemah lembut, apalagi sama aku. Duda lebih berpengalaman.” Egi mulai angkat bicara dengan gaya bicara pesinden.
“Tapi gak semua duda seperti Bapakmu Gi,” Ridwan meledek sambil tersenyum.
“Apa salahnya dengan duda, kalau emang baik. Sekarang kan tergantung kesiapan mental si Ummu, dia mau terima abang itu gak?” Juli menambahi.
“Menurutku, dengan mendengar penjelasan status duda si abang menjadi duda karena cerai mati itu lebih aman loh. Gak akan ada sangkut paut lagi dengan mantan istri, keluarganya pun sudah tidak bisa campur tangan urusan rumah tangga kita. Apalagi anaknya sudah diurus oleh pihak mantan istri. Aku punya teman yang menikah dengan duda cerai hidup, mantan istrinya itu suka ganggu kehidupan temanku itu. Alasan mau jenguk anak, mau ngajak anak main, pulang kemalaman akhirnya numpang menginap. Menggoda-goda mantan suaminya yang kadang menjadi pemicu mereka bertengkar. Semakin dia sering menggoda dan minta rujuk setelah tahu kehidupan sang mantan mulai membaik secara ekonomi. Kau sendiri gimana Jul dengan pak kades yang duda itu?” ku senggol bahu si Juli yang sedang asyik main hp.
Juli juga sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seorang kades di kampung sebelah. Konon ceritanya, pak Kades bercerai karena istrinya dulu tukang selingkuh. Menyalah-nyalahkan pak Kades karena terlalu sibuk dengan urusan desa. Sekarang malah mengejar balik, lelaki yang dulu menjadi selingkuhannya telah kabur bersama wanita lain. Juli juga gerah dengan wanita itu yang kadang suka meneror Juli lewat telepon atau sms.
“Iya juga, pengalaman..” Juli tersenyum sambil mengedipkan mata.
Ummu dan Anwar dari tadi seperti sedang bermain bola, pandangan mereka bergantian memandangi kami yang sedari dari mengeluarkan pendapat. Egi senyum-senyum, Kamaruz pasang muka sewot sedang Ridwan paling suka dengan hp layar sentuhnya, berkelana dengan sosial media.
“Jadi gimana Mu?” Anwar menanya kepastian.
“Kasihlah aku waktu, biar kami berdiskusi lagi sesama perempuan,” Ummu menjawab polos.
Aku menarik napas panjang, sedang mulutku siap berkomentar lagi. Egi menyenggolku, seolah tahu kalau aku bakal berkicau ria.
“Kalau emang cocok atau enggaknya ya kasih tahu.”
“Iya. Tenang ajalah.”
“Eeiittt!! Tunggu. Ada yang aneh ya? Kenapa coba harus si Ummu yang kau tembak langsung urusan perjodohan ini?” Kamaruz seolah tersadar.
“Ya iyalah.. kalau Egi udah pacar di kampungnya, Juli udah punya pacar pak Kades, kalau Marwaaaa…” Ridwan memandangku.
Secara serempak mereka semua menjawab, “Marwa kan pacarnya Anwar.” Lalu kami semua tertawa.
“Ayo bubar, kita makan atau salat dulu?” tanyaku menghentikan tawa canda mereka.
“Salat dulu aja lah, panas sekalian mau mandi dan ganti baju.” Ridwan menjawab.
Lalu kami bubar, masing-masing masuk kamar. Kaum adam menuju kos yang ada di seberang jalan, kami masuk kamar, ada yang langsung salat ada juga yang merebahkan badan di kasur ala kadarnya.
Seperti biasa kami berkumpul di kos-kosan putri sepulang dari mengajar. Membicarakan segala hal yang menarik sambil menunggu jam makan siang.
“Mu.. ada yang mau aku sampaikan.” Anwar memulai pembicaraan.
“Apa tuh?” Ummu menjawab sambil membuka kaos kakinya.
Aku, Juli, Kamaruz, Egi dan Ridwan mulai menyimak.
“Tadi bu kepala sekolah memanggilku, katanya di antara kalian yang perempuan ini, ada gak yang mau jadi Adik iparnya? Kau bilang kau mau menikah kalau ada yang cocok calonnya.”
“Hmm.. aku harus jawab apa?”
“Jangan tanya dulu harus jawab apa Mu, tanya dulu dia seperti apa orangnya.” Juli mulai ikut dalam pembicaraan.
“Iya Mu.. menikah itu bukan satu hubungan yang bisa dijalani sesuka kita.” Aku mulai ikut-ikutan.
“Kalau aku gampang-gampang aja, yang penting dia baik.” Ummu seolah pasrah dengan nasib.
“Kau yakin? Kalau dia duda gimana?” Juli mulai membahas ke arah yang lebih spesifik.
Sambil menepuk pundak Anwar, Kamaruz meminta agar menceritakan apa yang diperbincangkan dengan Ibu kepala sekolah tadi. Anwar menuruti.
“Begini.. tadi aku masih ngisi materi di kelasku, Ibu kepala lewat dan memanggilku supaya jam istirahat menemuiku di ruangannya. Jam istirahat aku pun langsung menemuinya, Ibu kepala pun cerita. Dia punya Adik kandung laki-laki sedang mencari jodoh, statusnya duda punya anak satu, perempuan. Istrinya meninggal. Riwayat pernikahannya, anak pertama mereka meninggal setelah dilahirkan. Lalu, pada kelahiran anak kedua mereka ini terulang lagi masalah ketika kelahiran pertama. Akhirnya, yang terselamatkan adalah anak, istrinya yang meninggal. Mertuanya meminta kalau anaknya mereka yang urus sebagai ganti anaknya yang telah wafat. Sekarang Adik Ibu kepala telah menyerahkan masalah jodohnya dengan ibu, dia tidak mau kecewa lagi atas pilihannya. Begitu..”
Pembicaraan mulai memanas. Semua berkomentar dan saling adu argumen dengan teman yang saling berdekatan.
“Kalau urusan wafat ya gak kuasa kita dong,” aku mulai memberi pendapat.
“Kalau bisa juga, ya cari yang single ajalah Mu,” Kamaruz memberi saran.
“Eeehh.. jangan salah ya, Bapakku juga duda kok, tapi sayang sama emakku. Gak mau marah, lemah lembut, apalagi sama aku. Duda lebih berpengalaman.” Egi mulai angkat bicara dengan gaya bicara pesinden.
“Tapi gak semua duda seperti Bapakmu Gi,” Ridwan meledek sambil tersenyum.
“Apa salahnya dengan duda, kalau emang baik. Sekarang kan tergantung kesiapan mental si Ummu, dia mau terima abang itu gak?” Juli menambahi.
“Menurutku, dengan mendengar penjelasan status duda si abang menjadi duda karena cerai mati itu lebih aman loh. Gak akan ada sangkut paut lagi dengan mantan istri, keluarganya pun sudah tidak bisa campur tangan urusan rumah tangga kita. Apalagi anaknya sudah diurus oleh pihak mantan istri. Aku punya teman yang menikah dengan duda cerai hidup, mantan istrinya itu suka ganggu kehidupan temanku itu. Alasan mau jenguk anak, mau ngajak anak main, pulang kemalaman akhirnya numpang menginap. Menggoda-goda mantan suaminya yang kadang menjadi pemicu mereka bertengkar. Semakin dia sering menggoda dan minta rujuk setelah tahu kehidupan sang mantan mulai membaik secara ekonomi. Kau sendiri gimana Jul dengan pak kades yang duda itu?” ku senggol bahu si Juli yang sedang asyik main hp.
Juli juga sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seorang kades di kampung sebelah. Konon ceritanya, pak Kades bercerai karena istrinya dulu tukang selingkuh. Menyalah-nyalahkan pak Kades karena terlalu sibuk dengan urusan desa. Sekarang malah mengejar balik, lelaki yang dulu menjadi selingkuhannya telah kabur bersama wanita lain. Juli juga gerah dengan wanita itu yang kadang suka meneror Juli lewat telepon atau sms.
“Iya juga, pengalaman..” Juli tersenyum sambil mengedipkan mata.
Ummu dan Anwar dari tadi seperti sedang bermain bola, pandangan mereka bergantian memandangi kami yang sedari dari mengeluarkan pendapat. Egi senyum-senyum, Kamaruz pasang muka sewot sedang Ridwan paling suka dengan hp layar sentuhnya, berkelana dengan sosial media.
“Jadi gimana Mu?” Anwar menanya kepastian.
“Kasihlah aku waktu, biar kami berdiskusi lagi sesama perempuan,” Ummu menjawab polos.
Aku menarik napas panjang, sedang mulutku siap berkomentar lagi. Egi menyenggolku, seolah tahu kalau aku bakal berkicau ria.
“Kalau emang cocok atau enggaknya ya kasih tahu.”
“Iya. Tenang ajalah.”
“Eeiittt!! Tunggu. Ada yang aneh ya? Kenapa coba harus si Ummu yang kau tembak langsung urusan perjodohan ini?” Kamaruz seolah tersadar.
“Ya iyalah.. kalau Egi udah pacar di kampungnya, Juli udah punya pacar pak Kades, kalau Marwaaaa…” Ridwan memandangku.
Secara serempak mereka semua menjawab, “Marwa kan pacarnya Anwar.” Lalu kami semua tertawa.
“Ayo bubar, kita makan atau salat dulu?” tanyaku menghentikan tawa canda mereka.
“Salat dulu aja lah, panas sekalian mau mandi dan ganti baju.” Ridwan menjawab.
Lalu kami bubar, masing-masing masuk kamar. Kaum adam menuju kos yang ada di seberang jalan, kami masuk kamar, ada yang langsung salat ada juga yang merebahkan badan di kasur ala kadarnya.

Cerpen My Lovely Name

Namaku Justine Afhseen Mabel. Aku nggak tahu kenapa Bunda, Ayahku memberi nama Justine. Padahal aku kan lahir di Arab. Aku bosan sekali jika dikira anak cowok.
Mulai aja ya ceritanya. Pagi hari itu…
“Bunda, aku mau tanya sesuatu” kataku.
“Tanya apa?” tanya Bunda.
“Bunda kenapa kok…” Omonganku terputus.
Ting! Tong!
“Sebentar ya Justine…” kata Bunda
“Ah aku sekolah saja..” Ucapku dalam hati.
Aku berangkat sekolah menaiki sepeda, sampai di sekolah ku temui sahabatku, Amira dan Anissa.
“Hoi kok lesu begitu?” tanya Anissa.
“iya. Aku belum dapat jawaban dari Bundaku” jawabku.
“emm oh soal nama ya?” tanya Amira yang sudah tahu masalahku.
“iya.” jawabku singkat.
Kring… Kring… Bel masuk sudah berbunyi. Kali ini Bu Fara akan mengajari rasa bersyukur terhadap apapun. “Huh rasanya ingin ke luar aja,” ucapku dalam hati. Aku bosan setiap pelajaran merangkum. Akhirnya, 5 menit lagi juga akan istirahat.
Kring… Kring….
“Yeeeey istirahat” teriakku.
“kita makan apa ya?” tanya Anissa.
“kayaknya sup Asparagus deh” jawabku.
“lapar nih….”
Sepulang sekolah aku pergi ke Alfamart untuk membeli Selai roti titipan Bunda. Tak Sengaja aku bertemu seorang anak perempuan berambut ikal, memakai baju yang sudah usang, lalu ku sapa dia.
“Halo, namamu siapa?” tanyaku.
“mmm… aku tidak tahu… aku ingin sekali punya nama” katanya.
“Masa ada anak tidak punya nama?!” ucapku dalam hati.
“Ohh… namaku Justine” kataku.
“nama yang bagus. Secantik anaknya” katanya.
Wajahku memerah.
“Sini duduk sini dulu” ajakku.
Anak itu menurut, lalu ia duduk di sampingku.
“Oh ya. Ibumu mana?” tanyaku.
“aku tidak punya Ibu” jawabnya.
“Oh kalau begitu maaf. Oh ya kamu cocok diberi nama Syifa” kataku seraya tersenyum.
“Terima kasih aku senang sekali” katanya.
“aku pulang dulu ya… ini ada sedikit rezekii buat kamu” kataku memberikan uang sebesar 20.000.
“Terima kasih Justine”
Aku pulang. Entah kenapa aku merasa bersalah. Aku tidak menghargai nama yang diberikan oleh orangtuaku.
“Aku pulang” kataku sewaktu sampai di rumah.
“iya sayang… sudah beli selai?” tanya Bunda.
“Sudah dong. Oh iya Bunda. Maaf ya kalau Justine tidak suka nama pemberian Bunda. Tapi sekarang aku suka” kataku.
“tak apa. Bunda memberi nama kamu Justine karena…. dulu… hiks…” Bunda mulai menangis.
“loh… loh Bunda?”
“Dulu Bunda punya anak laki-laki namanya Justin, tapi dia hilang” jelas Bunda.
Aku tak bisa berkata apapun kepada Bunda. Aku menyesal telah menyakiti Bunda.
I Love you Mom.
Cerpen Karangan: Deesya Lovely Susanto
Assalamualaikum. Maaf ya kalau ceritanya jelek. Kalian tahu kan amanatnya? Amanatnya adalah. Kalian harus mensyukuri pemberian orangtua, apapun itu. Oh ya… Aku belum memperkenalkan namaku ya? Hehe… Namaku adalah Deesya Lovely Susanto. Aku lahir di Surabaya, 24 januari 2004. Sekarang aku kelas 5, SDN sambikerep 3.
Namaku Justine Afhseen Mabel. Aku nggak tahu kenapa Bunda, Ayahku memberi nama Justine. Padahal aku kan lahir di Arab. Aku bosan sekali jika dikira anak cowok.
Mulai aja ya ceritanya. Pagi hari itu…
“Bunda, aku mau tanya sesuatu” kataku.
“Tanya apa?” tanya Bunda.
“Bunda kenapa kok…” Omonganku terputus.
Ting! Tong!
“Sebentar ya Justine…” kata Bunda
“Ah aku sekolah saja..” Ucapku dalam hati.
Aku berangkat sekolah menaiki sepeda, sampai di sekolah ku temui sahabatku, Amira dan Anissa.
“Hoi kok lesu begitu?” tanya Anissa.
“iya. Aku belum dapat jawaban dari Bundaku” jawabku.
“emm oh soal nama ya?” tanya Amira yang sudah tahu masalahku.
“iya.” jawabku singkat.
Kring… Kring… Bel masuk sudah berbunyi. Kali ini Bu Fara akan mengajari rasa bersyukur terhadap apapun. “Huh rasanya ingin ke luar aja,” ucapku dalam hati. Aku bosan setiap pelajaran merangkum. Akhirnya, 5 menit lagi juga akan istirahat.
Kring… Kring….
“Yeeeey istirahat” teriakku.
“kita makan apa ya?” tanya Anissa.
“kayaknya sup Asparagus deh” jawabku.
“lapar nih….”
Sepulang sekolah aku pergi ke Alfamart untuk membeli Selai roti titipan Bunda. Tak Sengaja aku bertemu seorang anak perempuan berambut ikal, memakai baju yang sudah usang, lalu ku sapa dia.
“Halo, namamu siapa?” tanyaku.
“mmm… aku tidak tahu… aku ingin sekali punya nama” katanya.
“Masa ada anak tidak punya nama?!” ucapku dalam hati.
“Ohh… namaku Justine” kataku.
“nama yang bagus. Secantik anaknya” katanya.
Wajahku memerah.
“Sini duduk sini dulu” ajakku.
Anak itu menurut, lalu ia duduk di sampingku.
“Oh ya. Ibumu mana?” tanyaku.
“aku tidak punya Ibu” jawabnya.
“Oh kalau begitu maaf. Oh ya kamu cocok diberi nama Syifa” kataku seraya tersenyum.
“Terima kasih aku senang sekali” katanya.
“aku pulang dulu ya… ini ada sedikit rezekii buat kamu” kataku memberikan uang sebesar 20.000.
“Terima kasih Justine”
Aku pulang. Entah kenapa aku merasa bersalah. Aku tidak menghargai nama yang diberikan oleh orangtuaku.
“Aku pulang” kataku sewaktu sampai di rumah.
“iya sayang… sudah beli selai?” tanya Bunda.
“Sudah dong. Oh iya Bunda. Maaf ya kalau Justine tidak suka nama pemberian Bunda. Tapi sekarang aku suka” kataku.
“tak apa. Bunda memberi nama kamu Justine karena…. dulu… hiks…” Bunda mulai menangis.
“loh… loh Bunda?”
“Dulu Bunda punya anak laki-laki namanya Justin, tapi dia hilang” jelas Bunda.
Aku tak bisa berkata apapun kepada Bunda. Aku menyesal telah menyakiti Bunda.
I Love you Mom.
Cerpen Karangan: Deesya Lovely Susanto
Assalamualaikum. Maaf ya kalau ceritanya jelek. Kalian tahu kan amanatnya? Amanatnya adalah. Kalian harus mensyukuri pemberian orangtua, apapun itu. Oh ya… Aku belum memperkenalkan namaku ya? Hehe… Namaku adalah Deesya Lovely Susanto. Aku lahir di Surabaya, 24 januari 2004. Sekarang aku kelas 5, SDN sambikerep 3.

Cerpen Ini Hati Bukan Halte

“Aku gak nyangka, kepercayaan aku kamu sia-siain gitu aja”
“Tapi Kay, maafin aku”
“Gak Nik, kamu pernah nyakitin aku tapi aku maafin, terus aku udah kasih kepercayaan ke kamu tapi kamu khianatin aku gitu aja”
“Kay please, maafin aku”
“Aku cape Nik, kamu sakitin terus-terusan”
“Tapi Kay, aku bisa jelasin semuanya!”
Kayla terlalu bosan mendengar alasan Niko. Dan lagi hubungan mereka harus berakhir dengan tragis. Kayla mencoba berlari sekencang mungkin untuk menjauhi Niko. Air matanya masih mengalir deras. Air mata pendustaan yang diciptakan oleh manusia yang tak tahu diri. Berulang kali Kayla menyeka air matanya, namun percuma, air matanya tetap saja turun. Orang-orang yang melintas di jalanan menatap dengan wajah bingung tentang kondisi Kayla yang menangis di jalan. Tak sedikit orang yang menanyakan kepadanya, “Kenapa Mbak?” namun Kayla tidak ingin sama sekali menggubris deretan pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang di jalanan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menabrak seseorang dan ternyata itu Riyan. Riyan, Kakak kelas Kayla yang kemarin ia caci maki habis-habisan atas hujaman bola basket di kepala Kayla. Riyan menatap Kayla penuh tanya, sama seperti orang-orang yang melintas sejak tadi. Karena tak ingin ambil pusing akhirnya Kayla memutuskan untuk meninggalkan Riyan. Ingin rasanya Riyan pergi meninggalkan Kayla yang langkahnya sudah mulai hilang di tikungan.
Namun, tetap saja Riyan terlalu membenci bila ada seorang wanita menangis. Alhasil Riyan memilih untuk mengejar Kayla. Kali ini Riyan memilih untuk memotong jalan agar bisa bertemu Kayla. Riyan melangkah hingga berhenti di persimpangan jalan. Riyan sengaja memasang badan dengan harapan Kayla menabraknya lagi. Dan tidak terlalu lama menunggu, harapan Riyan terkabul, Kayla menabrak Riyan untuk yang kedua kalinya.
“Kok lo lagi?” Kayla kesal sambil menangis.
“Kenapa lo di sini?”
“Harusnya gue yang nanya gitu!”
“lo bisa minggir gak? gue mau lewat! dan gak usah susulin gue!”
“Ih baru nemuin gue orang nangis tapi masih punya urat PD. Ngapain gue susulin lo, kurang kerjaan banget. Palingan lo nya aja kali yang dari tadi muter-muter sambil jalan”
“Gue gak nangis!”
“Haha orang buta juga bisa tahu kali, kalau lo nangis. Sini gue bilangin, kebanyakan cewek itu cantik kalau lagi nangis, tapi lo nggak, lo cantik kalau lagi senyum. Sini gue peluk”
Riyan memeluk erat Kayla. Kayla yang awalnya mengelak, berusaha untuk tenang. Ia tak ingin menggubris apa kata orang, karena yang ia butuhkan adalah sandaran untuk bercerita. Seusai berpelukan, Riyan mengajak Kayla ke suatu tempat. Kayla yang emosinya kurang membaik, hanya mengiyakan gandengan Riyan yang mengantarkannya ke sebuah tempat. Dan tempat itu adalah Pantai. Pantai ini tak seperti pantai pada umumnya, yang seharusnya ramai dengan pengunjung. Namun, pantai ini terlihat sepi dan masih asri. Ombaknya dan segala hal yang ada di Pantai itu nyaris membuat mood Kayla membaik.
Riyan menarik tangan Kayla dan membawanya ketepian pantai. Riyan menginginkan Kayla untuk berteriak dan melepas semua beban yang ada saat ini.
“Teriak!!” Pinta Riyan.
“aaa..”
“aduh orang tuli gak akan bisa dengerin teriakan lo tahu! sini gue bantu!”
Tiba-tiba Riyan mencubit tangan Kayla sekuat mungkin dan alhasil Kayla berteriak kencang. Riyan tahu, ia menyakiti fisik Kayla, cubitan memang bukan cara terbaik tapi teriakan adalah jalan keluar untuk Kayla.
“aaaaaa!!!”
“Wow kenceng banget ya teriakannya”
“Sakit tahu! kemarin lo udah nimpuk kepala gue pake bola basket, sekarang lo cubit tangan gue sampe merah! mau lo apa sih!”
“iya deh maaf buat yang kemarin, tapi buat yang sekarang gue kepaksa lakuin ini, gue mau lihat lo lega, gue rela jadi pelampiasan amarah lo kok!”
“hahahaha gue bercanda kali, makasih ya”
Kayla kembali tersenyum lebar setelah air matanya terjun berualang kali. Riyan mengusap kepala Kayla lalu tersenyum lebar. Riyan senang bisa melihat Kayla tersenyum kembali. Sebelum Riyan bertanya tentang apa yang terjadi, Riyan membelikan es kelapa muda untuk Kayla. Kayla meminumnya dengan sedikit lamunan. Baiklah, mungkin wanita selalu begitu, menangis saat disakiti dan masih bisa mempertimbangkan dengan memori-memori.
“lo kenapa?” Tanya Riyan hati-hati.
“gue barusan putus sama pacar gue . Dia pengkhianat, kita udah putus nyambung tiga kali”
“waduh itu hubungan apa saklar ya?”
“gue gak bercanda” Kayla mengernyitkan dahinya.
“eh iya maaf deh, sok cerita kenapa bisa putus nyambung?”
“yang pertama dia putusin gue gara-gara masih sayang mantannya. Terus yang kedua, dia putusin gue karena gue cuek, katanya gue terlalu sibuk sama novel gue. Terus yang ketiga..”
“yaa Heemm?”
“yang ketiga barusan tadi aku pergokin dia selingkuh sama cewek lain”
“Hahaha..”
“Kok lo rese, ngetawain gue, tahu gini gue gak mau cerita lagi ah!”
“ya habis lo nya juga, udah tahu cowok kayak gitu masih aja dipertahanin”
“itu karena gue sayang dia!”
“lo gak pantes sayang sama orang yang nyia-nyiain lo!”
Seketika keadaan menjadi hening, Riyan merangkul Kayla dan menyadarkan Kayla di bahunya. Terpaan angin di sore hari menambah ketenangan di antara mereka. Riyan sengaja memberikan waktu, agar Kayla bisa menenangkan dirinya. Riyan tahu tak seharusnya dia merangkul Kayla sehangat ini. Waktu terus berputar, hingga akhirnya pancaran cahaya matahari yang memantul bersama gelombang pantai membuat sebuah bayangan siluet di antara mereka. Mereka menikmati cahaya sunset bersama.
“Hari ini lo boleh nangis, tapi besok gue gak mau lihat lo nangis”
“tapi gue gak strong, gue rapuh!”
“tapi lo bisa jadi wanita strong, wanita kuat itu wanita yang menangis saat malam dan bangun di pagi hari dengan melupakan kesedihannya di malam hari”
Kayla mulai mengangkat kepalanya dari bahu Riyan. Riyan menatap dalam mata Kayla. Dia berusaha membaca beban yang Kayla rasakan hari ini. Andai Tuhan mengizinkan, Riyan berharap beban Kayla bisa menjadi milik Riyan seutuhnya. Bahkan dia rela menjadi tempat pelampiasan emosi Kayla setiap harinya.
“jangan nangis lagi ya, gue gak mau lihat lo nangis, lo itu udah jelek, kalau nangis ya tambah jelek”
Kayla tersenyum lebar. Melihat itu Riyan jadi tersenyum lega. Malam itu Riyan mengantar Kayla pulang ke rumahnya.
Setelah kejadian satu bulan yang lalu. Kayla dan Riyan berteman akrab. Hingga akhirnya Kayla merasakan sebuah hal yang mengganjal dalam hatinya. Dia merasakan kenyamanan saat bersama Riyan. Cinta kah ini? namun Kayla tidak ingin menghakimi perasaanya.
Malam ini Kayla sengaja datang ke rumah Riyan. Pukul 23.55 WIB. Kayla sudah sampai di depan rumah Riyan. Dia sengaja datang malam-malam untuk memberi surprise di hari ulang tahun Riyan yang kedelapan belas tahun. Namun, saat Kayla sampai di ambang pintu, dia melihat Riyan memeluk Sofie anak kelas dua belas IPA. Sofie mengenakan dress warna merah dan kulit putihnya menambah aksen kecantikannya.
Kayla terkejut melihat hal itu, rainbow cake yang ia buat hancur terlempar entah ke mana. Kayla segera berlari meninggalkan Riyan. Untuk yang kedua kalinya Kayla disakiti oleh pria yang ia percaya. Langkahnya dihiasi oleh isak tangis pendustaan. Dan lagi, luka itu harus kembali hadir dalam hidup Kayla. Kayla pikir, Riyan itu berbeda dengan Tian. Namun, waktu menjabarkan hal yang tak ia tahu. Kayla tak ingin berkata apa-apa. karena kesimpulannya kali ini, tak ada laki-laki yang bisa menjaga tangisnya. Mereka semua adalah pemecah air mata yang seharusnya dijaga.
Kayla masih terus berlari menyusuri jalanan yang semakin sepi. Tiba-tiba hujan deras mengguyur badan Kayla. Mungkin Tuhan berkata lain, Tuhan tak ingin membiarkan wanita seperti Kayla menangis sendiri. Dia terpaksa pulang dengan kondisi basah kuyup. Keesokan harinya, Riyan sudah berdiri di ambang pintu kelas Kayla. Kayla terkejut melihat Riyan yang tak seharusnya di sana.
“Hay” ujar Riyan tersenyum lebar.
“hmm”
“ehh lo kenapa sih? kok mukanya pucet?”
“gak ada urusannya sama lo!”
“kok jawabnya ketus?”
“awas minggir yan, gue mau masuk kelas!”
“jawab pertanyaan gue dulu lo kenapa?”
“gue gak apa-apa!”
“tapi Kay..”
“Riyan AWAS!!!” Kayla membentak Riyan.
Dengan berat hati akhirnya Riyan menyingkir dari pandangan Kayla. Riyan masih bertanya-tanya ada apa dengan Kayla. Bahkan saat jam istirahat tiba, Kayla malah terlihat bermesraan dengan Niko, mantan Kayla. Ada apa ini, bagaimana bisa Kayla memberi kesempatan untuk Niko? Ini konyol. Melihat mereka bermesraan, itu membuat Riyan geram dan ingin menghajar Niko habis-habisan. Namun, sebelum Riyan mendekati Kayla dan Niko. Seorang wanita dengan kuncir rambut warna pink datang dan menampar Kayla.
“Eh lo apa-apaan ini pacar gue!”
“apa pacar lo?”
“iyalah”
“tapi Niko bilang, dia gak punya cewek!”
“kalau dia gak punya cewek terus gue sapa?”
“Ntan Intan udah tan..” Niko mencoba melerai.
“Niko dia siapa? kamu bohongin aku lagi?” Kayla memarahi Niko.
“aku bisa jelasin semuanya”
“Gak ada yang perlu dijelasin Nik, kamu gak pernah bisa jaga kepercayaan aku”
“tapi Kay, gue sayang lo”
“kalau lo sayang gue, lo gak bakal buat gue nangis”
Melihat hal itu Riyan menjadi tambah geram. Dia langsung melangkah mendekati kerumunan. Riyan langsung menghajar habis-habisan muka Niko. Dia tak peduli jika tiba-tiba ada guru BK yang akan menghakiminya. Yang terpenting kali ini dia tak ingin melihat Kayla menangis apalagi sampai menjadi milik laki-laki pendusta seperti Niko.
“Riyan udah yan!” Kayla melerai Riyan.
“gak Kay, gak ada yang boleh nyakitin lo, gue gak terima!”
“tapi kita bisa omongin baik-baik”
“gak kay cowok kayak dia gak bisa dikasihani!”
Orang-orang semakin berteriak, mereka menyoraki Riyan dan Niko yang sedang bergulat di kantin. Kayla yang tak ingin memperpanjang masalah langsung menarik Riyan ke luar dari kerumunan. Langkah Kayla berhenti di sebuah taman sekolah. Dia langsung melepas genggamannya yang sejak tadi menarik Riyan.
“sejak kapan sih lo berani main kasar?” Kayla memarahi Riyan.
“sejak gue, gak mau lihat lo disakitin”
“peduli apa lo tentang gue? lo udah punya cewek kan!”
“cewek? siapa?”
“Sofie!”
“Sofie?”
“iya semalem jam 23.55 gue dateng ke rumah lo mau ngucapin Happy Birthday tapi yang gue lihat malh lo lagi pelukan sama Sofie”
“lo cemburu?”
“gue gak cemburu, cuma gak suka aja lihat orang pelukan!” Kayla bernada mengelak.
“Sofie itu sepupu gue, ya emanglah gue gak sempet cerita ke lo, gue pikir lo tahu, jadi wajar kalau pelukan, semalem itu keluarga besar gue pada kumpul buat ngerayain ulang tahun gue, jadi dia semalem pake dress, tadinya gue mau ke rumah lo, tapi takut lo nya gak boleh ke luar rumah”
“jadi Sofie sepupu lo?” Kayla merendahkan suaranya.
“iya dia sepupu gue”
“kay..”
Diam.
“Kay, gue sayang sama lo, itu penyebabnya gue gak rela lo disakitin”
“tapi yan?”
“kenapa kan udah jelas, Sofie bukan siapa-siapa gue”
“Mmm…”
“ahh udah kelamaan tinggal jawab iya!”
“ih kok maksa”
Riyan memeluk Kayla dan Kayla menangis terharu dalam pelukan Riyan. Kayla merasa malu atas perlakuannya yang seperti anak kecil. Tidak beberapa lama kemudian Niko datang mendekati Kayla dan Riyan.
“Kay lo mau kan kasih gue kesempatan lagi?”
“Gak Nik.. gue gak bisa”
“kepercayaan gue udah habis buat lo”
“tapi gue bakal perbaiki semuanya”
“maaf Nik, ini hati bukan halte yang bisa lo singgahin kapan aja”
Cerpen Karangan: Fauziah Wulansari
Blog: http://meiuji.blogspot.com
Namaku Fauziah Wulansari. Aku kelahiran Semarang, 8 Mei 1999. Aku belajar menulis karangan sejak duduk di bangku kelas satu SMP. Awalnya menulis bukan menjadi hobiku. Namun, ada suatu hal yang telah merubahku menjadi seorang penulis. Awalnya memulai dengan menulis puisi di catatan FB dan sekarang sudah mulai belajar membuat Cerpen. Jumlah catatan di FB sudah mencapai angka 60 catatan. Banyak teman-temanku yang menyukai karya cerpenku. Perlombaan menulis cerpen sudah diikuti namun saat pengumuman lomba hanya mendapat Harapan II setelah itu aku mulai mempelajari kesalahanku dalam menulis akhirnya saat perlombaan cerpen diaadakan kembali aku mendapat Juara 1. Semoga kalian yang membaca Cerpenku bisa suka dengan hasil karyaku.
“Aku gak nyangka, kepercayaan aku kamu sia-siain gitu aja”
“Tapi Kay, maafin aku”
“Gak Nik, kamu pernah nyakitin aku tapi aku maafin, terus aku udah kasih kepercayaan ke kamu tapi kamu khianatin aku gitu aja”
“Kay please, maafin aku”
“Aku cape Nik, kamu sakitin terus-terusan”
“Tapi Kay, aku bisa jelasin semuanya!”
Kayla terlalu bosan mendengar alasan Niko. Dan lagi hubungan mereka harus berakhir dengan tragis. Kayla mencoba berlari sekencang mungkin untuk menjauhi Niko. Air matanya masih mengalir deras. Air mata pendustaan yang diciptakan oleh manusia yang tak tahu diri. Berulang kali Kayla menyeka air matanya, namun percuma, air matanya tetap saja turun. Orang-orang yang melintas di jalanan menatap dengan wajah bingung tentang kondisi Kayla yang menangis di jalan. Tak sedikit orang yang menanyakan kepadanya, “Kenapa Mbak?” namun Kayla tidak ingin sama sekali menggubris deretan pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang di jalanan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menabrak seseorang dan ternyata itu Riyan. Riyan, Kakak kelas Kayla yang kemarin ia caci maki habis-habisan atas hujaman bola basket di kepala Kayla. Riyan menatap Kayla penuh tanya, sama seperti orang-orang yang melintas sejak tadi. Karena tak ingin ambil pusing akhirnya Kayla memutuskan untuk meninggalkan Riyan. Ingin rasanya Riyan pergi meninggalkan Kayla yang langkahnya sudah mulai hilang di tikungan.
Namun, tetap saja Riyan terlalu membenci bila ada seorang wanita menangis. Alhasil Riyan memilih untuk mengejar Kayla. Kali ini Riyan memilih untuk memotong jalan agar bisa bertemu Kayla. Riyan melangkah hingga berhenti di persimpangan jalan. Riyan sengaja memasang badan dengan harapan Kayla menabraknya lagi. Dan tidak terlalu lama menunggu, harapan Riyan terkabul, Kayla menabrak Riyan untuk yang kedua kalinya.
“Kok lo lagi?” Kayla kesal sambil menangis.
“Kenapa lo di sini?”
“Harusnya gue yang nanya gitu!”
“lo bisa minggir gak? gue mau lewat! dan gak usah susulin gue!”
“Ih baru nemuin gue orang nangis tapi masih punya urat PD. Ngapain gue susulin lo, kurang kerjaan banget. Palingan lo nya aja kali yang dari tadi muter-muter sambil jalan”
“Gue gak nangis!”
“Haha orang buta juga bisa tahu kali, kalau lo nangis. Sini gue bilangin, kebanyakan cewek itu cantik kalau lagi nangis, tapi lo nggak, lo cantik kalau lagi senyum. Sini gue peluk”
Riyan memeluk erat Kayla. Kayla yang awalnya mengelak, berusaha untuk tenang. Ia tak ingin menggubris apa kata orang, karena yang ia butuhkan adalah sandaran untuk bercerita. Seusai berpelukan, Riyan mengajak Kayla ke suatu tempat. Kayla yang emosinya kurang membaik, hanya mengiyakan gandengan Riyan yang mengantarkannya ke sebuah tempat. Dan tempat itu adalah Pantai. Pantai ini tak seperti pantai pada umumnya, yang seharusnya ramai dengan pengunjung. Namun, pantai ini terlihat sepi dan masih asri. Ombaknya dan segala hal yang ada di Pantai itu nyaris membuat mood Kayla membaik.
Riyan menarik tangan Kayla dan membawanya ketepian pantai. Riyan menginginkan Kayla untuk berteriak dan melepas semua beban yang ada saat ini.
“Teriak!!” Pinta Riyan.
“aaa..”
“aduh orang tuli gak akan bisa dengerin teriakan lo tahu! sini gue bantu!”
Tiba-tiba Riyan mencubit tangan Kayla sekuat mungkin dan alhasil Kayla berteriak kencang. Riyan tahu, ia menyakiti fisik Kayla, cubitan memang bukan cara terbaik tapi teriakan adalah jalan keluar untuk Kayla.
“aaaaaa!!!”
“Wow kenceng banget ya teriakannya”
“Sakit tahu! kemarin lo udah nimpuk kepala gue pake bola basket, sekarang lo cubit tangan gue sampe merah! mau lo apa sih!”
“iya deh maaf buat yang kemarin, tapi buat yang sekarang gue kepaksa lakuin ini, gue mau lihat lo lega, gue rela jadi pelampiasan amarah lo kok!”
“hahahaha gue bercanda kali, makasih ya”
Kayla kembali tersenyum lebar setelah air matanya terjun berualang kali. Riyan mengusap kepala Kayla lalu tersenyum lebar. Riyan senang bisa melihat Kayla tersenyum kembali. Sebelum Riyan bertanya tentang apa yang terjadi, Riyan membelikan es kelapa muda untuk Kayla. Kayla meminumnya dengan sedikit lamunan. Baiklah, mungkin wanita selalu begitu, menangis saat disakiti dan masih bisa mempertimbangkan dengan memori-memori.
“lo kenapa?” Tanya Riyan hati-hati.
“gue barusan putus sama pacar gue . Dia pengkhianat, kita udah putus nyambung tiga kali”
“waduh itu hubungan apa saklar ya?”
“gue gak bercanda” Kayla mengernyitkan dahinya.
“eh iya maaf deh, sok cerita kenapa bisa putus nyambung?”
“yang pertama dia putusin gue gara-gara masih sayang mantannya. Terus yang kedua, dia putusin gue karena gue cuek, katanya gue terlalu sibuk sama novel gue. Terus yang ketiga..”
“yaa Heemm?”
“yang ketiga barusan tadi aku pergokin dia selingkuh sama cewek lain”
“Hahaha..”
“Kok lo rese, ngetawain gue, tahu gini gue gak mau cerita lagi ah!”
“ya habis lo nya juga, udah tahu cowok kayak gitu masih aja dipertahanin”
“itu karena gue sayang dia!”
“lo gak pantes sayang sama orang yang nyia-nyiain lo!”
Seketika keadaan menjadi hening, Riyan merangkul Kayla dan menyadarkan Kayla di bahunya. Terpaan angin di sore hari menambah ketenangan di antara mereka. Riyan sengaja memberikan waktu, agar Kayla bisa menenangkan dirinya. Riyan tahu tak seharusnya dia merangkul Kayla sehangat ini. Waktu terus berputar, hingga akhirnya pancaran cahaya matahari yang memantul bersama gelombang pantai membuat sebuah bayangan siluet di antara mereka. Mereka menikmati cahaya sunset bersama.
“Hari ini lo boleh nangis, tapi besok gue gak mau lihat lo nangis”
“tapi gue gak strong, gue rapuh!”
“tapi lo bisa jadi wanita strong, wanita kuat itu wanita yang menangis saat malam dan bangun di pagi hari dengan melupakan kesedihannya di malam hari”
Kayla mulai mengangkat kepalanya dari bahu Riyan. Riyan menatap dalam mata Kayla. Dia berusaha membaca beban yang Kayla rasakan hari ini. Andai Tuhan mengizinkan, Riyan berharap beban Kayla bisa menjadi milik Riyan seutuhnya. Bahkan dia rela menjadi tempat pelampiasan emosi Kayla setiap harinya.
“jangan nangis lagi ya, gue gak mau lihat lo nangis, lo itu udah jelek, kalau nangis ya tambah jelek”
Kayla tersenyum lebar. Melihat itu Riyan jadi tersenyum lega. Malam itu Riyan mengantar Kayla pulang ke rumahnya.
Setelah kejadian satu bulan yang lalu. Kayla dan Riyan berteman akrab. Hingga akhirnya Kayla merasakan sebuah hal yang mengganjal dalam hatinya. Dia merasakan kenyamanan saat bersama Riyan. Cinta kah ini? namun Kayla tidak ingin menghakimi perasaanya.
Malam ini Kayla sengaja datang ke rumah Riyan. Pukul 23.55 WIB. Kayla sudah sampai di depan rumah Riyan. Dia sengaja datang malam-malam untuk memberi surprise di hari ulang tahun Riyan yang kedelapan belas tahun. Namun, saat Kayla sampai di ambang pintu, dia melihat Riyan memeluk Sofie anak kelas dua belas IPA. Sofie mengenakan dress warna merah dan kulit putihnya menambah aksen kecantikannya.
Kayla terkejut melihat hal itu, rainbow cake yang ia buat hancur terlempar entah ke mana. Kayla segera berlari meninggalkan Riyan. Untuk yang kedua kalinya Kayla disakiti oleh pria yang ia percaya. Langkahnya dihiasi oleh isak tangis pendustaan. Dan lagi, luka itu harus kembali hadir dalam hidup Kayla. Kayla pikir, Riyan itu berbeda dengan Tian. Namun, waktu menjabarkan hal yang tak ia tahu. Kayla tak ingin berkata apa-apa. karena kesimpulannya kali ini, tak ada laki-laki yang bisa menjaga tangisnya. Mereka semua adalah pemecah air mata yang seharusnya dijaga.
Kayla masih terus berlari menyusuri jalanan yang semakin sepi. Tiba-tiba hujan deras mengguyur badan Kayla. Mungkin Tuhan berkata lain, Tuhan tak ingin membiarkan wanita seperti Kayla menangis sendiri. Dia terpaksa pulang dengan kondisi basah kuyup. Keesokan harinya, Riyan sudah berdiri di ambang pintu kelas Kayla. Kayla terkejut melihat Riyan yang tak seharusnya di sana.
“Hay” ujar Riyan tersenyum lebar.
“hmm”
“ehh lo kenapa sih? kok mukanya pucet?”
“gak ada urusannya sama lo!”
“kok jawabnya ketus?”
“awas minggir yan, gue mau masuk kelas!”
“jawab pertanyaan gue dulu lo kenapa?”
“gue gak apa-apa!”
“tapi Kay..”
“Riyan AWAS!!!” Kayla membentak Riyan.
Dengan berat hati akhirnya Riyan menyingkir dari pandangan Kayla. Riyan masih bertanya-tanya ada apa dengan Kayla. Bahkan saat jam istirahat tiba, Kayla malah terlihat bermesraan dengan Niko, mantan Kayla. Ada apa ini, bagaimana bisa Kayla memberi kesempatan untuk Niko? Ini konyol. Melihat mereka bermesraan, itu membuat Riyan geram dan ingin menghajar Niko habis-habisan. Namun, sebelum Riyan mendekati Kayla dan Niko. Seorang wanita dengan kuncir rambut warna pink datang dan menampar Kayla.
“Eh lo apa-apaan ini pacar gue!”
“apa pacar lo?”
“iyalah”
“tapi Niko bilang, dia gak punya cewek!”
“kalau dia gak punya cewek terus gue sapa?”
“Ntan Intan udah tan..” Niko mencoba melerai.
“Niko dia siapa? kamu bohongin aku lagi?” Kayla memarahi Niko.
“aku bisa jelasin semuanya”
“Gak ada yang perlu dijelasin Nik, kamu gak pernah bisa jaga kepercayaan aku”
“tapi Kay, gue sayang lo”
“kalau lo sayang gue, lo gak bakal buat gue nangis”
Melihat hal itu Riyan menjadi tambah geram. Dia langsung melangkah mendekati kerumunan. Riyan langsung menghajar habis-habisan muka Niko. Dia tak peduli jika tiba-tiba ada guru BK yang akan menghakiminya. Yang terpenting kali ini dia tak ingin melihat Kayla menangis apalagi sampai menjadi milik laki-laki pendusta seperti Niko.
“Riyan udah yan!” Kayla melerai Riyan.
“gak Kay, gak ada yang boleh nyakitin lo, gue gak terima!”
“tapi kita bisa omongin baik-baik”
“gak kay cowok kayak dia gak bisa dikasihani!”
Orang-orang semakin berteriak, mereka menyoraki Riyan dan Niko yang sedang bergulat di kantin. Kayla yang tak ingin memperpanjang masalah langsung menarik Riyan ke luar dari kerumunan. Langkah Kayla berhenti di sebuah taman sekolah. Dia langsung melepas genggamannya yang sejak tadi menarik Riyan.
“sejak kapan sih lo berani main kasar?” Kayla memarahi Riyan.
“sejak gue, gak mau lihat lo disakitin”
“peduli apa lo tentang gue? lo udah punya cewek kan!”
“cewek? siapa?”
“Sofie!”
“Sofie?”
“iya semalem jam 23.55 gue dateng ke rumah lo mau ngucapin Happy Birthday tapi yang gue lihat malh lo lagi pelukan sama Sofie”
“lo cemburu?”
“gue gak cemburu, cuma gak suka aja lihat orang pelukan!” Kayla bernada mengelak.
“Sofie itu sepupu gue, ya emanglah gue gak sempet cerita ke lo, gue pikir lo tahu, jadi wajar kalau pelukan, semalem itu keluarga besar gue pada kumpul buat ngerayain ulang tahun gue, jadi dia semalem pake dress, tadinya gue mau ke rumah lo, tapi takut lo nya gak boleh ke luar rumah”
“jadi Sofie sepupu lo?” Kayla merendahkan suaranya.
“iya dia sepupu gue”
“kay..”
Diam.
“Kay, gue sayang sama lo, itu penyebabnya gue gak rela lo disakitin”
“tapi yan?”
“kenapa kan udah jelas, Sofie bukan siapa-siapa gue”
“Mmm…”
“ahh udah kelamaan tinggal jawab iya!”
“ih kok maksa”
Riyan memeluk Kayla dan Kayla menangis terharu dalam pelukan Riyan. Kayla merasa malu atas perlakuannya yang seperti anak kecil. Tidak beberapa lama kemudian Niko datang mendekati Kayla dan Riyan.
“Kay lo mau kan kasih gue kesempatan lagi?”
“Gak Nik.. gue gak bisa”
“kepercayaan gue udah habis buat lo”
“tapi gue bakal perbaiki semuanya”
“maaf Nik, ini hati bukan halte yang bisa lo singgahin kapan aja”
Cerpen Karangan: Fauziah Wulansari
Blog: http://meiuji.blogspot.com
Namaku Fauziah Wulansari. Aku kelahiran Semarang, 8 Mei 1999. Aku belajar menulis karangan sejak duduk di bangku kelas satu SMP. Awalnya menulis bukan menjadi hobiku. Namun, ada suatu hal yang telah merubahku menjadi seorang penulis. Awalnya memulai dengan menulis puisi di catatan FB dan sekarang sudah mulai belajar membuat Cerpen. Jumlah catatan di FB sudah mencapai angka 60 catatan. Banyak teman-temanku yang menyukai karya cerpenku. Perlombaan menulis cerpen sudah diikuti namun saat pengumuman lomba hanya mendapat Harapan II setelah itu aku mulai mempelajari kesalahanku dalam menulis akhirnya saat perlombaan cerpen diaadakan kembali aku mendapat Juara 1. Semoga kalian yang membaca Cerpenku bisa suka dengan hasil karyaku.

Cerpen Cinta Ini Menyakitkan

Cinta, suatu kata yang tak asing bukan? Hampir semua orang pasti tahu apa itu cinta. Kata yang paling indah bila diucapkan yang mengandung makna begitu besar dan memiliki sejuta rasa yang beraneka ragam. Bicara soal cinta pasti kita pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Awalnya aku tak mengenal apa itu cinta sampai pada akhirnya, aku menemukan seseorang sebut saja namanya Rengga. Seseorang yang baru ku kenal.
Awalnya mungkin biasa dan sebenarnya tak pernah terlintas dalam benakku untuk menyukainya. Dia memang baik, sopan, pintar, namun bukan itu yang membuatku akhirnya menyukainya. Dia juga tidak begitu tampan namun dia memiliki sifat yang unik menurutku karena dia berbeda dari laki-laki lain dia juga cukup romantis meski terkadang juga menyebalkan namun akhirnya itulah yang membuatku meyukainya dan jatuh cinta padanya.
Dia mampu menempatkan dirinya pada keadaan yang tepat aku pun tak pernah bosan dengannya, sifatnya yang menyebalkan membuatku selalu merindukannya. Betapa bahagianya ketika dia mulai menebarkan kata-kata indah dan romantis yang membuat pikiranku seakan melayang dan aku pun mulai terhanyut akan perasaan ini sampai pada akhirnya ku putuskan bahwa aku mencintainya dan aku pun berpikir bahwa dia pasti juga mencintaiku.
Hari-hariku pun masih berjalan menyenangkan seperti biasanya, namun setelah beberapa minggu dia mulai menjauh aku pun menanggapinya biasa karena mungkin dia sedang sibuk akan urusannya. Karena cukup lama tak mendengar kabarnya aku pun mulai mencari-cari informasi tentangnya sampai aku mendengar kabar bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih. Betapa mengagetkan berita ini sampai aku tercengang mendengarnya napasku pun seakan terhenti pikiranku kosong dadaku pun terasa sesak, hati ini remuk bagai gelas yang pecah.
Aku sungguh tak menyangka dia tega melakukan ini padaku mengingat apa yang telah kita lalui bersama rasanya tak mungkin namun inilah benar keadaannya. Kini aku mulai menjauhinya dan berharap tak mengenalnya lagi karena ini sungguh menyakitkan. Namun di saat aku mulai menjauhinya dia mulai hadir kembali dan menginginkanku untuk menjadi sahabatnya, mungkin sulit rasanya namun dari sini aku mulai bangkit dari keterpurukan ini dan mulai menerima sebuah kenyataan yang ada. Tapi sepertinya aku masih harus tetap menjauh darinya dan berusaha untuk tidak hadir dalam kehidupannya berharap dia akan menyadari suatu saat nanti bahwa sebenarnya aku sangat mencintainya.
Cinta, suatu kata yang tak asing bukan? Hampir semua orang pasti tahu apa itu cinta. Kata yang paling indah bila diucapkan yang mengandung makna begitu besar dan memiliki sejuta rasa yang beraneka ragam. Bicara soal cinta pasti kita pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Awalnya aku tak mengenal apa itu cinta sampai pada akhirnya, aku menemukan seseorang sebut saja namanya Rengga. Seseorang yang baru ku kenal.
Awalnya mungkin biasa dan sebenarnya tak pernah terlintas dalam benakku untuk menyukainya. Dia memang baik, sopan, pintar, namun bukan itu yang membuatku akhirnya menyukainya. Dia juga tidak begitu tampan namun dia memiliki sifat yang unik menurutku karena dia berbeda dari laki-laki lain dia juga cukup romantis meski terkadang juga menyebalkan namun akhirnya itulah yang membuatku meyukainya dan jatuh cinta padanya.
Dia mampu menempatkan dirinya pada keadaan yang tepat aku pun tak pernah bosan dengannya, sifatnya yang menyebalkan membuatku selalu merindukannya. Betapa bahagianya ketika dia mulai menebarkan kata-kata indah dan romantis yang membuat pikiranku seakan melayang dan aku pun mulai terhanyut akan perasaan ini sampai pada akhirnya ku putuskan bahwa aku mencintainya dan aku pun berpikir bahwa dia pasti juga mencintaiku.
Hari-hariku pun masih berjalan menyenangkan seperti biasanya, namun setelah beberapa minggu dia mulai menjauh aku pun menanggapinya biasa karena mungkin dia sedang sibuk akan urusannya. Karena cukup lama tak mendengar kabarnya aku pun mulai mencari-cari informasi tentangnya sampai aku mendengar kabar bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih. Betapa mengagetkan berita ini sampai aku tercengang mendengarnya napasku pun seakan terhenti pikiranku kosong dadaku pun terasa sesak, hati ini remuk bagai gelas yang pecah.
Aku sungguh tak menyangka dia tega melakukan ini padaku mengingat apa yang telah kita lalui bersama rasanya tak mungkin namun inilah benar keadaannya. Kini aku mulai menjauhinya dan berharap tak mengenalnya lagi karena ini sungguh menyakitkan. Namun di saat aku mulai menjauhinya dia mulai hadir kembali dan menginginkanku untuk menjadi sahabatnya, mungkin sulit rasanya namun dari sini aku mulai bangkit dari keterpurukan ini dan mulai menerima sebuah kenyataan yang ada. Tapi sepertinya aku masih harus tetap menjauh darinya dan berusaha untuk tidak hadir dalam kehidupannya berharap dia akan menyadari suatu saat nanti bahwa sebenarnya aku sangat mencintainya.

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.